MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Senyumnya hilang, hatinya luka, dan amarahnya meledak. Seorang siswa kelas XII MAN 3 Balai Gadang, Padang, nekat merakit dan meledakkan bom molotov di sekolahnya, Selasa (14/7/2026). Motifnya? Rasa kesal yang terpendam karena selama ini ia kerap menjadi bulan-bulanan perundungan atau bullying.
Namun di balik aksi mengerikan itu, tersimpan kisah pilu yang justru mengundang empati. Pelaku berinisial R ini bukanlah anak nakal, melainkan korban yang sudah kehilangan arah. Ledakan bom itu ditujukan kepada teman-temannya yang kerap menyiksanya. Beruntung, target yang ia tuju berada di balik tembok dan tidak terkena dampak ledakan.
Kapolresta Padang Kombes Pol Apri Wibowo mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan, R mengaku bertindak sendirian karena emosi yang meluap-luap. “Setelah kami cek, ada seorang siswa berinisial R. Karena rasa kesal dan sering dibully oleh temannya, yang bersangkutan kemudian meluapkan emosinya dengan melakukan hal tersebut,” ujarnya.
Polisi mengamankan satu bom molotov yang telah meledak, tiga bom rakitan aktif, serta ketapel dan kelereng dari dalam tas pelaku. Barang-barang itu diduga disiapkan untuk melampiaskan kemarahannya.
Tapi kini, alih-alih hanya menghukum, berbagai pihak justru mengajak untuk merangkul R. Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumbar, Ade Herdiwansyah, dengan tegas menyatakan bahwa persoalan bullying harus ditangani secara komprehensif.
“Saya tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini. Persoalan bullying adalah persoalan yang berulang. Anak ini butuh banyak dukungan dan support. Sentuhlah hatinya, perbaiki psikologinya, dan karantina dia dari hal-hal negatif. Bangkitkan kepercayaan dirinya untuk menggapai masa depan,” ujar Ade penuh haru.
Seruan pun mengalir deras. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diminta turun tangan, sekolah diminta memantau psikologis R, dan semua pihak diajak bersama-sama memberikan pelukan serta kasih sayang.
Ini bukan sekadar soal bom yang meledak. Ini tentang suara anak yang tak terdengar, tangis yang tertahan, dan pelukan yang tak kunjung tiba. Kini saatnya kita semua bergerak. Bukan dengan amarah, tapi dengan cinta.
Karena menyelamatkan satu anak, berarti menyelamatkan masa depan bangsa. Ini PR kita bersama.

