MINANGKABAUNEWS.com, FEATURE –Ambon, 28 Mei 2026. Senja mulai tenggelam di teluk yang tenang itu, tapi saya justru bersiap meninggalkannya. Sebuah keputusan besar berdiri di depan mata: menukar birunya lautan Maluku dengan hiruk-pikuk perjalanan darat, laut, dan udara demi satu nama acara—IMLF-4, International Minangkabau Literary Festival di Bukittinggi.
Tepat pukul 21:00 WIT, kapal laut Nggapulu menarik jangkar. Perlahan, dermaga Ambon menjauh. Saya berdiri di dek, merasakan hembusan angin basah yang membawa campuran garam dan rindu. Empat hari, empat malam di atas kapal. Perjalanan yang tidak singkat, tapi bagi saya—seorang anak muda yang jatuh cinta pada gerak dan jalanan—ini adalah puisi panjang yang ditulis ombak.
Lautan membuai. Saya tidur di atas kasur tipis, terbangun oleh suara mesin kapal yang konstan, lalu kembali terlelap. Badan mulai pegal. Pikiran sesekali menerawang: akankah puisi-puisiku yang lahir dari kegaduhan Ambon bisa diterima di lembah Minang? Tapi biarlah, laut ini mengajarkanku satu hal: perjalanan sejati tidak pernah nyaman. Ia menguras, tapi juga mengisi.
Singgah Singkat di Tanah Jawa
1 Juni 2026, pukul 01:30 dini hari. Kapal merapat di Surabaya. Kaki saya menginjak daratan Jawa untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini. Dingin, tapi tak sejuk Ambon. Segera saya naik taksi menuju Bungarasih. Kota masih pekat, lampu-lampu jalan seperti puisi pendek yang tidak selesai.
Di Bungarasih, seorang kernet berteriak, “Sragen! Sragen!” Saya naik bis. Pukul 02:00 WIB, bis mulai bergerak. Gelap di luar jendela. Saya mencoba tidur, tapi kursi bis keras dan posisi duduk yang salah membuat leher kaku. Subuh menemukan saya masih setengah sadar, menatap padi-padi yang mulai menghijau di pinggir jalan.
Pukul 07:00 WIB, tibalah saya di Sragen. Jawa Barat Tengah? Ah, lidah saya memang bukan lidah Jawa. Biarlah, yang penting kaki berpijak.
Di Sragen, saya mandi di rumah seorang teman, sarapan nasi pecel, lalu makan siang—sekaligus. Saya butuh tenaga. Sebab perjalanan belum usai. Pukul 13:00 WIB, saya kembali naik bus. Kali ini tujuan akhir: Tangerang.
Perjalanan darat lintas Jawa. Badan saya seperti karet yang terus ditarik. Tidur tidak nyaman, punggung terasa keras di kursi. Tapi anehnya, saya menikmatinya. Ada semacam kebebasan dalam ketidaknyamanan ini. Setiap desa yang lewat, setiap lampu kota yang menyala di kejauhan, adalah bait-bait kecil yang mengiringi saya.
Bertemu Kembali dengan Rima di Kalideres
2 Juni 2026, pukul 06:00 WIB. Matahari baru saja naik ketika bis berhenti di Terminal Kalideres, Tangerang. Badan remuk. Kepala berat. Tapi begitu melihat sosok yang berdiri di dekat pintu keluar—Bunda Rini Intama, sastrawan yang sudah seperti ibu sendiri—semua rasa lelah seolah terbayar.
“Naik, Nak. Kita makan dulu,” katanya sambil tersenyum.
Saya dijemput dengan mobil yang sudah dipesan. Seharian saya rehat di rumah bunda Rini. Mandi, makan, berbincang ringan tentang puisi dan festival yang akan saya ikuti. Tapi batin saya sudah gelisah lagi. Sebab pukul 18:50 WIB nanti, saya harus melanjutkan perjalanan. Kali ini lewat udara. Pesawat sudah saya pesan jauh-jauh hari, ketika saya masih di Ambon. Tiket itu adalah kertas kecil yang menyimpan mimpi besar.
Mendarat di Ranah Minang
Pesawat lepas landas tepat waktu. Saya melihat lampu-lampu Jakarta dari atas—sejuta titik kecil yang berkilauan seperti bintang jatuh. Lalu gelap. Lalu beberapa jam kemudian, pukul 20:20 WIB, pesawat mulai menurun.
“Selamat datang di Bandara Internasional Minangkabau.”
BIM. Akhirnya.
Begitu keluar dari ruang kedatangan, seorang laki-laki dengan senyum lebar menyambut saya. Bang Maulidan. Penyair. Pegiat literasi asal Padang. Tangan kami berjabat erat.
“Mari, saya antar ke rumah,” katanya.
Semalaman di rumah Bang Maulidan, kami berbincang. Tentang sastra, tentang perjalanan, tentang mengapa orang Minang dan orang Maluku sama-sama punya darah pelaut. Saya nyaris lupa waktu. Tapi tubuh yang lelah akhirnya menang. Saya terlelap di sofa tamu, ditemani mimpi-mimpi tentang puisi dan jam gadang.
Menjemput Panggung
Pagi itu, 3 Juni 2026, pukul 08:00 WIB, Bang Maulidan mengantar saya kembali ke Bandara BIM. Bukan untuk terbang lagi, tapi karena di sanalah titik kumpul semua peserta IMLF dari berbagai negara.
Terminal bandara itu berubah menjadi ruang sastra dadakan. Ada suara-suara asing—Inggris, Arab, Jepang—bercampur dengan bahasa Minang dan Indonesia. Saya bertemu dengan muka-muka baru yang ternyata adalah penyair dari berbagai belahan dunia. Semua datang untuk satu hajat besar: merayakan 100 Tahun Jam Gadang dengan puisi.
Pemerintah setempat menjemput kami dengan adat. Ada sirih pinang, ada selendang, ada sambutan yang hangat. Dan di sela-sela itu, nama saya dipanggil. Saya diminta naik ke panggung kecil, membacakan satu puisi.
Jantung saya berdegak kencang. Tapi saya ingat Ambon. Saya ingat lautan empat hari. Saya ingat bis yang keras dan pesawat yang membawa saya ke sini.
Saya membaca. Dan ketika puisi selesai, tepuk tangan terdengar. Bukan tepuk riuh, tapi tepuk yang tulus.
Dari Stasiun BIM, saya bersama peserta IMLF-4 berangkat menuju Bukittinggi. Hotel sudah menunggu. Rangkaian acara perdana akan segera dimulai. Semua ini mewah, kata orang. Tapi bagi saya, kemewahan bukanlah hotel atau panggung besar. Kemewahan adalah ketika sebuah sekolah—SMA Negeri 27 Maluku Tengah, sekolah kecil yang saya cintai—masih mau membiayai transportasi seorang muridnya untuk bermimpi. Tidak sepenuhnya, kata mereka. Tapi Alhamdulillah, kata hati saya.
Lembah Minang kini di depan mata. Jam Gadang menua dengan anggun. Dan saya—seorang anak muda dari Ambon—datang membawa ombak dan puisi, lalu bersimpuh di kaki sejarah.
Perjalanan belum selesai. Ia baru saja dimulai.






