Warisan Tahtiyah Kiai Ma’ruf Amin Terancam? Buya Gusrizal Gazahar Ingatkan Anak Bangsa untuk Menjaga Fondasi Regulasi Ekonomi Syariah

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Sorotan tajam sekaligus penuh harap disampaikan oleh Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, di tengah gelaran Bahtsul Fikrah Ekonomi Islam dan Workshop Literasi Islam yang berlangsung di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Kamis (9/7/2026). Dalam orasi ilmiahnya, Buya Gusrizal tidak hanya mengapresiasi perjuangan Kiai Ma’ruf Amin, tetapi juga memberikan peringatan keras tentang ancaman terhadap fondasi bawah (al-binyah al-tahtiyyah) ekonomi syariah yang telah susah payah dibangun.

Dengan gaya bahasa yang lugas dan penuh analogi khas ulama Minangkabau, Buya Gusrizal mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa Kiai Ma’ruf Amin telah menghabiskan energi besar untuk membangun infrastruktur regulasi ekonomi syariah di Indonesia. Bangunan ini bukanlah wacana di atas kertas, melainkan aturan-aturan formal yang telah diakui dan dilembagakan oleh negara.

“Ketika kita bicara tentang Al-Binyah al-Tahtiyyah, kita sedang berbicara tentang fondasi regulasi. Ini adalah produk nyata yang sudah diakui oleh pemerintah. Mulai dari UU Perbankan Syariah, fatwa-fatwa DSN-MUI yang menjadi rujukan OJK, hingga kebijakan keuangan negara yang mulai membuka ruang bagi instrumen syariah,” ujar Buya Gusrizal.

Ia mencontohkan bagaimana penerbitan sukuk negara, penguatan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), serta pengakuan terhadap Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman MUI adalah bagian dari wujud tahtiyah yang kini menjadi benteng pertahanan ekonomi umat. “Itu semua adalah hasil kerja keras beliau dalam pertarungan regulasi yang tak kunjung tuntas. Ini amanah perjuangan yang tak boleh hilang dari pergerakan lembaga dan umat,” tegasnya.

Jangan Tangisi Diri, Tapi Waspadai Ancaman

Di tengah apresiasi itu, Buya Gusrizal mengingatkan satu hal yang menurutnya sangat krusial: kecenderungan umat untuk menangisi diri sendiri alih-alih bersyukur dan menjaga apa yang telah ada.

“Nah, kenapa saya katakan, ketika kita bicara beliau, sebenarnya kita senang menangisi diri kita. Padahal kalau beliau sudah berbuat ini, sudah membangun ini, sudah mengorbankan segalanya, kenapa kita masih sibuk meratap?” ucapnya dengan nada menggugah.

Buya kemudian melontarkan peringatan yang mengagetkan hadirin: “Kemarin sudah ada kritikan. Kita sudah berwhudu’, jangan sampai balik tayammun kembali. Karena ini berarti ada ancaman terhadap binyah tahtiyah yang sudah beliau dorong maju dahulu,” tegas Buya.

Di sinilah puncak pesan Buya Gusrizal. Dengan tegas ia melempar pertanyaan eksistensial kepada seluruh elemen umat, terutama generasi muda dan para pegiat ekonomi syariah:

“Siap tidak generasi yang akan datang untuk membawa dan menerima tongkat estafet, menjaga ini? Sebab kalau tidak, maka kebijakan-kebijakan yang lahir nanti akan tegak tidak di atas dunia tahtiyah yang sudah beliau bangun.”

Buya memberi contoh konkret tentang kehadiran lembaga keuangan syariah yang terus beliau dorong. Bayangkan, kata Buya Gusrizal, jika tidak ada pengawalan dan pembelaan terhadap regulasi yang sudah ada, maka akan muncul kebijakan-kebijakan baru yang justru menggerus fondasi syariah.

“Kita tahu bahwa misalnya—saya bercontoh saja—kehadiran bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Itu adalah hasil perjuangan panjang. Dan sekarang, bagaimana jika muncul wacana peleburan atau perlakuan diskriminatif? Ini yang harus kita waspadai,” imbuhnya.

Warisan yang Tak Tuntas, Amanah yang Berat

Menutup orasinya, Buya Gusrizal kembali mengingatkan bahwa perjuangan ekonomi Islam adalah perjuangan yang tidak pernah tuntas. Kiai Ma’ruf Amin telah menempatkan diri sebagai mafakkar (pemikir) dan muharrik (penggerak) sekaligus, yang telah meninggalkan ranah jihad iqtishadi di tengah-tengah medan dakwah.

“Tak ada perjuangan yang tuntas. Tinggallah generasi pelanjut dengan amanah berat. Maka, kalau belum berbaju baru, tambal sulamlah baju yang lama. Bila tak membangun yang baru, tegak kokohlah untuk menjaga!” pesan Buya mengutip kearifan Kiai Ma’ruf Amin, diiringi dengan kaidah ushul yang ia pegang teguh: المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح (Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Forum yang digelar sebagai bagian dari pra-kongres ini menjadi momentum penting bagi para penulis dan konten kreator Muslim untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga aktif menjaga dan menyebarluaskan kesadaran tentang pentingnya mempertahankan infrastruktur regulasi ekonomi syariah yang telah susah payah dibangun para ulama dan negarawan seperti Kiai Ma’ruf Amin.

“Jangan biarkan bangunan yang sudah kokoh ini runtuh hanya karena kita lengah. Mari kita jaga bersama,” pungkas Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengakhiri sesi yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para peserta.

Related posts