BUYA GUSRIZAL ANGKAT BICARA! Metode Rukyat Vs Hisab Resmi Dirukunkan, Begini Cara Lihat Hilal Versi Buya Datuak!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Jelang Ramadhan, umat Islam di Indonesia sering dihadapkan pada satu momen yang selalu dinanti sekaligus mendebatkan: sidang isbat versus Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Perbedaan awal puasa seolah sudah menjadi “bumbu” tahunan yang entah kenapa tak pernah lekang oleh waktu. Namun, kali ini prediksi perbedaan tersebut mencapai puncaknya yang paling ekstrem.

Jika merujuk pada perhitungan astronomi terkini untuk tahun 1447 Hijriah, skenario paling “ngeri” mulai terbayang. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Kalender Hijrah Global Tunggal yang menjadi pedoman mereka, dengan tegas mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026.

Read More

Di sisi lain, Kementerian Agama RI yang setia pada metode rukyatul hilal dan lewat sidang itsbat rukyatul hilal dengan titik pantauan di seluruh penjuru Indonesia, berdasarkan perhitungan, telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

Selisih satu hari! Ya, Anda tidak salah baca. Skenario ini tentu membuat publik bertanya-tanya, akankah Ramadhan kali ini menjadi yang paling “unik” dalam sejarah harmoni umat beragama di Indonesia? Di tengah perbedaan jadwal ini, tiba-tiba muncul sebuah suara penyejuk dari seorang ulama kharismatik.

Seorang Buya dengan Gagasan Bernas: “Perpaduan”

Di tengah hiruk-pikuk perbedaan yang terus jadi bahan obrolan di masjid hingga Lapau, Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, sosok yang dihormati, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, angkat bicara. Namun, ia tidak datang dengan membawa pedang tajam untuk membela salah satu kubu.

Buya Gusrizal malah menawarkan sesuatu yang tak terpikirkan oleh banyak orang: sebuah konsep jalan tengah yang visioner. Buya dengan tegas memilih jalur itsbat awal bulan qamariyyah dengan metode “perpaduan rukyah dan hisab.”

“Jangan lagi kita terkotak-kotak,” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan sang Buya. Baginya, pertikaian antara bermain di ranah perhitungan matematis (hisab) dan pengamatan visual (rukyah) adalah debat kuno yang seharusnya bisa didamaikan oleh sains dan syariat sekaligus.

Konsep “Imkanur Rukyah” dan Masyarakat Tanpa Batas

Lalu, seperti apa konsep jenius yang ditawarkan oleh Buya Gusrizal ini? Ia memperkenalkan pembuktian awal bulan yang tidak lagi sempit hanya terbatas pada terlihat atau tidaknya hilal di Pantai Pelabuhan Ratu atau Aceh semata.

Kuncinya adalah “Imkanur Rukyah” atau teori kemungkinan hilal dapat dilihat. Namun, kehebohan terjadi ketika Buya mengaitkannya dengan konsep “Ittihadul Mathali” (kesatupaduan wilayah ufuk). Artinya, umat Islam di satu kawasan yang terhubung secara geografis seharusnya memiliki standar yang sama.

Dan inilah poin revolusionernya: konsep tersebut diikat oleh satu parameter ilmiah yang tak terbantahkan, yaitu “Wujudul Hilal Fauqal Ufuq” atau keberadaan hilal di atas ufuk. Jika hilal secara astronomis sudah berada di atas ufuk pada saat Maghrib, maka secara teoretis ia mungkin untuk dirukyah, meskipun secara kasat mata mungkin terhadap.

Dua Wilayah Ajaib di Dunia

Dari sinilah gagasan Buya melompat lebih jauh, bahkan melampaui batas-batas negara. Menurutnya, jika kita mengadopsi metode perpaduan ini, maka peta dunia tidak perlu dipilah menjadi puluhan zona waktu yang membingungkan.

Dunia ini hanya perlu dibagi menjadi dua wilayah ajaib!

1. Wilayah Wujudul Hilal: Wilayah di mana saat matahari terbenam, hilal sudah berada di atas ufuk. Di wilayah inilah Ramadhan atau hari raya dimulai keesokan harinya.
2. Wilayah Tidak Wujudul Hilal: Wilayah di mana saat Maghrib tiba, bulan masih berada di bawah ufuk, sehingga esok harinya masih merupakan bulan yang berjalan.

Dengan konsep ini, umat Islam di Australia dan Amerika tidak perlu lagi bingung apakah harus ikut Saudi atau tidak. Mereka cukup melihat apakah di kawasan “Ittihadul Mathali’” mereka, hilal sudah “wujud” atau belum.

Akankah Ini Menjadi Solusi Abadi?

Gagasan Buya Dr. Gusrizal Gazahar ini bagaikan oase di tengah gurun perbedaan. Ia mencoba merajut kembali benang kusut antara hisab dan rukyat dengan alat tenun modern bernama astronomi dan fiqih kontemporer.

Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah konsep “perpaduan” yang membagi dunia hanya menjadi dua wilayah ini bisa diterima oleh semua pihak? Atau akankah ia justru menjadi teori indah yang hanya tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran makalah?

Yang jelas, di tengah selisih satu hari yang mencengangkan untuk Ramadhan 1447 H ini, suara seperti Buya Gusrizal menjadi mercusuar yang mengingatkan kita bahwa di balik perbedaan angka, ada ruang untuk persatuan. Ruang di mana langit, bulan, dan matahari berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa ilmu dan bahasa iman.

Related posts