Dari Kitab Kuning ke Coding! Doktor Perempuan Ini Bikin Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang Jadi Pusat Teknologi

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG – Bayangkan sebuah pesantren di mana santri tidak hanya hafal kitab kuning, tapi juga mahir membuat konten viral di media sosial. Di mana perpustakaan kuno bertemu cloud storage. Di mana dzikir pagi berdampingan dengan kelas pemrograman sore hari.

Bukan mimpi. Ini nyata, dan sedang terjadi di jantung Kota Serambi Mekkah.

Sosok di balik revolusi ini adalah Dr. Derliana, MA – seorang Doktor perempuan tangguh yang memimpin Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Dengan visi yang berani dan eksekusi yang cermat, ia tengah membuktikan bahwa pesantren dan teknologi bukan musuh, melainkan pasangan sempurna.

“Banyak yang bertanya, apa tidak khawatir santri terlalu larut dalam dunia digital?” ujar Dr. Derliana di ruang kerjanya yang sederhana namun dipenuhi gadget modern. “Justru sebaliknya. Kalau kita tidak mengajarkan mereka cara menggunakan teknologi dengan benar, siapa lagi?”

Filosofinya sederhana namun kuat: menjaga yang lama yang baik, sambil merangkul yang baru yang lebih baik. Tradisi dan inovasi bukan lawan, tapi saudara kandung.

Ketika Server Bertemu Sanad

Yang membuat Pesantren Kauman berbeda adalah pendekatannya yang tidak setengah-setengah. Mereka tidak sekadar membeli komputer atau membuat akun Instagram, lalu merasa sudah “digital”. Transformasinya menyeluruh, dari dapur hingga ruang kelas.

Ambil contoh platform e-learning mereka. Bukan aplikasi biasa yang hanya berisi PDF buku pelajaran. Di sana, santri bisa mengakses penjelasan detail tentang kitab klasik, menonton video tutorial dari ustadz, bahkan berdiskusi langsung secara virtual ketika ada yang tidak dipahami. Bayangkan WhatsApp Group, tapi versi akademik yang terstruktur dan penuh berkah ilmu.

Perpustakaan mereka? Jangan dibayangkan sebagai ruangan pengap dengan buku berdebu. Ratusan kitab langka yang dahulu hanya bisa diakses dengan izin khusus, kini telah dipindai dan disimpan dalam bentuk digital. Hasilnya? Santri dari Padang Panjang bisa belajar dari kitab yang sama dengan peneliti di Cairo atau Jakarta – secara bersamaan.

“Kami tidak ingin ilmu terkubur karena kertas lapuk,” kata Dr. Derliana. “Ilmu harus mengalir, seperti air yang terus bergerak agar tidak keruh.”

Santri Content Creator? Why Not!

Yang paling mencengangkan mungkin adalah keberanian pesantren ini melatih santri menjadi kreator konten. Ya, Anda tidak salah baca. Di sela-sela mengaji dan salat berjamaah, santri Kauman belajar desain grafis, dasar pemrograman, bahkan jurnalistik digital.

Tujuannya bukan untuk mencetak influencer yang gemar pamer. Melainkan untuk mempersiapkan generasi yang bisa menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang relevan dan menarik di era digital.

“Lihat saja media sosial sekarang. Kalau kita tidak hadir dengan konten positif yang menarik, yang akan mendominasi adalah suara-suara ekstrem atau konten tidak bermutu,” jelasnya dengan nada serius namun penuh harap.

Hasilnya sudah mulai terlihat. Kanal YouTube pesantren rutin mengunggah ceramah yang dikemas apik, podcast diskusi keagamaan yang santai namun mendalam, dan konten-konten edukatif yang berhasil menarik ribuan penonton muda.

Orang Tua Senang, Santri Semangat

Inovasi lain yang tidak kalah penting adalah sistem monitoring digital untuk orang tua. Melalui aplikasi khusus, mereka bisa memantau perkembangan akademik dan spiritual anak-anak mereka secara real-time.

Tidak perlu lagi menunggu laporan bulanan atau khawatir anak tidak berkembang. Semua informasi tersaji transparan: dari nilai ujian, kehadiran di kelas, hingga pencapaian hafalan dan ibadah.

“Ini bukan tentang kontrol yang berlebihan,” jelas Dr. Derliana. “Ini tentang membangun kepercayaan dan kolaborasi antara pesantren dan keluarga dalam mendidik generasi.”

Sistem manajemen data yang terintegrasi juga membuat administrasi pesantren jauh lebih efisien. Tidak ada lagi tumpukan kertas yang membingungkan atau kesalahan pencatatan manual.

Garda Terdepan yang Tetap Berakar

Apa yang membuat Pesantren Kauman layak disebut sebagai pionir bukanlah sekadar adopsi teknologinya. Melainkan kemampuannya menjaga keseimbangan.

Digitalisasi di sana tidak menggantikan hubungan sakral antara guru dan murid. Tidak menghilangkan kehangatan diskusi tatap muka setelah salat subuh. Tidak menghapus tradisi mengaji bersama di bawah remang lampu minyak.

Teknologi hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti. Sebagai jembatan, bukan dinding pemisah.

Pendekatan ini sangat sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang rasional, terbuka pada kemajuan, namun tetap kokoh pada prinsip. Pesantren tidak boleh menjadi museum yang kaku, namun juga tidak boleh kehilangan ruh spiritualitasnya dalam mengejar modernitas.

Tantangan Masih Menghadang

Tentu saja, perjalanan ini tidak mulus. Infrastruktur internet di daerah masih belum sempurna. Sebagian ustadz senior perlu waktu untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Dana untuk pemeliharaan sistem digital juga tidak sedikit.

“Tapi bukankah setiap perubahan besar selalu dimulai dengan tantangan?” tanya Dr. Derliana retoris. “Yang penting kita punya niat tulus dan perencanaan matang. Sisanya, kita serahkan pada Allah.”

Dukungan dari jaringan Muhammadiyah dan antusiasme dari para santri sendiri menjadi bahan bakar yang membuat mimpi ini terus bergerak maju.


Inspirasi untuk Ribuan Pesantren Lainnya

Keberhasilan Pesantren Kauman bukan hanya soal prestise satu institusi. Ini tentang membuka jalan bagi ribuan pesantren lain di seluruh Indonesia untuk berani melangkah.

Mereka membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi mercusuar peradaban di era digital. Bahwa santri bisa menjadi agen perubahan yang cerdas secara spiritual dan kompeten secara teknologi. Bahwa Islam dan modernitas bukan pertentangan, melainkan harmoni yang indah.

“Dulu, cahaya pesantren hanya menerangi sekitar tembok fisiknya,” kata Dr. Derliana menutup wawancara. “Sekarang, dengan digital, cahaya itu bisa menerangi seluruh dunia. Dari Padang Panjang ke seluruh jagat maya dan nyata.”

Dan di tengah gemuruh transformasi digital global, sebuah pesantren di kaki Gunung Marapi ini terus melangkah – membuktikan bahwa masa depan dan tradisi bisa berjalan beriringan, selama ada keberanian untuk bermimpi dan kebijaksanaan untuk tetap berakar.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Membuktikan bahwa santri zaman now bisa hafal kitab kuning sambil coding, dzikir pagi sambil bikin konten viral. Ini bukan fantasi. Ini realitas baru dunia pesantren Indonesia.

Related posts