MINANGKABAUNEWS, PADANG PANJANG — Suasana Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang pagi itu penuh dengan semangat pembaruan. Lokasi tersebut menjadi saksi bertemunya para penggerak pendidikan Bahasa Arab se-Sumatera Barat dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Sorotan utama acara adalah kehadiran Mudir Pesantren, Dr. Derliana, M.A., yang membawa angin segar konsep pembelajaran masa depan.
Acara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang, H. Mukhlis M., S.Ag., M.Ag. Dalam sambutannya, beliau mendorong agar forum ini menjadi katalis inovasi. “Manfaatkan momentum ini untuk melompat lebih jauh, menjadikan Bahasa Arab tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai jendela ilmu dan peradaban,” ajaknya.
Mengawali paparannya, Dr. Derliana menyuntikkan motivasi dengan membawakan pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, tentang pentingnya growth mindset atau pola pikir bertumbuh. “Dengan pola pikir berkembang, setiap masalah kecil punya seribu jalan keluar. Kuncinya adalah pantang menyerah,” tegasnya, mengutip sang menteri.
Dr. Derliana kemudian langsung menyelam ke inti pembahasan: “Deep Learning” atau Pembelajaran Mendalam. Konsep ini disebutnya sebagai solusi mendesak, merespons data PISA 2022 yang menempatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS/Higher Order Thinking Skills) siswa Indonesia pada angka 1%. “Kita harus berubah. Deep Learning adalah tentang menciptakan pemahaman yang mengakar, bukan hafalan yang menguap,” ujarnya lugas.
Ia memaparkan tiga pilar utama Pembelajaran Mendalam:
1. Berkesadaran (Intentional): Setiap langkah pembelajaran direncanakan dengan tujuan yang jelas.
2. Bermakna (Meaningful): Materi harus hidup dengan dikaitkan pada konteks dan masalah dunia nyata.
3. Menggembirakan (Joyful): Suasana belajar yang positif adalah fondasi untuk eksplorasi yang berani.
Sesi tak kalah seru adalah ketika Dr. Derliana memadukan konsep tersebut dengan KBC (Kurikulum Berbasis Cinta) sebagai fondasi pembaruan. “Tanpa rasa cinta dan aman dari peserta didik, Deep Learning sulit terwujud. Kurikulum Berbasis Cinta inilah yang membangun jembatan emosional itu,” paparnya. Antusiasme peserta, yang terdiri dari guru berbagai daerah, terlihat jelas saat menyimak langkah-langkah praktis merancang pembelajaran dengan dua fondasi tersebut.
Diskusi pun mengalir dinamis. Irsyadul Hamdi dari MAN 2 Bukittinggi menyuarakan visinya tentang pembelajaran Bahasa Arab yang holistik dan integratif. “Bahasa Arab adalah khazanah dan alat. Ia bisa menjadi medium untuk memahami berbagai disiplin ilmu,” katanya. Pandangan ini segera mendapat gelombang dukungan dan anggukan setuju dari rekan-rekan guru se-Sumbar.
Kegiatan yang penuh inspirasi ini diakhiri dengan foto bersama, mengukuhkan komitmen kolektif untuk terus mendorong transformasi pembelajaran Bahasa Arab yang lebih relevan, mendalam, dan penuh makna di seluruh Sumatera Barat. (TR)






