Zaman Prasejarah Masyarakat Minangkabau Seperti Apa?

  • Whatsapp
rumah gadang
Rumah Gadang (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Irfan Rusli

Pra-sejarah ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia serta peradabannya sejak zaman permulaan adanya manusia sampai kepada zaman sejarah. Sejarah mulai dengan adanya keterangan-keterangan tertulis Sampai sekarang peninggalan-peninggalan pra-sejarah di Minangkabau sangat sedikit. Mudah-mudahan pada waktu yang akan datang penyelidikan dan penelitian pra sejarah dan kebudayaan Minangkabau kuno dapat diungkapkan dan menambah wawasan untuk kita semua sebagai bangsa Minangkabau yang berperadaban sejak dahulunya dan kedepannya agar para anak kemenakan kita nantinya tak buta akan sejarah daripada bangsa nya sendiri Di Sumatera Tengah umumnya dan Minangkabau khususnya

Read More

Zaman Paleo-lithicum (= batu tua). Di Sumatera Tengah umumnya dan Minangkabau khususnya  penemuan alat-alat paleolithikum belum ada. Mengingat letak geograis daerah Minangkabau, kemungkinan peningglan-peninggalan paleoilithikum tentu juga ada di Minangkabau. Penemuan-penemuan belum dilakukan dan apbila dalam waktu mendatang, penyelidikan dan penggalian alat-alat paleolithikum lebih digiatkan, hasilnya tentu akan membuka tabir pra sejarah Minangkabau.

Zaman Neo-lithikum (=batu baru). Hasil kebudayaan microlithikum, batu-kecil-kecil, didapat dalam beberapa dua di Jambi Hulu dan disekitar danau Kerinci. Barang-barang itu dibuat dari batu kaca gunung berapi (obisidian atau kecubung) dan digunakan sebagai ujung panah, pisau dan alat-alat lain. Barang-barang untuk membuat alat-alat itu didatangkan dari daerah Merangin, Jambi Hulu ke Kerinci.Disamping peninggalan-peninggalan itu didaerah disekitar danau Kerinci juga ditemukan pecahan-pecahan periuk dari tembikar

Manusia Pertama di Minangkabau

Alat-alat neolithikum sebagai artefak-artefak, yang ditemukan didaerah Kerinci dan Jambi Hulu, tidak dibarengi dengan tulang belulang (fosil) manusia. Karena kebudayaan adalah hasil ciptaan manusia, pendukung hasil hasil kebudayaan neo-lithikum didaerah-daerah tersebut pasti manusia yang jenisnya belum dapat dipastikan hingga sekarang.

Kemungkinan besar pendukung kebudayaan neo-lithikum di Minangkabau adalah Austronesia (Melayu-Polinesia) atau Melayu-Tua, penduduk asli Minangkabau. Mereka datang ke Minangkabau dalam ikatan keluarga secara bergelombang dan dalam jangka waktu yang sangat lama, dengan mempergunakan perahu bercadik hasil kebudayaan khas bangsa Austronesia (±2000 tahun sebelum Masehi). Merekalah pendukung kebudayaan neolithikum, yang ciri utamanya ialah pertanian dan peternakan yang sederhana.

Pekerjaan kebanyakan dikerjakan oleh kaum wanita. Wanita ialah lambang kesuburan dan produksi dan adalah unsur masyarakat yang tetap tingal dirumah (kampung). Karena itu kaum wanita memegang peranan penting dalam ikatan kekeluargaan dari kampung.Mungkin sebabnya hanya di Minangkabau adat matrilineal tetap bertahan sampai sekarang, sedangkan nenek moyang bangsa Indonesia sama-sama bangsa Austronesia? Mungkin sekali adat matrilineal lebih dalam tertanam dan karena itu lebih kuat dapat bertahan di Minangkabau daripada daerah-daerah lain nya.

Zaman Perunggu

Peninggalan pra-sejarah dari zaman perunggu didapat di daerah danau Kerinci dan Bangkinang. Di tepi danau Kerinci ditemukan bejana perunggu yang bentuknya seperti periuk besar. Bejana serupa itu dijumpai pula didaerah Asia Tenggara. Didaerah danau Kerinci juga ditemukan bagian dari selubung lengan perunggu yang tidak digunakan sebagai perisai dalam perang. Bejana perunggu yang didapatkan didaerah Kerinci itu mempunyai motif hiasan spiral, yang umum dijumpai di Asia Tenggara pada waktu itu. Kenyataan ini membuktikan adanya hubungan kebudayaan antara daratan

Asia Tenggara dengan Kerinci khususnya, dengan Sumatera dan Indonesia umumnya. Hasil kebudayaan perunggu yang terdapat didaerah danau Kerinci itu berasal ± 300 tahun s.M.Didaerah Bangkinang juga ditemukan peninggalan kebudayaan perunggu berupa arca-arca kecil dan beberapa jenis barang-barang lain, yang kegunaanya hingga dewasa ini belum dapat diketahui.

Pendukung Kebudayaan Perunggu

Pembawa kebudayaan neolithikum ke Indonesia ialah bangsa bangsa Austronesia-tua (Melayu-Polinesia) atau Melayu Tua. Rumpun bangsa Austronesia pendukung kebudayaan perunggu ialah bangsa Austronesiabaru (atau Melayu Muda). Mereka datang juga dengan cara bergelombang, dalam jangka waktu yang lama, dengan membawa keluarga dan kebudayaan mereka.

Percampuran bangsa Melayu Tua dengan Melayu Muda itu menurunkan nenek moyang orang Minangkabau.Sungguhpun peninggalan-peninggalan pra-sejarah di Minangkabau dari zaman perunggu baru didapatkan didaerah sekitar danau Kerinci dan Bangkinang, hal itu bukanlah berarti, bahwa kebudayaan perunggu di Minangkabau hanya terbatas didaerah yang dua itu saja.

Berdasarkan hipotesis, Minangkabau telah didiami oleh manusia pada zaman neolithikum (± 2000 tahun s.M), tidaklah gegabah kiranya kesimpulan, bahwa pada tahun 300 s.M, daerah Minangkabau didiani oleh kebudayaan perunggu. Hal itu dibuktikan oleh penemuan-penemuan didaerah Bangkinang dan danau Kerinci Yang berasal dari 300 tahun sebelum masehi

Kebudayaan Megalithikum (=batu besar). Kebudayaan megalithikum menghasilkan bangunan dari batu-batu besar, yang tidak dikerjakan secara halus, tetapi hanya diratakan sekedar untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. Kebudayaan ini berakar pada zaman neolithikum, tetapi baru berkembang pada zaman logam. Kebudayaan megalithikum di Indonesia samapai sekarang masih terdapat di pulau Nias, Sumba dan Flores.

Peninggalan hasil kebudayaan megalithikum di Minangkabau berupa batu bergambar dan batu bersurat terutama didapati didaerah Batusangkar, seperti Kubu Rajo, Limo Kaum, Suroaso dan Kumani. Karena daerah ini pernah menjadi pusat kerajaan Minangkabau, diperkuat pula oleh pernyataan Jawatan Purbakala Sumatera Barat, orang banyak beranggapan bahwa batu-batu itu adalah peninggalan Adityawarman, raja Pagaruyung. Pada tempatnyalah kalau kekeliruan yang telah berurat berakar selama beberap puluh tahun itu, dibetulkan dengan ini.

Peninggalan kebudayaan Megalithikum di daerah Batusangkar itu jauh lebih tua umurnya daripada kerajaan Minangkabau, yang baru menjelang abad ke-16 menjadi Pagaruyung tempat kediaman raja. Karena Adityawarman memerintah pada pertengahan abad ke-14, tidak pernah menjadikan Pagaruyung ataupun tempat lain didaerah Batusangkar sebagai pusat kerajaan yang dipimpinnya tidaklah mungkin kiranya megalit-megalith disekitar Batusangkar itu peninggalan Adityawarman, ”raja Pagaruyung”.

Peninggalan-peninggalan kebudayaan megalithikum selanjutnya dijumpai di Pariangan-Padang Panjang, nagari kembar dilereng G. Merapi, disekitar Danau Singkarak dan di Muara Takus, sebagai bangunan yang dianggap keramat, dengan masuk dan berkembang agama serta kebudayaan Budha didaerah Pesisir Timur Sumatera, dijadikan stupa,

Kepercayaan Nenek-Moyang

Kepercayaan bersumber pada pemujaan arwah nenek moyang yang bertempat kediaman ditempat-tempat yang dianggap keramat seperti:

Gunung-gunung

Tambo menyebutkan, bahwa nenek-moyang orang Minangkabau berasal dari gunung Merapi, seperti bunyi pantun:

” Dari mano asal terbit palito

Dari tanglung nan berapi

Dari mano asal nenek moyang kito

Dari lereng gunung Merapi”

Dikaki Gunung Merapi sebelah Selatan terdapat nagari kembar Pariangan-Padang Panjang, daerah asal nenek moyang orang Minangkabau menurut tambo lama. Gunung Merapi sebagai daerah asal orang Minangkabau, menjadi ”gunung bertuah”, keramat.

Makam-makam

Peninggalan kebudayaan megalithikum yang berhubungan erat dengan pemujaan arwah nenek moyang ialah makam, tempat nenekmoyang dikebumikan dan diziarahi pada waktu-waktu tertentu oleh anak cucu dan kaum kerabat.Dengan masuk dan berkembang pengaruh kebudayaan dari India, ziarah kemakam semakin ramai dilakukan,sesudah meluas ajaran Islam di Minangkabau, ziarah ke makam masih lazim diadakan, walaupun dilarang agama. Kebiasaan turun temurun lebih kuat daripada ancaman hukuman agama, yang menganggapkebiasaankebiasaan dari zaman jahiliyah sebagai dosa. Di samping arwah nenek moyang dan makam, dianggap ”bertuah” pula kerbau.

Kerbau di Minangkabau adalah binatang terhormat dan dijadikan lambang Minangkabau. Kerbau telah dijinakan sejak zaman neolithikum dan berhubungan erat dengan kebudayaan pra-sejarah. Upacara adat menegakkan penghulu disertai menyembelih kerbau. Kerbau mempunyai fungsi sosial untuk mengerjakan sawah dan fungsi religius, hewan yang disembelih pada upacara-upacara tertentu. Tanduk kerbau mempunyai unsur-unsur magis dan hampir ditiap-tiap rumah Minangkabau ditemui tanduk kerbau sebagai hiasan.Pemujaan gunung adalah unsur dari kebudayaan magalithikum . |

Kesimpulan Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

1. Sumber-sumber pra sejarah Minangkabau masih sangat sedikit dan terbatas tempat diketemukannya. (Sekitar Danau Kerinci, DanauSingkarak, daerah Bangkinang dan Batusangkar).

2. Minangkabau telah didiami oleh manusia pada zaman neolithikum (± 2000 s.M), yang serumpun dengan bangsa Austronesia (Melayu Tua) dan menganut adat matrilineal.

3. Pada zaman perunggu (± 300 s.M) datang bangsa baru ke Minangkabau, yang serumpun dengan bangsa Austronesia yaitu bangsa Melayu Muda.

4. Percampuran-percampuran bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda menurunkan nenek moyang orang Minangkabau, pendukung kebudayaan perunggu dan megalithikum.

5. Kebudayaan Megalithikum meninggalkan bekas-bekas di Minangkabau yang hingga dewasa ini masih jelas dapat dilihat pada unsur-unsur kepercayaan rakyat (Pemujaan gunung, menziarahi makam, percaya kepada ”tuah” barang-barang pusaka batu-batu besar dan orang-orang besar dan hean tertentu.

 /* Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Andalas dan aktif berkegiatan di Komunitas Lapak Baca Kota Padang

Related posts