MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Gemuruh sorak warga berbaur dengan debur ombak Pantai Padang pada Kamis (6/8/2026). Ribuan pasang mata bersinar antusias menyaksikan pawai telong telong yang semarak, sementara deru sepeda motor patroli sesekali menyelinap di antara kerumunan. Di balik kemeriahan itu, gerakan cepat dan terukur dari ratusan personel kepolisian tampak menjaga setiap sudut kawasan—sebuah orkestrasi keamanan yang membuat pesta rakyat ini berlangsung meriah tanpa kehilangan ketertiban.
Dari pagi hingga senja, langkah-langkah sigap personel Polresta Padang menghiasi jalanan menuju lokasi utama. Di bawah terik matahari, rombongan pengendara sepeda motor operasional melintas lincah, memastikan arus lalu lintas tak tersendat. Di sisi lain, petugas berseragam cokelat berdiri tegak di pintu masuk, area parkir, hingga sekitar panggung utama—mengawasi setiap geliat pengunjung dengan senyum ramah namun mata awas.
Kapolresta Padang, Kombes. Pol. Apri Wibowo, S.I.K., M.H., tak sekadar memberi arahan dari ruang rapat. Ia turun langsung memantau geliat lapangan, ditemani komandan lapangan yang tak kalah gesit. “Ini bukan sekadar pengamanan biasa. Ini bentuk kehadiran negara di tengah euforia warga,” ujarnya tegas di sela-sela peninjauan. “Ratusan personel kami bagi dalam tiga satuan—Satlantas mengurai kemacetan, Samapta mematroli tiap blok, dan Reskrim mengawasi potensi gangguan. Semua bergerak dalam satu harmoni.”
Di titik paling krusial, Kabag Ops Polresta Padang, Kompol Afrides Roema, S.H., tampil sebagai komandan lapangan yang tak kenal lelah. Dengan ponsel di telinga dan peta pengamanan di genggaman, ia bolak-balik memberi kode kepada personel di pos-pos vital. “Kami petakan titik rawan sejak H-3. Pengamanan berlapis kami terapkan—preventif dengan patroli rutin, represif jika diperlukan,” jelasnya sembari sesekali menyapa petugas posko. “Setiap personel responsif. Begitu ada kerumunan berlebih di satu titik, langsung kami pecah secara humanis.”
Suasana di pedestrian dan panggung utama terasa amat teratur—sebuah pemandangan yang kontras dengan hingar-bingar pawai. Pedagang kuliner tetap melayani pembeli, anak-anak berlarian riang, dan keluarga duduk santai di bibir pantai. Semua tanpa rasa cemas, karena setiap 100 meter tampak petugas bersiaga. Bahkan patroli mobile dengan kendaraan operasional terus berputar, menjangkau sudut-sudut yang tak terjangkau mata dari panggung utama.
Tak hanya aparat, sinergi dengan panitia pelaksana dan dinas terkait juga berjalan cair. Rapat koordinasi dadakan beberapa kali digelar di sela acara, sekadar memastikan jadwal panggung tak molor dan toilet umum tetap bersih. Hasilnya? Hingga pukul 22.00 WIB, tak ada laporan insiden berarti—hanya tawa dan riuh rendah warga yang terus mengalir.
Di penghujung malam, Kombes Apri Wibowo menyampaikan harapannya dengan senyum lega. “Kami ingin masyarakat bukan hanya menikmati sajian kuliner dan hiburan, tapi juga merasakan bahwa Padang adalah kota yang aman dan ramah. Kalau warga pulang dengan senyum, tugas kami sudah terbayar lunas.”
Dan benar, dari bibir pantai hingga pintu gerbang keluar, wajah-wajah ceria menjadi bukti paling nyata. Hari jadi kota bukan sekadar seremonial—ia telah menjadi pesta rakyat yang terjamin, tertib, dan penuh kebahagiaan.






