MINANGKABAUNEWS.com, SOLOK — Air mungkin sudah mulai surut, tetapi persoalan warga Solok baru saja dimulai. Di tengah lapangan Kantor Bupati Solok yang kini berubah menjadi pusat komando darurat, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berdiri di hadapan jajaran Forkopimda dan perwakilan pemerintah pusat. Bukan sekadar kunjungan protokoler, kehadirannya membawa sejumlah perintah tegas yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan masyarakat terdampak.
Dalam arahannya, Wapres Gibran menegaskan satu hal yang sering terlupakan pasca-bencana: penanganan tidak berhenti saat air surut. Lumpur, pasir, batu, kayu, dan longsoran yang menumpuk di permukiman, jalan, jembatan, masjid, lahan pertanian, hingga fasilitas umum harus segera dibersihkan. “Prioritas pembersihan material banjir di permukiman, jalan, jembatan, masjid, lahan pertanian, fasilitas umum,” tegasnya, memastikan akses dan aktivitas warga bisa kembali normal secepat mungkin.
Namun, di balik upaya pemulihan, ancaman bencana susulan masih mengintai. Wapres pun meminta kewaspadaan ditingkatkan, terutama terhadap hujan dan longsor susulan. Koordinasi dengan BMKG harus diperkuat, dan informasi cuaca wajib tersampaikan ke warga di area rawan dengan cara yang mudah dipahami. “Pastikan warga di area rawan menerima informasi yang mudah dipahami,” pintanya.
Yang tak kalah penting, Wapres Gibran menyoroti sektor pertanian. Solok dikenal sebagai salah satu lumbung pangan untuk Sumatera Barat dan Nasional. Karena itu, pemulihan lahan pertanian menjadi prioritas agar warga bisa kembali bertani. “Solok merupakan salah satu lumbung pangan untuk Sumbar dan Nasional, pemulihan lahan pertanian harus menjadi prioritas agar warga bisa kembali bertani,” ungkapnya.
Keringanan Cicilan: Harapan Baru bagi Warga Terdampak
Di tengah himpitan ekonomi akibat bencana, Wapres Gibran juga menaruh perhatian besar kepada warga yang memiliki kewajiban cicilan, baik di PNM Mekaar maupun bank-bank Himbara. Ia menegaskan, selama masa kebencanaan, warga terdampak harus memperoleh keringanan agar tidak semakin terbebani. “Warga yang memiliki cicilan di bank Himbara mana pun, selama masa kebencanaan mendapatkan sedikit keringanan,” ujarnya.
Tak hanya berbicara, Wapres langsung meminta Bupati Solok untuk segera mendata warga yang membutuhkan bantuan restrukturisasi pembiayaan. “Ini nanti Pak Bupati, ya, mohon didata siapa saja warganya, sekiranya nanti membutuhkan bantuan restrukturisasi, nanti bisa kita penuhi,” tegasnya.
Duka di Tengah Harapan
Di sela-sela kunjungannya, kabar duka datang. Seorang warga bernama Agusra (59) yang sebelumnya masih dalam pencarian akhirnya ditemukan oleh tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal dunia. Wapres pun meminta seluruh pihak terkait memastikan penanganan korban dilakukan dengan sebaik-baiknya, termasuk memberikan pendampingan dan perhatian penuh kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sebelum meninjau posko utama, Wapres Gibran lebih dulu mengunjungi Posko Pengungsi Balai Pemuda Kayu Aro. Di sana, ia menyapa warga, menanyakan kondisi dan kebutuhan mereka, serta mendengarkan langsung keluhan yang mereka hadapi. Dialog hangat itu menjadi bukti bahwa kebutuhan pengungsi tetap menjadi perhatian utama selama masa tanggap darurat.
Semua kendala dan persoalan yang ditemui di lapangan, kata Wapres, akan ia laporkan langsung kepada Presiden. “Semua kendala dan persoalan di lapangan akan saya laporkan kepada Bapak Presiden,” pungkasnya.
Di Solok hari ini, bukan hanya air yang surut, tetapi juga harapan yang kembali mengalir.







