MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Gelombang kontroversi terkait narasi keagamaan di ruang publik kembali memanas. Setelah perbincangan seputar buku “Islam Ala Prabowo” dan klaim garis keturunan Wali Songo yang disematkan kepada Presiden Prabowo Subianto, kini publik dihebohkan dengan kemunculan buku baru bertajuk “Memburu Muhammad”.
Menanggapi rentetan fenomena ini, ulama kharismatik asal Ranah Minang yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, melontarkan peringatan keras. Buya menilai ada mata rantai terselubung yang sedang dimainkan untuk mengaburkan komitmen berbangsa dan melemahkan marwah umat Islam.
Mata Rantai Skenario Besar di Balik Label Keislaman
Menurut Buya Gusrizal, kemunculan berbagai label dan narasi keislaman—mulai dari istilah berbau “nusantara”, kemunculan buku “memburu muhammad”, hingga hiruk-pikuk perdebatan nasab—bukanlah sekadar kebetulan. Semua itu merupakan rangkaian peristiwa yang saling terhubung erat.
“Semenjak lahirnya label-label keislaman dengan kata ‘nusantara’ dan terakhir muncul pula buku ‘memburu muhammad’ kemudian lahir sorak sorai tentang nasab dan sebagainya, bukankah ini rentetan bagaikan mata rantai yang tersambung?” ungkap Buya Gusrizal.
Ia mempertanyakan pihak yang memegang ujung dan pangkal dari jalinan rantai tersebut, serta siapa target yang hendak dibelenggu di dalamnya. Buya Gusrizal mengingatkan para ulama dan tokoh umat agar tidak lengah terhadap potensi skenario besar yang tengah dipersiapkan untuk menggerus kekuatan inti bangsa.
Ancaman Pengosongan Nilai Spiritual dalam Bernegara
Buya Gusrizal menyoroti bahwa kelengahan umat membuka celah bagi pihak-pihak tertentu untuk menerobos batas kehormatan agama. Akibatnya, muncul “keliaran khayalan” yang berlindung di balik kedok kebebasan berpikir maupun baju ilmiah.
Poin-poin krusial yang disoroti meliputi:
Pengabaian Komitmen Awal: Negara dinilai mulai abai terhadap komitmen berbangsa dan kewajiban melindungi ajaran agama secara murni.
Penyalahgunaan Agama: Penguasa diingatkan agar tidak ikut memperalat ajaran agama demi motif-motif tertentu yang terlihat maupun terselubung.
Pengosongan Makna Konstitusi: Skenario ini dikhawatirkan bertujuan memberangus kekuatan inti bangsa yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya frasa keramat “berkat rahmat Allah SWT” yang hendak dikosongkan maknanya.
Desak Investigasi Aktor Intelektual dan Imbauan Ketenangan Umat
Melihat situasi yang semakin meresahkan, Buya Gusrizal secara tegas meminta agar aktor intelektual di balik penulisan buku ‘Memburu Muhammad’ segera diinvestigasi. Buya menduga ada unsur penistaan agama di dalamnya yang sengaja dihembuskan untuk memecah belah keharmonisan masyarakat.
Di akhir pandangannya, Buya Gusrizal mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap waspada, tidak mudah terpancing emosi, dan senantiasa kembali pada komitmen awal bernegara agar bangsa ini terhindar dari murka Ilahi (la qadarallahu).
Wallâhu a’lam.







