Resmi Sandang Gelar Doktor, Disertasi Buya Syamsul Akmal Ungkap Fakta mencengangkan soal Pengelolaan Keuangan Pesantren

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Menjelang penghujung Juli yang syahdu, sebuah kabar membanggakan datang dari Kota Padang. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat kembali menorehkan prestasi. Bendum MUI Sumbar terpilih, Buya Syamsul Akmal, S.Ag, M.M, atau yang bergelar adat Tuanku Putih, resmi menyandang gelar doktor baru. Capaian ini ia raih setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Doktor Administrasi Pendidikan di Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (29/7/26).

Sosok Buya Syamsul bukanlah orang baru di kancah pendidikan dan keagamaan Sumatera Barat. Kiprahnya begitu terlihat. Ia adalah Bendahara Ummat MUI Sumbar yang dipercaya mengelola amanah umat. Namun, di luar itu, ia adalah penggerak utama di balik Yayasan Shine Al-Falah dan sekaligus memegang tampuk pimpinan di Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau, yang kini menaungi sekitar 960 santri. Di pesantren yang ia pimpin, ia dikenal gigih memadukan nilai-nilai agama Islam yang kental dengan kearifan lokal adat Minangkabau, sebuah perpaduan yang menarik perhatian banyak pihak.

Dalam disertasinya yang berjudul “Sistem Pengelolaan Keuangan Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau Padang”, Buya Syamsul mengangkat sebuah isu yang sangat fundamental bagi keberlangsungan pendidikan di pesantren. Bagaimana tidak? Pengelolaan keuangan adalah nadi yang menjamin efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.

Penelitian yang dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif evaluatif ini mengungkap fakta menarik di lapangan. Sistem pengelolaan keuangan di pondok pesantren yang ia pimpin memang telah berjalan melalui empat tahapan penting—perencanaan, penggunaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban. Namun, di balik itu semua, Buya Syamsul dengan jujur mengakui bahwa sistem tersebut belum sepenuhnya optimal.

Pertama, dari sisi perencanaan keuangan, penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Pesantren (RKAP) ternyata telah melibatkan berbagai unsur pesantren secara partisipatif. Sebuah langkah demokratis yang patut diapresiasi. Namun, ia menemukan masih perlunya penguatan dalam penentuan prioritas kebutuhan dan sinkronisasi program agar anggaran benar-benar tepat sasaran.

Kedua, dalam hal penggunaan anggaran, meskipun telah mengacu pada RKAP, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sering terjadi penyesuaian. Perubahan kebutuhan operasional dan faktor eksternal kerap memaksa pengelola untuk melakukan revisi di tengah jalan—sebuah tantangan klasik yang membutuhkan fleksibilitas sekaligus kedisiplinan.

Ketiga, aspek pengawasan keuangan menjadi sorotan berikutnya. Buya Syamsul menemukan bahwa monitoring, evaluasi, dan pemeriksaan administrasi telah berjalan, namun masih terhambat oleh keterbatasan sumber daya manusia dan belum optimalnya sistem digitalisasi keuangan. Di era serba digital ini, ia menyadari bahwa pesantren perlu beradaptasi agar pengawasan lebih efektif dan transparan.

Keempat, soal pertanggungjawaban keuangan, laporan keuangan memang telah disusun secara berkala. Namun, masih ditemukan keterlambatan dan ketidaktertiban administrasi pada beberapa unit—sebuah “pekerjaan rumah” yang harus segera dibenahi.

Dari seluruh temuan tersebut, Buya Syamsul menarik sebuah kesimpulan penting: pengelolaan keuangan pesantren merupakan sebuah sistem yang terintegrasi. Keberhasilan tidak bisa berdiri di satu aspek saja. Dibutuhkan penguatan pada perencanaan berbasis kebutuhan, konsistensi penggunaan anggaran, pengawasan berkelanjutan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta digitalisasi sistem keuangan. Semua itu ia rumuskan sebagai kunci untuk mewujudkan tata kelola yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

Prestasi ini semakin melengkapi rekam jejak pendidikannya yang telah ditempuh sejak lama. Dimulai dari Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang pada 1999, kemudian meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Negeri Padang pada 2008. Kini, gelar Doktor dari kampus yang sama menjadi mahkota baru dalam perjalanan intelektualnya.

Selamat kepada Buya Syamsul Akmal! Semoga ilmu yang didapatkan semakin membawa berkah bagi pesantren, masyarakat, dan dunia pendidikan di Sumatera Barat. Dari hasil risetnya, kita semua berharap Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau akan semakin maju dengan tata kelola keuangan yang lebih baik, demi mencetak generasi santri yang unggul dan berakhlak mulia.

Related posts