Wow! Tanda-Tanda Runtuhnya Rezim Zionis Israel Mulai Terlihat, Kok Bisa?

  • Whatsapp
tentara zionis israel
Tentara Zionis Israel (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNWS, INTERNASIONAL — Bertepatan dengan kekejaman rezim Zionis Israel di Yerusalem, Palestina, diskriminasi rasial ekstremis Yahudi terhadap orang Arab Palestina di wilayah pendudukan Israel telah mengkonfirmasi adanya praktik apartheid.

Media internasional dan kantor berita Israel bahkan mengakui adanya serangan-serangan kekerasan oleh ekstremis Yahudi terhadap orang Arab di kota Lad, Acre, dan Haifa serta pecahnya kerusuhan di jalanan pendudukan melawan rasisme.

Read More

Bentrokan antara pendukung sayap kanan Israel dan minoritas Arab di Wilayah Pendudukan Palestina mendorong pemimpin Israell Reuven Rivlin untuk memperingatkan bahaya “perang saudara”.

Menurut polisi Israel, selain insiden kekerasan di beberapa kota di Lad, Acre dan Haifa, insiden rasis juga ini terjadi di dekat Tel Aviv.

Dalam gambar yang disiarkan di salah satu saluran televisi resmi Israel, sekelompok pendukung sayap kanan menyerang seorang pria Arab.

Dalam gambar ini, puluhan pendukung sayap kanan Yahudi memaksa pria itu keluar dari mobil dan memukulinya hingga pingsan. Pejabat rumah sakit Tel Aviv, tanpa mengidentifikasi pria itu, mengatakan dia “terluka parah tetapi dalam kondisi stabil.”

Berita Times of Israel mengakui bahwa rezim Israel telaah menyaksikan meledaknya kerusuhan dalam negeri terburuk dalam beberapa tahun terakhir antara orang Yahudi dan Arab.

Menurut media, orang Yahudi sayap kanan turun ke jalan melawan minoritas Arab, memukuli orang Arab, membakar rumah, membobol toko dan menembak seperti orang gila. Netanyahu mengatakan pemerintah akan mengirim pasukan ke jalan.

Pemandangan paling menakutkan dari ketidakpercayaan sayap kanan Yahudi kepada para pemimpin Israel adalah video di mana ratusan ekstremis Yahudi di daerah Betlehem menghancurkan properti Arab dan menyerang seorang pengemudi Arab di dalam mobilnya.

Mereka menarik sopir itu keluar dan memukulinya dengan brutal. Akibat kekerasan tersebut, orang-orang Arab bereaksi. Sinagog dan toko-toko Yahudi dibakar dan seorang Arab ditembak mati.

Menurut laporan media, lebih dari 400 orang telah ditangkap sejauh ini, dan keadaan darurat telah diumumkan di kota Lad, tempat tinggal orang Arab dan Yahudi.

Tanpa mengutuk kekerasan ekstremis Yahudi, pejabat Israel meminta para pemimpin agama dan sosial Arab untuk bersuara dan mendesak orang Arab hidup berdampingan dengan Yahudi.

Tentu saja, Israel mengakui standar hidup orang Arab yang tinggal di wilayah pendudukan belum mencapai tingkat orang Yahudi.

Minoritas orang Arab Israel secara ras dan budaya adalah Palestina, dan merupakan warga negara Israel. Rezim pendudukan di Yerusalem memiliki populasi sekitar sembilan juta, di mana sekitar seperlima -hampir dua juta- adalah keturunan Arab.

Faktanya, mereka adalah orang Palestina yang tidak meninggalkan wilayah pendudukan setelah terbentuknya rezim Israel palsu pada tahun 1948 dan menjadi warga negara rezim tersebut.

Populasi ini menyebut dirinya orang Israel Palestina atau hanya orang Palestina. Orang Arab Israel sebagian besar Muslim dan telah didiskriminasi selama beberapa dekade.

Beberapa organisasi hak asasi manusia juga mengakui diskriminasi terhadap kelompok warga ini. Amnesty International percaya bahwa rezim Israel telah melakukan “diskriminasi institusional” terhadap warga Palestina yang tinggal di negara tersebut.

Menurut laporan yang dirilis Human Rights Watch pada April 2021, otoritas Israel telah melakukan apartheid terhadap warga Palestina di dalam Israel. Tindakan Israel di Wilayah Pendudukan di Tepi Barat dan Gaza merupakan contoh kejahatan terhadap kemanusiaan.

Warga Arab Israel mengatakan pemerintah terlibat dalam perampasan tanah mereka dan menuduh pemerintah berulang kali mendiskriminasi mereka dalam mengalokasikan dana negara.

Di antara diskriminasi tersebut: undang-undang kewarganegaraan memberi ruang orang Yahudi hak untuk mendapatkan kewarganegaraan dan paspor, tetapi orang-orang Palestina yang telah beremigrasi atau dideportasi tidak memiliki hak ini jika mereka kembali.

Pada 2018, parlemen Israel mengesahkan Undang-Undang Negara-Bangsa yang kontroversial. Di bawah hukum ini, bahasa Arab kehilangan statusnya sebagai bahasa resmi di samping bahasa Ibrani, dan dinyatakan bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri adalah “eksklusif untuk orang Yahudi”.

Ayman Odeh, seorang anggota parlemen Arab dari rezim pendudukan, mengatakan parlemen telah secara efektif mengesahkan undang-undang tentang “supremasi Yahudi” dan bahwa orang Arab selanjutnya akan menjadi “warga negara kelas dua”.

Saat ini, media Israel menyebut “perang jalanan Yahudi-Arab” sebagai krisis yang lebih berbahaya daripada perang negara mereka dengan organisasi Palestina.

Media ini secara luas menggunakan kata “lynch” untuk membunuh orang Arab, yang berarti “eksekusi di depan umum dan pemukulan yang disengaja dengan maksud untuk membunuh”.

Setelah lama terdiam, Benjamin Netanyahu menyamakan rencana serangan pemuda Yahudi terhadap orang Arab dengan racun berbahaya bagi koeksistensi orang Yahudi dan Arab.

Menteri Pertahanan Benny Gantts mengatakan di media sosial ada bahaya pembalasan. Ia menegaskan bahaya serangan jalanan terhadap masyarakat Israel ini jauh lebih besar daripada serangan roket Hamas di Israel.

Dalam sejarah rezim Zionis, tidak seperti saat ini yang menunjukkan tanda-tanda hampir runtuh. Kekejaman Israel terhadap warga Palestina yang tak berdaya kini dijawab dengan ribuan roket dan mortir, kubah besi (iron dome) telah ditembus roket-roket Hamas, dan Tel Aviv mendapat ancaman serius dari Palestina.

Kelanjutan Intifadah, munculnya diskriminasi rasial dan letusan oleh ikatan Arab yang didiskriminasi sejak lama, jika didukung oleh negara-negara Muslim global dan organisasi pro-hak asasi manusia, serta semua hal terkait kemampuan Palestina, pasti akan efektif untuk meruntuhkan rezim pendudukan Israel saat ini. (Rep)

Related posts