Banjir Bandang Terjang Solok, Irman Gusman Bongkar Jurus Besar: Jangan Cuma Tanggap Darurat, Ada “The New Master Plan”!

MINANGKABAUNEWS.com, SOLOK — Deru alat berat dan tumpukan material banjir masih mewarnai sejumlah titik di Kabupaten Solok. Di tengah suasana pemulihan itu, Senator RI Irman Gusman datang meninjau langsung dampak banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah pada 21 September lalu. Kunjungan kerja reses itu dilakukan Jumat (9/10/2026). Namun, yang dibawa Irman bukan sekadar simpati. Ia membawa gagasan besar: The New Master Plan.

Mantan Ketua DPD RI dua periode ini menilai, bencana harus menjadi titik balik. Bukan hanya bagi warga yang terdampak, tetapi juga bagi cara pemerintah daerah merencanakan masa depan. Menurutnya, Kabupaten Solok membutuhkan rencana induk pembangunan yang mengintegrasikan mitigasi bencana, penguatan ekonomi daerah, dan pelestarian lingkungan.

“Solok tidak sendiri. Kita harus memastikan masyarakat terdampak mendapatkan penanganan terbaik. Solidaritas pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten merupakan kekuatan besar dalam mempercepat pemulihan,” ujar Irman.

Ia pun mendorong Pemerintah Kabupaten Solok menyusun The New Master Plan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Bagi Irman, penanganan darurat memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan. Bencana, katanya, harus menjadi momentum untuk mengevaluasi tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur, terutama di kawasan rawan bencana.

“Penanganan darurat tentu penting, tetapi kita tidak boleh berhenti di sana. Kita harus berani memikirkan masa depan Solok melalui perencanaan yang lebih komprehensif, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Solok memperpanjang masa tanggap darurat hingga 12 Oktober 2026. Langkah itu diambil untuk mempercepat pembersihan material bencana dan pengerahan alat berat. Sebanyak 19 rumah yang mengalami kerusakan berat direncanakan dibangun kembali melalui relokasi ke kawasan yang lebih aman. Kementerian Pekerjaan Umum juga menunjuk BUMN Karya untuk mendukung pembangunan sabodam guna mengendalikan sedimen.

Sebagai Ketua Dewan Pembina MDMC Sumbar, Irman menekankan pentingnya memasukkan manajemen risiko bencana ke dalam kebijakan pembangunan. Ia bahkan mendorong kajian skema pembiayaan seperti asuransi kebencanaan agar risiko fiskal daerah tidak membengkak saat bencana datang.

Hutan 60 Persen, Peluang Ekonomi Baru

Tidak berhenti pada mitigasi, Irman juga menyoroti potensi ekonomi hijau. Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu mendorong pengembangan perdagangan karbon atau carbon trading sebagai peluang ekonomi baru bagi Kabupaten Solok.

Dengan kawasan hutan yang disebut mencakup sekitar 60 persen wilayahnya, Solok dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis pelestarian lingkungan. Namun, Irman mengingatkan, realisasinya membutuhkan kajian teknis, verifikasi potensi karbon, kepastian regulasi, dan kemitraan strategis.

“Kelestarian hutan harus kita pandang sebagai aset strategis daerah. Melalui pengelolaan yang tepat, kita bisa menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang sumber penerimaan baru bagi daerah,” katanya.

Ia juga mendorong integrasi sektor pertanian, pariwisata, dan perlindungan lingkungan, terutama di kawasan Alahan Panjang yang memiliki potensi hortikultura dan wisata alam. Pelibatan akademisi serta penjajakan kerja sama internasional, termasuk dengan Korea Selatan, dinilai dapat memperkuat perencanaan tata ruang dan pengembangan teknologi mitigasi bencana.

Kawal Pemulihan sampai ke Pemerintah Pusat

Sebagai Ketua Dewan Pengawas DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM), Irman menegaskan komitmennya mengawal kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi Kabupaten Solok. Menurutnya, fungsi kelembagaan DPD RI akan dimaksimalkan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan.

“Yang kita inginkan bukan hanya Solok kembali pulih, tetapi Solok bangkit menjadi daerah yang lebih tangguh, maju, dan berkelanjutan. Musibah ini harus menjadi titik balik untuk membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Melalui The New Master Plan, Irman berharap Kabupaten Solok mampu menjadikan pemulihan pascabencana sebagai momentum pembenahan tata ruang, penguatan ekonomi lokal, dan pembangunan daerah yang lebih tangguh terhadap bencana. Jika direncanakan dengan serius, banjir bandang bukan akhir cerita—melainkan awal bangkitnya Solok.

Pos terkait