MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana haru sekaligus semangat membara terasa di halaman Kampus Universitas Ekasakti-AAI Padang, Rabu (29/7/2026). Sebanyak 886 mahasiswa resmi dilepas untuk mengabdi dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tahun ini mengusung misi besar: menggali potensi nagari dan melesatkan ekonomi kreatif dari pelosok nagari.
Pelepasan yang berlangsung khidmat itu dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Sumbar, Ir. Yozarwardi Usama Putra, S.Hut, M.Si, IPU. Didampingi Rektor Universitas Ekasakti-AAI Padang, Prof. Sufyarma Marsidin, serta jajaran pimpinan universitas dan perangkat daerah terkait, prosesi ditandai dengan sesi foto bersama sebagai simbol dimulainya perjalanan pengabdian selama 40 hari ke depan.
Para mahasiswa tidak hanya akan berkarya di berbagai nagari di wilayah Sumatera Barat, tetapi juga tersebar hingga ke luar daerah. Dengan tema besar “Pemberdayaan Masyarakat untuk Akselerasi Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif: Menggali Potensi, Mengembangkan Destinasi,” mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa angin segar bagi pengembangan pariwisata dan usaha kreatif di tingkat nagari.
Dalam sambutannya, Yozarwardi menekankan bahwa KKN jauh lebih dari sekadar kewajiban akademik. “Ini adalah panggung sesungguhnya bagi mahasiswa untuk belajar menjadi pemimpin. Belajar mengoordinasikan kegiatan, membangun kerja sama, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Meskipun sebagian besar mahasiswa berasal dari nagari, setiap desa yang akan dikunjungi memiliki karakter, budaya, dan potensi yang berbeda-beda. Di situlah tantangan dan pelajaran berharga itu berada,” ujarnya penuh semangat.
Ia pun berpesan agar para mahasiswa segera menjalin komunikasi erat dengan kepala desa, perangkat nagari, hingga tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, kunci sukses KKN adalah adaptasi cepat dan sinergi dengan warga. “Jadilah bagian dari mereka, dengarkan, lalu ciptakan solusi,” tegasnya.
Lebih jauh, Yozarwardi menyebut momen ini sebagai kesempatan emas bagi mahasiswa untuk memetakan potensi nagari secara mendalam—mulai dari sektor wisata, ekonomi kreatif, hingga sumber daya lokal lainnya yang selama ini mungkin terpendam. “Hasil kajian adik-adik sekalian nantinya tidak hanya menjadi dokumen akademik, tapi juga rujukan berharga bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan desa. Ini adalah kontribusi nyata yang sangat kami nantikan,” tambahnya.
Pemprov Sumbar sendiri berharap melalui KKN ini, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah semakin kokoh. Kolaborasi tersebut diyakini mampu mendorong pembangunan nagari yang berbasis pada potensi lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, Rektor Universitas Ekasakti AAI Padang, Prof. Sufyarma Marsidin, dalam arahannya mengingatkan para mahasiswa untuk tidak sekadar menjalankan rutinitas kuliah. “Transformasikan ilmu yang kalian dapat di kampus menjadi kreativitas intelektual dan inovasi yang berdampak nyata. Jadikan KKN sebagai momentum bersejarah untuk berkarya di tengah masyarakat. Hadirkan solusi, ciptakan perubahan, dan tinggalkan jejak yang berguna bagi kemajuan daerah,” pesannya dengan nada menggugah.
Prof. Sufyarma juga menegaskan bahwa program ini selaras dengan paradigma pendidikan tinggi berbasis dampak yang digagas oleh Kemendiktisaintek. KKN dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan dunia akademik, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mempercepat pembangunan, khususnya di wilayah terpencil. “Ciptakan dan wujudkan inovasi sesuai potensi dan kondisi di lokasi masing-masing. Biarkan pengabdian ini berkesan dan membawa manfaat signifikan bagi kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.
Tak hanya mendapat dukungan dari dalam negeri, program KKN Unes-AAI kali ini juga menuai apresiasi dari akademisi internasional. Dr. Abdul Hamid, Dosen Universiti Tun Hussein Onn Malaysia yang turut hadir, mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem KKN di Indonesia terutama di ranah minang.
“Indonesia memiliki kekuatan luar biasa karena mahasiswanya sudah dibiasakan untuk berkhidmat dan berbakti kepada masyarakat sejak duduk di bangku kuliah. Ini nilai besar dalam membentuk karakter,” ujarnya.
Ia membandingkan dengan sistem di Malaysia, di mana kegiatan pengabdian masyarakat masih bersifat sukarela dan belum menjadi mata kuliah wajib seperti di Indonesia. “Di negeri kami, perguruan tinggi lebih fokus pada program praktik industri. Jadi, saya sangat mengapresiasi komitmen Indonesia dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga peka terhadap kebutuhan sosial,” pungkasnya.
Dengan bekal semangat, ilmu, dan dukungan penuh dari berbagai pihak, 886 mahasiswa Universitas Ekasakti-AAI Padang kini siap melangkah ke pelosok nagari. Bukan sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan, tetapi untuk menjadi bagian dari sejarah pembangunan desa yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.





