MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL — Dua puluh tahun lalu, jika ingin tahu kabar tentang program sosial dari pemerintah, warga harus berjalan kaki ke balai desa, mengintip papan pengumuman kelurahan, atau menunggu siaran di televisi dan radio. Pesan yang disampaikan pun mengalir satu arah: tidak ada tempat untuk bertanya, tidak ada ruang untuk memberi masukan, apalagi memverifikasi apakah program itu benar-benar berjalan atau hanya mimpi di atas kertas.
Hari ini, semuanya berubah total. Setiap program pemerintah bisa dinilai oleh jutaan pasang mata, langsung, terbuka, dan tanpa diundang.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketika menu kurang bergizi, kritik membanjir dalam hitungan menit. Ketika distribusi terlambat, kabarnya menyebar lebih cepat dari surat resmi yang sempat dibuat. Tapi yang luar biasa, di balik semua itu, ada gelombang besar kebahagiaan yang tak terbendung. Video singkat anak-anak sekolah yang menyantap makan siang dengan lahap, mata berbinar, dan senyum mengembang—itu semua menyebar lebih kencang daripada siaran pers mana pun.
MBG tidak lagi sekadar program. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hidup di layar ponsel, di meja makan keluarga, dalam percakapan hangat antar warga. Inilah pergeseran besar: komunikasi pemerintah tak lagi soal kontrol pesan, melainkan cerita yang lahir dari pengalaman nyata.
Riset terbaru melalui analisis percakapan di X, TikTok, dan Instagram (Januari–April 2026) menunjukkan fakta yang menakjubkan: sentimen positif terhadap MBG mencapai lebih dari 81 persen! Mayoritas warganet tak hanya senang, tapi juga optimis menyambut masa depan anak Indonesia. Dan yang paling menarik—kebahagiaan itu tidak datang dari akun resmi pemerintah, melainkan dari warga biasa yang membagikan momen sederhana: anak mereka menikmati makanan bergizi.
Angka ini diperkuat survei nasional. Indikator Politik Indonesia mencatat 72,8 persen responden puas, dengan Gen Z memuncak di 80,7 persen. Poltracking Indonesia bahkan menyebut 74,1 persen publik menilai MBG berhasil dan menjadi kontributor terbesar kepuasan terhadap kinerja pemerintah.
Mengapa? Karena publik hari ini tak cukup diberi data stunting atau tabel distribusi. Mereka tersentuh oleh cerita: seorang anak yang menyantap nasi, sayur, dan lauk dengan lahap. Itulah kekuatan Narrative Paradigm—manusia lebih mudah tergerak oleh kisah nyata ketimbang argumen logis belaka.
Yang juga menarik, penyebar informasi paling berpengaruh bukanlah pejabat atau institusi, melainkan opinion leader dari kalangan warga biasa. Orang lebih percaya pada tetangga, pada sesama orang tua, pada video yang terasa nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.
Tapi jujur saja, tidak semua mulus. Ombudsman RI mencatat delapan masalah utama, mulai dari kesenjangan target-realisasi, kasus keracunan, hingga transparansi mitra pelaksana. Dari target 82,9 juta penerima, baru 22,7 juta yang terlayani per September 2025. Transparency International Indonesia pun menyoroti potensi konflik kepentingan dalam penunjukan yayasan mitra.
Namun, inilah bagian yang menggembirakan: mekanisme pengawasan publik justru bekerja luar biasa lewat ruang digital. Kasus keracunan mendapat perhatian massal karena warga langsung melapor, dan pemerintah merespons dengan pengetatan standar. Per Januari 2026, sudah 4.535 SPPG mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, dari total 19.188. Tren perbaikan terjadi bukan karena spanduk atau sosialisasi, melainkan karena tekanan pengawasan warga digital.
—
Yang lebih penting lagi, pemerintah kini belajar untuk mendengar, bukan sekadar menyiarkan. Riset menunjukkan bahwa percakapan tentang tata kelola dan anggaran masih relatif sepi dibandingkan narasi sosial. Padahal anggaran MBG melonjak dari Rp71 triliun menjadi Rp335 triliun pada APBN 2026—salah satu belanja sosial terbesar dalam sejarah demokrasi Indonesia. Besarnya angka ini menuntut pertanggungjawaban publik yang setara.
James Grunig, pakar hubungan masyarakat, mengingatkan bahwa humas pemerintah yang efektif bukanlah sekadar pandai menyebarkan pesan, tapi juga mampu mendengar dan merespons keresahan publik secara nyata. Kabar baiknya, pemerintah mulai menunjukkan telinga yang lebih terbuka.
—
MBG telah mengubah cara kita berkomunikasi: dari pengumuman satu arah, menjadi percakapan raksasa yang dievaluasi setiap hari oleh jutaan warga. Sentimen positif 81 persen dan kepuasan 72,8 persen adalah modal awal yang luar biasa. Tapi seperti diingatkan para pengawas, modal ini hanya akan bertahan jika transparansi, kualitas layanan, dan keseriusan merespons kritik terus dijaga—bukan hanya di ruang digital, tapi terutama di lapangan.
Karena komunikasi publik yang berubah baru setengah perjalanan, jika pelayanan nyata belum mengikutinya. Tapi untuk saat ini, melihat anak-anak tersenyum dan publik begitu antusias, rasanya kita sedang berada di jalur yang tepat. Selamat, Indonesia! Makan Bergizi Gratis, dari rakyat untuk rakyat, dengan cinta yang viral di mana-mana!
(Penulis: Marhendi Wijaya, peneliti komunikasi digital dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur)






