Kolot vs Modern? Di Minang, Pesantren Ini Buktikan Keduanya Bisa Berdampingan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Di jantung Sumatera Barat, sebuah pesantren kecil di Padang Panjang menulis kisah unik: berhasil memadukan tradisi Islam klasik dengan semangat kemodernan. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, yang kerap disebut “Serambi Mekkah”-nya Sumbar, telah menjadi laboratorium pendidikan Islam yang hidup, membuktikan bahwa dikotomi “tradisional versus modern” bisa dirangkai menjadi harmoni.

Di sini, dentuman lantang membaca kitab kuning pada fajar hari bersahutan dengan ketikan laptop para santri. Di bawah panji Muhammadiyah—organisasi pembaru sejak 1912—pondok ini justru dengan bangga mempertahankan metode klasik: sorogan, bandongan, dan hafalan nadham. Namun, di waktu yang sama, para santri juga aktif dalam diskusi sains, kewirausahaan digital, dan proyek sosial.

Ini bukan sekadar campuran, melainkan perpaduan organik yang disengaja. Pesantren ini meyakini bahwa tradisi adalah fondasi yang kokoh, sementara modernitas adalah alat untuk membangun masa depan.

Meramu Kearifan Lokal dan Tantangan Global

Kekuatan pesantren ini terletak pada kurikulumnya yang kontekstual. Dua pijakan utama menjadi sandaran: nilai-nilai Minangkabau dan tuntutan zaman.

Pertama, pesantren ini mengolah adagium Minang “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” dalam praktik pendidikan. Dialog antara ajaran agama dan budaya matrilineal Minang dibuka lebar, termasuk tentang peran perempuan. Di sini, adat dan agama bukan dipertentangkan, melainkan didudukkan sebagai mitra yang saling menguatkan.

Kedua, santri diajak melangkah jauh melampaui tembok pesantren. Mereka tidak hanya berkhalwat (menyendiri untuk ibadah), tetapi juga aktif bermu’amalah (berinteraksi sosial). Melalui program bimbingan masyarakat, penyuluhan kesehatan, dan unit usaha koperasi, ilmu dari kelas diuji di lapangan. Semangat kemandirian dan kewirausahaan—yang selaras dengan falsafah “alam takambang jadi guru”—ditanamkan sejak dini.

Metode yang Membebaskan, Teknologi yang Diakrabi

Stereotip pesantren yang kaku dan monologis dipatahkan di sini. Suasana belajar justru partisipatif dan mendorong berpikir kritis (ijtihad). Diskusi tentang tafsir kontemporer, debat isu sosial, hingga penelitian sederhana menjadi menu harian. Teknologi seperti laptop dan internet bukan dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai jendela untuk membuka khazanah ilmu global sekaligus alat untuk mempresentasikan pemahaman mereka terhadap teks-teks klasik.

Jalan Berliku Sang Pelopor

Tentu, perjalanan menjadi “pesantren hybrid” tidak selalu mulus. Tantangan datang dari dua sisi: kalangan tradisionalis yang waswas dengan “virus modernitas”, dan kalangan modernis yang menganggap tradisi pesantren sebagai warisan usang. Tekanan finansial, tuntutan kurikulum nasional, dan menjaga keseimbangan di tengah perubahan sosial yang cepat adalah ujian yang terus berulang.

Ketahanan mereka bertumpu pada kepemimpinan yang visioner dan memahami kedua dunia, serta komunitas yang bangga menjadi bagian dari eksperimen pendidikan ini. Mereka adalah bukti hidup: seorang santri bisa mendalami ushul fiqh di pagi hari dan merancang proposal startup di sore harinya.

Warisan Terbesar: Sebuah Paradigma Baru

Pesantren Kauman mungkin tidak mengklaim diri sebagai yang pertama atau terbaik. Namun, keengganannya untuk dikotakkan justru membuatnya menjadi pionir. Warisan terbesarnya adalah sebuah paradigma bahwa umat Islam tidak perlu terbelah: pilih menjadi “kolot” atau “kebablasan”.

Di sini, kesalehan tradisional dan kecakapan modern bersenyawa. Ijtihad tidak hanya dilakukan untuk menjawab masalah fikih, tetapi juga untuk merancang masa depan pendidikan.

Di bawah lereng Gunung Marapi dan Singgalang, pesantren hybrid ini terus tegak, merawat warisan leluhur sambil mempersiapkan generasi penerus untuk dunia yang terus berubah. Di ranah Minang ini, falsafah “duduak basamo balapang-lapang” (duduk bersama berlapang-lapang) mewujud nyata: masa lalu dan masa depan tidak lagi berseteru, tetapi berjabat tangan dalam harmoni ilmu pengetahuan.

Related posts