Oleh: Firsta Yuliano, Lc., MH., MA
Anggota Komisi Fatwa Metodologi MUI Sumatera Barat
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Bendahara Pusat Perkaderan Ulama Muhammadiyah Sumatera Barat
Ada pemandangan yang kerap terulang di banyak majelis taklim. Seorang ibu membuka aplikasi Al-Qur’an di ponselnya, membaca terjemahan, lalu mengangguk-angguk. Ia merasa sudah memahami. Namun ketika ditanya mengapa Allah memilih kata tertentu dan bukan kata lain yang tampak serupa maknanya, ia terdiam. Bukan karena ia tidak cerdas, melainkan karena ada pintu yang belum pernah dibukakan untuknya.
Hari ini, akses terhadap ilmu agama memang seolah tak berbatas. Al-Qur’an hadir dalam berbagai aplikasi. Terjemahan hadis bisa ditemukan dalam hitungan detik. Kajian keislaman berserakan di media sosial. Buku-buku agama semakin mudah diperoleh. Semua serba cepat, serba instan.
Tetapi kemudahan akses tidak selalu melahirkan kedalaman pemahaman. Umat bisa membaca terjemahan, tetapi belum tentu menangkap mengapa sebuah kata dipakai dalam bentuk tertentu. Umat bisa membaca hadis, tetapi belum tentu memahami sebuah istilah sebagaimana dipahami para ulama. Padahal, perbedaan makna satu kata saja dalam bahasa Arab bisa mengubah arah pemahaman sebuah ayat atau hadis.
Di sinilah bahasa Arab menemukan urgensinya.
Bukan Sekadar Bahasa Bangsa Arab
Bahasa Arab bukan sekadar bahasa sehari-hari bangsa Arab. Bagi umat Islam, ia adalah salah satu pintu utama menuju wahyu. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Hadis-hadis Nabi ﷺ disampaikan dalam bahasa Arab. Dan khazanah tafsir, hadis, fikih, usul fikih, serta karya-karya ulama yang menjadi fondasi peradaban keilmuan Islam, hampir semuanya ditulis dalam bahasa Arab.
Karena itu, berbicara tentang mencerdaskan umat sesungguhnya juga berbicara tentang bagaimana mengembalikan umat kepada kemampuan memahami bahasa sumber agamanya. Dan di titik inilah Pusat Perkaderan Ulama Muhammadiyah (PPUM) memiliki ruang pengabdian yang sangat strategis.
Terjemahan adalah jembatan yang sangat penting. Berkat terjemahan, jutaan umat Islam yang tidak menguasai bahasa Arab dapat memahami pesan dasar Al-Qur’an dan hadis. Namun, jembatan tetaplah jembatan. Ia membantu seseorang sampai ke tujuan, tetapi tidak selalu menggantikan pengalaman berinteraksi langsung dengan sumber.
Ada perbedaan mendasar antara membaca makna yang telah diterjemahkan dengan memahami teks dalam bahasa aslinya. Dalam bahasa Arab, satu kata dapat memiliki cakupan makna yang luas. Susunan kalimat dapat memberikan penekanan tertentu. Perubahan harakat dapat memengaruhi kedudukan kata dan makna kalimat. Penggunaan bentuk kata, gaya bahasa, konteks, hingga hubungan antarkata dapat memberikan nuansa yang tidak selalu dapat dipindahkan secara sempurna ke bahasa lain.
Karena itu, semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang dalam studi Islam, semakin besar pula kebutuhannya untuk memahami bahasa Arab. Bukan berarti setiap Muslim harus menjadi ahli bahasa Arab. Tetapi umat perlu memiliki semakin banyak orang yang mampu membuka pintu tersebut.
Makna pencerdasan umat perlu diperluas. Mencerdaskan umat bukan hanya membuat masyarakat mengetahui berbagai jawaban agama. Lebih jauh, umat perlu dibekali kemampuan untuk memahami bagaimana jawaban tersebut dibangun.
Masyarakat perlu didorong untuk tidak hanya bertanya, “Apa hukumnya?”, tetapi juga mulai memiliki tradisi bertanya, “Apa dalilnya? Bagaimana ulama memahaminya? Apa makna teksnya? Bagaimana metode istinbath-nya?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membutuhkan perangkat ilmu. Dan salah satu perangkat terpentingnya adalah bahasa Arab. Bahasa Arab memberikan akses kepada sumber yang lebih luas. Ia membuka pintu menuju tafsir-tafsir klasik, kitab-kitab hadis, syarah hadis, kitab fikih, usul fikih, dan karya-karya ulama yang jumlahnya sangat besar.
Tanpa bahasa Arab, umat akan lebih banyak bergantung pada apa yang telah dipilihkan, diterjemahkan, diringkas, atau disampaikan oleh orang lain. Dengan bahasa Arab, umat memiliki kesempatan untuk melihat sumbernya secara lebih dekat.
Karena itu, pembelajaran bahasa Arab seharusnya tidak ditempatkan sebagai pelajaran tambahan yang hanya dibutuhkan oleh santri atau mahasiswa studi Islam. Bahasa Arab perlu dipandang sebagai bagian dari literasi keislaman. Seseorang yang belajar bahasa Arab sedang membangun kemampuan untuk membaca Al-Qur’an dengan lebih mendalam, memahami hadis dalam bahasa aslinya, dan berinteraksi dengan khazanah intelektual Islam.
Tentu prosesnya tidak mudah. Bahasa Arab memiliki tata bahasa, morfologi, struktur kalimat, dan kekayaan kosakata yang membutuhkan proses belajar. Tetapi justru di situlah pendidikan memiliki peran. Kita tidak boleh membangun budaya bahwa segala sesuatu harus diperoleh secara instan.
Kalau untuk menjadi dokter seseorang harus bertahun-tahun belajar ilmu kedokteran, mengapa untuk memahami agama kita berharap dapat menyelesaikannya hanya dengan beberapa potongan video? Kalau untuk memahami ilmu tertentu kita bersedia mempelajari istilah dan bahasa teknisnya, mengapa ketika berhadapan dengan Al-Qur’an dan hadis kita tidak bersedia mempelajari bahasa keduanya? Pertanyaan ini patut direnungkan.
Di sinilah PPUM dapat mengambil peran. PPUM tidak harus hanya menjadi tempat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman secara teoritis. Ia dapat menjadi ruang untuk membangun ekosistem bahasa Arab.
Pembelajaran dapat dimulai dari hal yang paling mendasar: membaca teks Arab, memahami kosakata, mengenal sharaf dan nahwu, kemudian meningkat kepada kemampuan membaca kitab tanpa harakat. Dari sana, peserta didik dapat diarahkan membaca teks-teks keislaman secara bertahap.
Yang paling penting, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menerjemahkan. Tujuannya adalah memahami. Sebab seseorang dapat saja menerjemahkan sebuah kalimat Arab secara harfiah, tetapi belum tentu memahami maksud penulisnya. Kemampuan membaca teks membutuhkan lebih dari sekadar mengetahui arti kosakata. Ia membutuhkan pemahaman struktur, konteks, dan istilah.
Karena itu, pembelajaran bahasa Arab di PPUM idealnya diarahkan pada pembentukan budaya membaca. Santri dan kader tidak hanya belajar bahasa Arab di kelas, tetapi membiasakan diri berinteraksi dengan bahasa tersebut melalui Al-Qur’an, hadis, kitab tafsir, kitab hadis, kitab fikih, dan karya-karya ulama. Ketika bahasa Arab menjadi bagian dari keseharian belajar, hubungan kader dengan sumber-sumber Islam pun akan semakin kuat.
Ada manfaat lain yang sering tidak disadari. Belajar bahasa Arab tidak hanya membuka kemampuan membaca teks. Ia juga membuka pintu menuju tradisi intelektual Islam. Selama berabad-abad, para ulama menulis karya dalam bahasa Arab. Mereka membahas tafsir, hadis, fikih, usul fikih, akidah, akhlak, sejarah, hingga berbagai disiplin ilmu lainnya.
Di dalam kitab-kitab itu terdapat perdebatan, argumentasi, kritik, jawaban, dan perkembangan pemikiran yang sangat kaya. Ketika generasi muda hanya mengenal kesimpulan-kesimpulan yang sudah jadi, mereka kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana para ulama sampai kepada kesimpulan tersebut.
Membaca kitab mengajarkan proses. Ia mengajarkan bahwa ilmu tidak lahir dari satu kutipan. Bahwa sebuah pendapat memiliki argumentasi. Bahwa perbedaan pendapat memiliki sejarah. Bahwa memahami teks membutuhkan ketelitian. Inilah yang sesungguhnya dibutuhkan dalam pencerdasan umat: bukan sekadar memperbanyak orang yang tahu, tetapi membentuk manusia yang mampu memahami.
Dua Lapisan Gerakan
Tentu tidak realistis mengharapkan seluruh umat Islam menjadi ahli bahasa Arab. Tetapi kita dapat membangun dua lapisan gerakan.
Pertama, memperluas literasi dasar bahasa Arab di tengah masyarakat agar semakin banyak umat memiliki kedekatan dengan bahasa Al-Qur’an dan hadis.
Kedua, memperkuat pembelajaran bahasa Arab bagi kader-kader yang dipersiapkan menjadi ulama, guru, mubalig, akademisi, dan intelektual Muslim.
Lapisan kedua membutuhkan pendidikan yang lebih serius. Mereka tidak cukup hanya mampu membaca teks sederhana. Mereka perlu diarahkan sampai mampu membaca kitab turats, memahami istilah keilmuan, melakukan penelusuran referensi, membandingkan pendapat ulama, dan menulis berdasarkan sumber-sumber primer.
Jika proses ini berjalan, PPUM tidak hanya menghasilkan orang yang mampu berbicara tentang Islam. PPUM dapat melahirkan generasi yang mampu membaca Islam dari sumber-sumbernya.
Mengembalikan Umat kepada Sumber
Pada akhirnya, misi mencerdaskan umat bukan sekadar misi membuat umat menjadi lebih banyak tahu. Pencerdasan umat adalah upaya membangun manusia yang mampu belajar, memahami, menimbang, dan mengambil sikap berdasarkan ilmu. Bahasa Arab menjadi salah satu jalan penting menuju tujuan itu.
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Sunnah Nabi ﷺ diwariskan kepada umat dalam bahasa Arab. Khazanah keilmuan Islam yang sangat luas juga banyak tersimpan dalam bahasa Arab. Maka semakin banyak umat yang mampu memahami bahasa Arab, semakin terbuka pula akses mereka terhadap sumber dan warisan keilmuan Islam.
Di sinilah PPUM memiliki pekerjaan besar. Bukan sekadar mengajarkan nahwu. Bukan sekadar mengajarkan sharaf. Bukan sekadar membuat orang mampu membaca kitab gundul. Lebih jauh dari itu, PPUM perlu menjadikan bahasa Arab sebagai instrumen pencerdasan umat.
Sebab tujuan akhirnya bukan bahasa itu sendiri. Tujuannya adalah agar umat semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin memahami hadis Nabi ﷺ, semakin mengenal warisan ulama, dan semakin matang dalam memahami agamanya.
Kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh umat menjadi ahli bahasa Arab. Tetapi kita dapat memulai dengan mencetak generasi yang membuka pintu itu bagi umat. Dari ruang belajar yang kecil, dari satu kelas bahasa Arab, dari satu halaqah kitab, dari beberapa orang yang tekun membaca teks Arab, bisa lahir guru-guru yang mengajarkan kepada generasi berikutnya.
Begitulah ilmu berkembang. Ia diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dan mungkin, misi terbesar PPUM bukan sekadar mencetak orang yang pandai berbicara tentang agama, tetapi melahirkan generasi yang mampu kembali membaca, memahami, dan menghidupkan sumber-sumber agama dengan ilmu.
Jika itu berhasil dilakukan, maka pembelajaran bahasa Arab bukan lagi sekadar program pendidikan. Ia menjadi bagian dari gerakan mencerdaskan umat.







