Tausiah Menggetarkan Buya Gusrizal: “Jangan Rebut Jabatan MUI, Ini Bukan Prestise Tapi Tanggung Jawab Akhirat”

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat mendadak berubah menjadi “ruang kuliah” keilmuan dan kearifan lokal saat pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat periode 2026-2031 berlangsung khidmat. Di hadapan ratusan pengurus dan jajaran Forkopimda Sumbar, seorang ulama kharismatik yang juga Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, menyampaikan tausiah yang tak hanya menyejukkan tetapi juga “menohok” kesadaran para pengurus.

Dengan balutan bahasa Minang yang puitis dan dalil-dalil kuat, Buya Gusrizal mengingatkan bahwa jabatan di MUI bukanlah lahan prestise atau ajang perebutan kekuasaan. “Ini adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Bukan soal LPJ diterima atau tidak, tapi apakah kita mampu menjawab di akhirat?” ujarnya dengan nada tegas namun penuh kebapakan.

Kilas Balik Sejarah yang Mengharukan

Dalam tausiahnya, Buya Gusrizal menyelipkan kisah heroik berdirinya MUI Sumbar yang ternyata 58 tahun lalu—jauh lebih tua dibanding MUI Pusat. Didirikan pada 27 Mei 1968 di Masjid Jami Birugo, Bukittinggi, lembaga ini lahir dari kesepakatan ulama-ulama besar. Ketua pertamanya, Buya Haji Mansur Daud Datuak Palimokayo, bahkan pernah diminta Buya Hamka untuk pindah ke Jakarta pindah ke Jakarta untuk ikut mengurus MUI karena beliau pernah menjadi duta besar di Irak. Buya berharap agar Buya Datuak memperkuat MUI Pusat yang baru lahir.

“Tapi jawaban Buya Datuak saat itu: ‘Biarlah ambo di kampung, tapi tolong silau-silau juolah kami.’ Itulah pengorbanan ulama pendahulu yang lebih memilih membangun dari ranah Minang,” kenang Buya Gusrizal dengan haru.

“Saya Sampai Malu Melihat 8 Kardus Buku”

Menggambarkan perubahan zaman, Buya Gusrizal bercerita tentang pengalamannya membawa pulang 8 kardus kitab dari Mesir saat menuntut ilmu dahulu. “Setelah 3 tahun berkiprah, saya malu melihatnya. Delapan kardus itu kini mengecil jadi satu CD, dan sekarang bahkan tinggal di-download!” ucapnya sambil tersenyum.

Namun di balik kemudahan akses ilmu, ia mengingatkan satu syarat yang sering dilupakan: kepribadian ulama. “Banyak yang sudah S3, habis es-nya, tapi apakah kita pantas disebut ulama kalau kepribadian tak mencerminkan keteladanan?”

Tausiah Menohok di Tengah Dinamika Kepengurusan

Dengan latar belakang 20 tahun mengabdi di MUI Sumbar dan sebelumnya di Solok mulai dari kecamatan dan sekarang di MUI pusat, Buya Gusrizal menegaskan pentingnya kedewasaan dalam berorganisasi. “Saya sengaja tidak ikut Musda. Biarlah orang Sumando nan pulang yakni Sekjen MUI Pusat Buya Amirsyah Tambunan. Tapi ingat, niniak mamak kita pantang diperlakukan tidak tepat,” katanya menyindir halus.

Ia juga menyoroti komposisi pengurus baru yang dinilai sudah sangat beragam dan inklusif. “Ada NU, Muhammadiyah, Perti, Dewan Dakwah. Ini bukti MUI adalah tenda besar umat. Tidak ada aturan bahwa pengurus MUI harus minta izin ke ormasnya. Yang menunjuk adalah formatur. Kalau pun ada yang protes, itu biasa. Tapi ingat, ridha seluruh orang adalah tujuan yang tak mungkin terjangkau,” pungkasnya.

Pesan Pamungkas: “Basilang Kayu dalam Tungku”

Mengutip kearifan lokal Minang, Buya Gusrizal mengingatkan, “Basilang kayu dalam tungku, di sinanlah nasi makonyo masak.” Api yang lahir dari persilangan kayu bisa digunakan memasak nasi, tapi jika tak arif, bisa membakar dapur.

“Kalau kita berdebat di dalam musyawarah, pandailah menggulung tikar setelah selesai. Jangan sibuk mengurus jabatan, tapi sibuklah mengurus umat,” pesannya yang disambut tepuk tangan meriah.

“Jabatan ini bukan prestise. Ini adalah tugas yang akan kita pertanggungjawabkan di akhirat. Hari ini kita bangga dengan SK dan AD/ART, tapi besok Allah bertanya dengan cara yang lain,” ucap Buya Gusrizal mengakhiri tausiahnya.

Pengukuhan yang berlangsung lancar dan penuh makna ini dihadiri langsung oleh Sekjen MUI Pusat, Dr. Amir Syah Tambunan, dan Wasekjen Ikhsan Tanjung, serta para tokoh lintas ormas. Suasana haru dan semangat kebersamaan menyelimuti aula, menandai babak baru perjalanan MUI Sumbar dalam membawa izzah, menyandang khidmah, dan menjaga wibawa keulamaan di bumi Minangkabau.

Pos terkait