Oleh: Shofwan Karim
Empat puluh hari. Itu waktu yang terasa seperti selamanya bagi delapan miliar penduduk bumi yang menahan napas. Bukan menanti kabar gembira, melainkan menebar kapan puing-puing berikutnya akan jatuh menimpa kepala mereka yang tak bersalah.
Kita semua baru saja menyaksikan sebuah tragedi besar yang dimulai sejak ujung Februari 2026. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Dan seperti biasa dalam setiap perang, yang paling menderita bukanlah para jenderal di balik meja komando, melainkan warga sipil yang hanya ingin hidup tenang bersama keluarganya.
Bayangkan angka ini: lebih dari 1.600 warga sipil Iran tewas. Pemukiman hancur. Sekolah-sekolah rata dengan tanah. Sementara di pihak Israel, puluhan nyawa juga melayang akibat serangan balasan Iran. Bukan angka yang seimbang—tapi setiap satu nyawa adalah dunia yang runtuh bagi yang ditinggalkan.
Yang paling memilukan? Semua ini terjadi setelah perundingan di Islamabad gagal total. Meja runding yang seharusnya menjadi ruang penyelamatan justru berakhir menjadi pusara harapan. Kini skeptisisme merayap: masih adakah ruang untuk percaya di tengah tumpukan abu yang terus membesar?
Perang zaman sekarang memang licin. Dulu perang klasik mudah dibaca: tentara lawan tentara, rebut wilayah, selesai. Tapi sekarang? Drone, rudal berpemandu, serangan siber—semuanya kabur. Batas antara kombatan dan warga sipil lenyap ditelan teknologi. Yang ada adalah “perang total” yang merenggut rasa aman dari setiap sudut kehidupan.
Padahal, aturan mainnya sudah jelas. Islam mengajarkan perang hanya jalan terakhir, dengan larangan tegas membunuh wanita, anak-anak, dan merusak lingkungan. Etika Kristen pun mengenal prinsip “perang yang adil” untuk melindungi yang lemah. Konvensi Jenewa sudah lama melarang serangan terhadap warga sipil, tenaga medis, dan tempat ibadah.
Tapi semua teks luhur itu hancur berkeping-keping begitu berhadapan dengan rudal sungguhan.
Jadi, apa yang harus kita lakukan?
Satu-satunya jalan rasional yang tersisa adalah memaksa semua pihak—Amerika, Iran, Israel, siapa pun itu—untuk menanggalkan ego militeristik mereka. Duduk kembali di meja perundingan. Tapi kali ini dengan kejujuran yang baru. Bukan untuk mencari siapa yang menang, melainkan mengakui bersama bahwa kemanusiaan sudah kalah telak.
Kita semua makhluk di planet yang sama. Tidak ada yang benar-benar ingin hancur. Kita hanya ingin hidup dalam harmoni. Perdamaian tanpa syarat harus menjadi satu-satunya agenda. Karena pada akhirnya, tidak ada perang yang bisa melahirkan perdamaian.
Itu bukan sekadar slogan. Itulah satu-satunya cara agar peradaban ini tidak berakhir menjadi abu di meja runding.
/* Penulis adalah seorang Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar





