MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk ibukota, sebuah momen haru terjadi saat pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025-2030. Ketua MUI Sumatera Barat yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, menerima secara simbolik bantuan pembangunan masjid senilai 2 miliar rupiah untuk Sumbar.
“Alhamdulillah, secara simbolik sudah diterima di saat pengukuhan pengurus MUI Pusat. Kita akan lanjutkan terus,” ujar Buya Gusrizal dengan penuh syukur. Bantuan ini bukan hanya untuk pembangunan masjid, tetapi juga mencakup program rehabilitasi rumah untuk guru agama dan garin (penjaga masjid) yang terdampak bencana di Sumatera Barat.
Tidak sendirian, perwakilan tiga organisasi Islam besar di Sumbar – Muhammadiyah, Tarbiyah Perti, dan Nahdlatul Ulama (NU) – turut menerima bantuan simbolik tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti solidaritas umat dalam menghadapi tantangan pasca-bencana yang melanda Ranah Minang.
Dakwah Bil Hal: Dari Jakarta ke Pelosok Nagari
Buya Gusrizal bukan sekadar pemimpin di balik meja. Di bawah kepemimpinannya, MUI Sumbar telah menjelma menjadi garda terdepan kemanusiaan dengan rangkaian program dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan nyata). Sejak bencana banjir bandang (galodo) melanda Agam dan wilayah sekitarnya, MUI Sumbar tak henti bergerak.
Penyaluran bantuan untuk korban banjir bandang Agam menjadi langkah awal. Dilanjutkan dengan pemberian bantuan tunai kepada para penyintas di Batu Busuak dan kawasan lainnya. Namun, ada satu cerita yang membuat hati Buya Gusrizal tersentuh mendalam.
“Sepatu Hanyut, Baju Hanyut, Mereka Malu ke Sekolah”
“Sepatu hanyut. Baju hanyut. Mereka malu ke sekolah,” kata seorang orang tua dengan suara bergetar, menggambarkan kondisi pilu yang dialami anak-anak korban bencana, terutama di Nagari Muaro Pingai, Solok.
Bayangkan, puluhan anak-anak usia sekolah yang seharusnya riang gembira menuntut ilmu, kini terpaksa tinggal di rumah. Bukan karena malas, tetapi karena tak punya seragam sekolah yang layak. Rumah mereka tinggal separuh, bahkan ada yang rata dengan tanah. Kehidupan sehari-hari mereka berlangsung di tenda darurat yang jauh dari kata layak.
“Rumahnya tinggal separuh, bahkan ada yang rata dengan tanah. Hidup di tenda darurat,” lanjut orang tua tersebut dengan nada putus asa.
Buya Gusrizal: Sibuk Jakarta-Sumbar, Tak Abaikan Tangisan Anak Nagari
Keprihatinan mendalam ini akhirnya sampai ke telinga Buya Dr. Gusrizal Gazahar. Meski agenda padat bolak-balik Jakarta-Sumbar, sibuk dengan persiapan Rapat Koordinasi (Rakorda) dan Musyawarah Daerah (Musda) MUI Sumbar, sang Buya tak bisa menutup mata dan telinga.
“Laporan bahwa puluhan anak-anak korban galodo terpaksa absen sekolah karena tak memiliki kelengkapan seragam, ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Buya Gusrizal.
Baginya, pendidikan adalah hak setiap anak. Bencana alam boleh merenggut harta benda, tetapi tidak boleh merenggut masa depan generasi muda. Dengan semangat itulah, MUI Sumbar terus menggelar program kemanusiaan yang menyentuh langsung ke akar rumput.
Jelang Ramadan: Rakorda MUI Sumbar
Memasuki bulan Ramadan yang penuh berkah, MUI Sumatera Barat memiliki agenda penting. Rakorda jelang Musda MUI Sumbar dijadwalkan pada 15 Februari 2026 di gedung milik MUI Sumbar yang berlokasi di Komplek Masjid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Musda ini bukan sekadar ajang seremonial. Ini adalah momentum strategis untuk merumuskan langkah-langkah konkret MUI Sumbar dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemulihan pasca-bencana, penguatan dakwah, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
“Kita akan gunakan momentum ini untuk memperkuat koordinasi dan sinergi semua elemen umat Islam di Sumbar. Bencana mengajarkan kita bahwa kita harus lebih solid,” ujar Buya Gusrizal.
Dari Bantuan Masjid hingga Seragam Sekolah: Wujud Nyata Kepedulian
Program MUI Sumbar di bawah kepemimpinan Buya Gusrizal membuktikan bahwa lembaga keagamaan tidak hanya bicara soal fatwa dan kajian keislaman. Mereka hadir nyata di lapangan, merasakan derita rakyat, dan memberikan solusi konkret.
Dari bantuan 2 miliar untuk pembangunan masjid dan rehabilitasi rumah guru agama, hingga penyaluran bantuan tunai dan perlengkapan sekolah untuk anak-anak korban bencana – semua adalah wujud rahmatan lil alamin, kasih sayang untuk semesta.
“Alhamdulillah, ini baru awal. Insya Allah akan ada program-program lanjutan. Yang penting, anak-anak kita bisa kembali sekolah dengan kepala tegak, tidak malu lagi,” pungkas Buya Gusrizal dengan senyum penuh harap.






