MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Dari benteng tua di kaki Gunung Merapi, santri-santri Ponpes Muhammadiyah Kauman Padang Panjang sedang menulis ulang definisi pesantren: satu tangan memegang Al-Quran, tangan lainnya menggenggam algoritma AI.
Pagi itu, di sudut asrama Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, seorang santri berusia 16 tahun duduk di depan laptop. Jari-jarinya menari di atas keyboard, menyusun kode program. Sesekali ia membuka kitab kuning di sampingnya. Pemandangan aneh? Tidak di Kauman.
Tepat 98 tahun lalu, tepatnya 1927, tokoh-tokoh seperti Inyiak Rasul mendirikan pesantren ini dengan visi revolusioner: memadukan Islam dan modernitas. Buya Hamka, sang maestro yang kelak menulis Tafsir Al-Azhar, pernah menjadi kepala madrasah pertamanya. Kini, warisan itu tak sekadar dipelihara—ia dihidupkan dengan cara yang bahkan pendiri pesantren ini mungkin tak pernah bayangkan.
“Kami tidak ingin santri hanya menjadi penghafal tanpa pemahaman, atau ilmuwan tanpa akhlak,” ujar Ustaz Ahmad Fauzi, salah satu pengurus Kauman, Senin lalu. Kata-katanya mengalir datar, tapi mata itu memancarkan keyakinan. “Hari Santri bagi kami bukan upacara. Ini deklarasi perang terhadap kebodohan.”
Dari Kitab Kuning ke Kode Python
Kauman memang anomali di dunia pesantren Indonesia. Saat banyak lembaga pendidikan Islam masih berkutat pada dikotomi ilmu agama dan sains, pesantren di Kota Serambi Mekah ini malah merajut keduanya menjadi satu benang merah.
Mereka menyebut diri “The International School of Quran, Science, and Technology”—klaim yang terdengar bombastis, tapi punya bukti. Santri-santri Kauman rutin meraih medali di Festival Sains Nasional. Mereka bukan cuma hafal 30 juz, tapi juga paham teori relativitas Einstein dan prinsip kerja quantum computing.
“Dulu, saat saya bilang ingin jadi santri sekaligus ilmuwan, orang-orang mengernyit,” kenang Rifqi, alumni Kauman yang kini jadi peneliti di sebuah lembaga teknologi di Jakarta. “Kauman membuktikan, dua dunia itu bisa bersatu.”
Program unggulan mereka bernama “Santri Generasi AI”—inisiatif yang mengajarkan santri pemrograman, data science, hingga machine learning. Di ruang kelas yang sama, mereka mendiskusikan hadis Bukhari di pagi hari dan neural network di sore hari. Paradoks? Bagi Kauman, itu komplementer.
Jihad Abad 21: Melawan Ekstremisme dengan Wasathiyah
Tapi ambisi Kauman tak berhenti di penguasaan teknologi. Ada misi lebih besar: menjaga Indonesia dari ancaman perpecahan.
Di era polarisasi yang mengental, pesantren ini menjadikan wasathiyah—moderasi beragama—sebagai roh pendidikan. Santri-santri ditempa untuk menjadi garda terdepan melawan radikalisme dan ekstremisme, dua virus yang terus menggerogoti tubuh bangsa.
“Jihad kami hari ini bukan dengan senjata, tapi dengan ilmu dan akhlak,” kata Ustaz Fauzi. “Santri harus jadi perekat bangsa, bukan pemecah belah.”
Program Imam Hijrah dan Safari Ramadan menjadi medan latihan mereka. Ratusan santri dikirim ke pelosok Sumatera, menjadi imam, mengajar, dan berdakwah. Mereka membawa Islam yang ramah, yang mengayomi, yang jauh dari kesan menakutkan.
Beberapa dari mereka bahkan dikirim sebagai Duta Perdamaian Dunia—representasi Indonesia di forum-forum internasional. Dari Padang Panjang, kota kecil di Ranah Minang, suara santri Muhammadiyah bergaung hingga ke mancanegara.
Kritik Muhammadiyah yang Jadi Api Penyulut
Ketika Hari Santri pertama kali ditetapkan pemerintah, Muhammadiyah—organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia—tak langsung bersorak. Ada keprihatinan. Ada pertanyaan: apakah ini perayaan inklusif atau sekadar pengakuan untuk satu kelompok?
Tapi kritik itu bukan penolakan. Itu panggilan untuk memaknai Hari Santri lebih dalam.
“Jenderal Sudirman, Buya Hamka, dan ribuan kader Muhammadiyah lain juga berjuang merebut kemerdekaan,” Ustaz Fauzi mengingatkan. “Kontribusi mereka adalah jihad kebangsaan yang tak boleh dilupakan.”
Kini, Muhammadiyah menjadikan 22 Oktober sebagai momentum refleksi sekaligus akselerasi. Bukan sekadar seremonial, tapi titik tolak untuk melahirkan generasi santri berkualitas: yang cerdas, yang berakhlak, yang mencintai Indonesia dengan karya nyata.
Kauman: Manifesto Masa Depan Pesantren
Sore menjelang di Padang Panjang. Adzan Maghrib berkumandang dari masjid Kauman. Santri-santri bergegas ke mushala, meninggalkan laptop dan buku sains mereka. Sebentar lagi, mereka akan berwudhu, merapikan shaf, dan berdiri menghadap kiblat.
Tapi begitu salat usai, mereka akan kembali ke ruang belajar. Ada tugas coding yang harus diselesaikan. Ada hafalan Al-Quran yang harus disetorkan. Ada mimpi besar yang harus diwujudkan.
Di Kauman, santri tak lagi dipandang sebagai simbol masa lalu. Mereka adalah arsitek masa depan—generasi yang membuktikan bahwa Islam dan kemajuan bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sayap yang membuat peradaban terbang tinggi.
Dan Hari Santri 22 Oktober? Itu hanya pengingat: bahwa kobaran api semangat mereka tak akan pernah padam.






