MINANGKABAUNEWS.com, PADANG – Suara lantang dan penuh wibawa Anggota DPD RI, Buya Jelita Donal, bergema di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Jumat (10/10), mengawali khutbah yang menghentak kesadaran. Di bawah kubah yang megah, di hadapan jamaah yang khusyuk, ia tidak membahas politik praktis. Ia membongkar hakikat tanggung jawab kita yang paling utama: menjadi penjaga yang sesungguhnya.
KHUTBAH PERTAMA
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa.Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Pada kesempatan yang mulia ini, saya mengajak jiwa ini dan hadirin sekalian untuk merenungi firman Allah SWT dalam Surat At-Tahrim ayat 6:
Yā ayyuhal-lażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāran wa qūduhan-nāsu wal-ḥijāratu…
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ini bagaikan alarm keras di zaman kita.Ia bukan sekadar perintah ritual. Ini adalah mandat kepemimpinan dan penjagaan. Setiap kepala keluarga, setiap orang tua, adalah qawwam—sang penjaga gawang yang berdiri di garis terdepan untuk menghalau setiap ancaman yang mendekat.
Lalu, ancaman apa yang lebih dahsyat daripada “api neraka”? Di era digital ini, api itu telah menjelma dalam wujud baru. Ia adalah api ghibah yang menyala di grup-grup media sosial. Ia adalah api maksiat yang bisa diakses dengan sekali klik. Ia adalah api kealpaan yang membuat kita lalai mengawasi apa yang ditonton dan didengarkan anak-anak kita di balik pintu kamar mereka.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kita begitu sibuk menjadimanajer risiko duniawi. Kita khawatir anak kelaparan, tapi apakah kita lebih khawatir jiwanya “kelaparan” akan akhlak Quran? Kita jaga mereka dari bahaya di jalan, tapi kita lengah membiarkan bahaya mengintip dari layar ponsel mereka.
Tugas kita bukan hanya pasif dengan amar ma’ruf—menyuruh kebaikan. Tapi yang sering kita tinggalkan adalah tugas aktif untuk nahi mungkar—mencegah kemungkaran. Inilah dua sayap yang harus sama-sama mengepak.
Membiarkan anak berkata kasar, diam saat pasangan lalai shalat, atau tutup mata pada kemungkaran di lingkungan sekitar, itu semua bentuk pengkhianatan terhadap amanah “qū anfusakum wa ahlīkum”—peliharalah dirimu dan keluargamu!
Nahi mungkar adalah bukti cinta kita yang paling nyata. Membiarkan kemungkaran adalah membiarkan api itu membakar orang yang kita cintai.
KHUTBAH KEDUA
Jamaah Jumat hafizhakumullah,
Mari kita sadari bahwa perintah“peliharalah dirimu” didahulukan sebelum “keluargamu”. Ini adalah pesan tegas: Keteladanan adalah kurikulum utama. Mustahil kita memagari keluarga dari kobaran api, jika diri sendiri justru menjadi bahan bakarnya.
Kita harus menjadi contoh dalam shalat, dalam tutur kata, dalam penggunaan media sosial, dan dalam pergaulan. Hanya dengan keteladanan ini, kita akan memiliki kewibawaan dan kekuatan untuk menegur dan melindungi.
Jamaah yang budiman,
Maka,pertanyaan refleksi untuk kita semua di akhir khutbah ini bukan lagi apakah kita mencintai keluarga? Tapi, sudahkah kita menjadi penjaga yang efektif? Sudah beranikah kita mencegah kemungkaran, dimulai dari lingkaran terdekat kita?
Marilah kita jadikan rumah kita sebagai benteng yang tidak hanya dipagari kebaikan, tetapi juga aktif memadamkan bara kemungkaran. Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut dalam lanjutan ayat tadi, yang penyesalannya tiada guna di akhirat kelak.
Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yunin waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.
Subāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yaṣifūn, wa salāmun ‘alal-mursalīn, wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
Suasana hening menandakan pesan khutbah Buya Jelita Donal menyentuh relung hati. Banyak jamaah yang terlihat berpikir dalam, mengusap air mata, atau mengucapkan amin dengan khusyuk. Khutbah Jumat itu tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi telah menjadi pengingat yang membekas tentang tanggung jawab besar yang kita pikul sebagai hamba dan sebagai penjaga.






