MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Ketika dunia bergerak cepat menuju Era 5.0, yang menekankan integrasi manusia dengan teknologi untuk kesejahteraan bersama, lembaga pendidikan keagamaan dituntut beradaptasi tanpa kehilangan rohnya. Di tengah tantangan ini, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang berdiri tegak, membuktikan diri sebagai benteng penjaga tradisi sekaligus pelopor inovasi.
Berakar sejak 1927 dengan semangat pembaruan KH Ahmad Dahlan, pesantren ini telah lama mempraktikkan harmonisasi antara ilmu agama, pengetahuan umum, dan kearifan lokal Minangkabau. Kini, warisan tersebut menjadi pondasi kokoh untuk melompat ke masa depan.
Strategi Cerdas Menghadapi Gelombang Digital
Pesantren Kauman Muhammadiyah menjawab tantangan zaman dengan lima strategi utama:
1. Fusion of Faith and Technology: Di sini, kitab kuning berdialog dengan digital tools. Santri tidak hanya mendalami Quran dan hadis secara konvensional, tetapi juga mahir memanfaatkan aplikasi Al-Quran digital dan platform kajian Islam global. Yang tak kalah penting, etika berdigital (digital ethics) diajarkan sebagai bagian integral dari akhlak, membentuk santri yang cakap sekaligus bijak di ruang maya.
2. Human-Centered Education: Menyongsong era yang menempatkan manusia di pusat kemajuan, pesantren mengasah kecerdasan spiritual (SQ) dan sosial (EQ). Kehidupan asrama yang penuh nilai kebersamaan, disiplin, dan empati menjadi nursery untuk melahirkan jiwa-jiwa kolaboratif dan berempati—soft skill yang semakin berharga di dunia yang terautomasi.
3. Entrepreneurship Incubator: Pesantren ini percaya bahwa santri harus mandiri. Melalui program kewirausahaan, potensi lokal Sumatera Barat seperti tenun, kuliner Minang, dan pariwisata religi dikemas secara kreatif dan dipasarkan dengan strategi digital. Langkah ini selaras dengan semangat Era 5.0 yang mendorong solusi teknologi untuk kesejahteraan komunitas.
4. Hub of Moderation and Global Dialogue: Di tengah gaduh polarisasi di media sosial, pesantren aktif menjadi suara penyejuk. Melalui konten dakwah digital yang moderat dan ilmiah, serta dialog virtual lintas budaya, santri dibentuk menjadi duta Islam rahmatan lil ‘alamin: toleran dalam pergaulan global, teguh dalam identitas keislaman.
5. Eco-Pesantren Vision: Kesadaran akan keberlanjutan diwujudkan dalam konsep eco-pesantren. Pemanfaatan panel surya, pengolahan sampah mandiri, dan pertanian organik berbasis teknologi mengajarkan santri cinta lingkungan sekaligus menjadi laboratorium hidup bagi masyarakat sekitar.
Tantangan dan Langkah ke Depan
Jalan menuju kesempurnaan tentu berliku. Pesantren masih menghadapi tantangan seperti kesenjangan infrastruktur digital, adaptasi teknologi di kalangan pengajar senior, dan filter terhadap budaya global. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah untuk pengembangan kurikulum hybrid, pelatihan guru, dan akses teknologi yang merata menjadi kunci solusi.
Seperti falsafah Minang “Alam takambang jadi guru”, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang mengajak kita belajar dari alam, tradisi, dan kemajuan zaman. Mereka membuktikan bahwa lembaga pendidikan tradisional bisa menjadi garda terdepan inovasi, dengan tetap berpegang pada identitasnya.
Dengan menggabungkan kesalehan ritual, kedalaman ilmu, dan penguasaan teknologi, pesantren ini tidak hanya mengikuti arus, tetapi berusaha mengarahkan kemajuan teknologi dengan nilai ketauhidan dan akhlak mulia. Tujuannya satu: melahirkan generasi yang tidak sekadar smart dan connected, tetapi juga wise dan compassionate; generasi pembangun peradaban yang manusiawi dan berkeadilan di Era 5.0. (TR)






