Oleh: Aya Syophia Miza, S.H, M.A Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang membicarakan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Kita terlalu sibuk menghitung berapa gedung yang berdiri, berapa sekolah yang beroperasi, dan berapa panti yang terkelola. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah rumah-rumah besar itu benar-benar hidup?
AUM bukan sekadar bangunan. Ia adalah amanah perjuangan—sebuah ikhtiar panjang untuk menghadirkan dakwah, pendidikan, pelayanan, dan kemajuan bagi umat. Karena itu, memiliki gedung dan nama besar saja tidak cukup. AUM harus bernafas, bergerak, produktif, dan dirawat dengan semangat kaderisasi yang tidak pernah padam.
Persoalannya, ketika sebuah AUM berhenti aktif dan dikelola seadanya, akan muncul ruang kosong. Dan sejarah telah mengajarkan satu hal: ruang kosong tidak pernah benar-benar kosong. Ia akan segera diisi oleh pihak lain—oleh mereka yang punya kepentingan, oleh kekuatan yang mungkin tidak sejalan dengan visi Muhammadiyah.
Di titik itulah menjaga AUM menjadi jauh lebih dari sekadar menjaga aset. Ini soal menjaga identitas. Soal menjaga nilai. Soal memastikan bahwa apa yang telah dibangun dengan darah, keringat, dan air mata para pendahulu tidak perlahan berubah wajah, kehilangan ruh, lalu tinggal menyisakan plakat nama di depan pagar.
Maka AUM harus dihidupkan. Diperkuat. Dikelola secara profesional. Dan yang tak kalah penting—dikawal oleh kader Muhammadiyah sendiri. Kader tidak boleh menjadi penonton di rumah sendiri. Sebab rumah yang ditinggalkan penghuninya akan selalu menjadi incaran siapa pun yang lewat.







