MINANGKABAUNEWS.com, TANGERANG SELATAN — Ada yang berbeda dari peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang baru pertama kali digelar hari ini. Di tengah suka cita insan pers yang memadati Auditorium Gedung Cendekia UMJ, satu sosok tampak bersemangat menyuarakan keyakinannya. Dia adalah Buya Jelita Donal, Anggota DPD RI yang sejak lama mencermati pergerakan dakwah digital Muhammadiyah.
Dengan senyum khasnya, Buya Jelita mengawali sambutan dengan ucapan selamat yang hangat. Baginya, penetapan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan atas perjuangan panjang persyarikatan yang telah melahirkan Suara Muhammadiyah pada 1915—surat kabar yang menjadi saksi sekaligus aktor perubahan zaman.
“Selamat untuk seluruh keluarga besar Muhammadiyah. Hari ini kita tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga melangkah ke masa depan,” ujar Buya dengan nada penuh keyakinan.
Di sela-sela acara yang juga dirangkaikan dengan Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3, Buya Jelita menyoroti dua terobosan besar yang menurutnya akan mengubah wajah dakwah Islam di Indonesia: Big Data SatuMu dan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Digital.
“Saya melihat ini luar biasa. Bayangkan, selama ini kita punya khazanah keilmuan yang melimpah, tetapi belum terintegrasi. Sekarang dengan SatuMu, semua data persyarikatan ada dalam satu genggaman. Fatwa-fatwa Tarjih bisa diakses kapan saja, di mana saja,” jelasnya dengan mata berbinar.
Baginya, ini adalah lompatan strategis. Di era banjir informasi, Muhammadiyah tidak boleh ketinggalan. Justru harus menjadi rujukan. Dan Buya Jelita percaya, dengan dua instrumen digital ini, Muhammadiyah siap memimpin arus.
“Jangan kaget kalau nanti dakwah Muhammadiyah semakin masif. Karena sekarang mereka punya 60 media afiliasi yang bergerak serentak. Itu bukan jumlah kecil. Itu adalah pasukan dakwah digital yang terorganisir,” tambahnya antusias.
Buya Jelita mengakui, selama ini ia kerap menyaksikan bagaimana media-media Muhammadiyah konsisten menyajikan informasi yang menyejukkan di tengah hiruk-pikuk hoaks dan ujaran kebencian. Menurutnya, peran ini tidak bisa diremehkan.
“Media Muhammadiyah bukan hanya menyiarkan berita, tetapi juga menebar keteduhan. Mereka mengajarkan Islam yang ramah, Islam yang mencerahkan. Saya optimis, dengan digitalisasi, jangkauan itu akan semakin luas,” tuturnya.
Ia pun menyebut bahwa peringatan hari ini menjadi momentum untuk menguatkan komitmen kolektif. Bahwa pers Muhammadiyah harus tetap berada di jalur kebenaran, tanpa kompromi dengan kepentingan sesaat.
Di akhir pernyataannya, Buya Jelita turut mengapresiasi momen haru ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Istimewa dari Dewan Pers. Baginya, ini adalah bentuk penghormatan yang pantas diterima seorang tokoh yang telah mengabdikan 45 tahun hidupnya untuk dunia jurnalistik dan persyarikatan.
“Pak Haedar adalah contoh nyata bahwa wartawan dan pemimpin organisasi bisa berjalan beriringan. Beliau memulai dari bawah, dari lapangan, lalu memimpin dengan hati. Itu inspirasi bagi kita semua,” puji Buya.
Menutup pernyataannya, Buya Jelita Donal menyampaikan harapan besar. Ia ingin agar peringatan ini tidak berhenti di acara seremonial. Tetapi menjadi roh baru bagi seluruh insan pers dan literasi Muhammadiyah untuk terus berkarya, berinovasi, dan mencerdaskan bangsa.
“Selamat Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Mari kita jadikan dakwah digital ini sebagai jembatan kebaikan untuk seluruh Indonesia. Saya yakin, dengan semangat yang membara dan teknologi yang mumpuni, Muhammadiyah akan tetap menjadi mercusuar peradaban,” pungkasnya mantap.








