“Industri Candu” Mengintai Anak Indonesia: Muhammadiyah Diminta Turun Tangan Sebelum Terlambat

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, MEDAN – Sebuah peringatan keras dilontarkan di tengah Tabligh Akbar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan. Dr. Jasra Putra, seorang tokoh yang menjabat ganda sebagai Wakil Ketua KPAI dan Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengungkap realitas mengejutkan: anak-anak Indonesia sedang diincar oleh apa yang disebutnya “Industri Candu”.

Bukan sekadar retorika. Jasra membawa data konkret yang memperlihatkan betapa rentannya generasi penerus bangsa. Sepanjang 2024, KPAI mencatat lebih dari 2.000 pengaduan kasus anak—dan yang paling menyayat hati, mayoritas korban justru terluka di tempat yang seharusnya paling aman: rumah mereka sendiri.

Ancaman dari Dalam Rumah, Serangan dari Dunia Digital

“Bayangkan, orang-orang terdekat anak—yang seharusnya melindungi—justru menjadi sumber luka terbesar mereka,” ujar Jasra dengan nada prihatin. Konflik orang tua, pola asuh bermasalah, hingga kekerasan dalam keluarga mendominasi kasus pengaduan dengan angka mencapai 67%.

Namun, ancaman tidak berhenti di sana. Di luar tembok rumah, anak-anak berhadapan dengan musuh yang lebih sistematis dan terorganisir: rokok, narkoba, pornografi, game online, hingga judi daring. Jasra menyebutnya sebagai “Industri Candu” yang secara terstruktur merusak masa depan generasi muda.

Lebih mengkhawatirkan lagi, satu dari tiga remaja Indonesia kini mengalami gangguan kesehatan mental. Angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Semangat Al-Ma’un di Era Digital

Dalam paparannya yang berjudul “Peran Muhammadiyah dalam Perlindungan Anak Menuju Generasi Emas 2045”, Jasra mengingatkan bahwa misi sosial Muhammadiyah harus bertransformasi mengikuti zaman.

“Dulu, semangat Al-Ma’un mungkin cukup dengan memberi makan orang lapar. Hari ini, kita harus membebaskan anak-anak dari struktur ketidakadilan yang lebih kompleks—dari cengkeraman industri yang meracuni pikiran dan tubuh mereka,” tegasnya dengan penuh keyakinan.

Menurutnya, melindungi anak bukan sekadar tugas kemanusiaan, melainkan mandat agama yang tidak bisa ditawar. Dan jika Indonesia ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, fondasi perlindungan anak harus dibangun dari sekarang.

Formula “9-M”: Ketika Orang Tua Menjadi Sahabat

Jasra tidak hanya membawa masalah, tetapi juga solusi. Ia memperkenalkan konsep “9-M”—sebuah formula praktis agar orang tua bisa menjadi sahabat sejati bagi anak-anak mereka.

Konsep ini mencakup sembilan prinsip sederhana namun berdampak besar: mulai dari memberi pujian tulus, menjadi pendamping belajar yang sabar, mendengarkan dengan hati, menghargai privasi, mengajak berdiskusi setara, meyakinkan kepedulian, memberi tanggung jawab sesuai usia, memberikan ruang berinteraksi, hingga mendukung anak menjadi inspirasi.

“Ketika afeksi dan kelekatan dalam keluarga rapuh, di situlah pintu masuk bagi perilaku menyimpang. Keluarga harus kembali menjadi benteng pertama dengan pola asuh penuh kasih sayang—mawaddah wa rahmah,” jelasnya.

Muhammadiyah Berbenah: 211 Pusat Perlindungan Anak Sudah Berdiri

Komitmen Muhammadiyah dalam perlindungan anak bukan hanya wacana. Saat ini, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia itu telah memiliki 211 Lembaga Kesejahateraan Sosial atau Muhammadiyah Children Center yang terakreditasi.

Tak berhenti di situ, mereka juga mengembangkan 630 unit Pusat Asuhan Keluarga Muhammadiyah dan Pusat Santunan Keluarga Muhammadiyah, lengkap dengan layanan untuk lansia dan difabel.

“Anak adalah amanah, perhiasan hidup, sekaligus ujian kita semua. Melindungi mereka dari ‘api neraka duniawi’—kebodohan, kemiskinan, dan kekerasan—adalah kewajiban setiap kader Muhammadiyah,” tutup Jasra dengan penuh harap.

Pertanyaannya kini: akankah seruan ini didengar dan ditindaklanjuti sebelum semakin banyak anak Indonesia terperangkap dalam jerat “Industri Candu” yang mengancam masa depan mereka?

Related posts