MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Langit Sumbar masih terik saat rombongan Pemuda Muhammadiyah mulai bergerak. Bukan untuk rekreasi biasa, mereka memilih ‘jalan-jalan’ yang menusuk hati—menyambangi enam panti asuhan dalam satu sore, lengkap dengan bantuan dan makan bersama, Ahad, (26/4/2026).
Road to Panti Asuhan ini digelar dalam rangka semarak Milad Pemuda Muhammadiyah ke-94. Start dari Panti Ummatul Yakin, Ambuang Kapur, tepat pukul 13.00Wib. Aba-aba perjalanan pun dimulai.
Lokasi pertama dihabisi dengan hangat. Selang satu setengah jam, rombongan melesat ke Panti Amal Bakti, Sicincin pukul 14.30Wib. Tak lama berselang, giliran Panti Al Kautsar, Pakandangan pukul 15.15wib. Jarak dan waktu dipangkas dengan semangat.
Pukul 16.00, mereka singgah di Panti Mukkaramah, Pauh Kambar. Hanya setengah jam berselang, Panti Bakti Lubuk Alung (16.30) disambangi. Dan tepat pukul 17.00, rangkaian ini ditutup di Panti Aisyah, Lubuk Alung.
Di setiap panti, acaranya sederhana tapi dalam: makan bersama dan penyaluran bantuan. Tak hanya pengurus PWPM Sumbar dan PDPM Padang Pariaman, aksi ini juga diikuti PDPM Pasbar, Maarif Network, Mampir Dongeng (Kak OB), hingga komunitas Tuah Talamau.
Setelah perjalanan panjang itu, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumbar, Ade Herdiwansyah, menyampaikan rasa syukurnya dengan penuh haru sekaligus optimis.
“Alhamdulillah hari ini, Minggu (6/4/2026), kita telah menuntaskan road to panti asuhan. Panti asuhan adalah cikal bakal pemuda yang membangun bangsa ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ade menegaskan bahwa kegiatan ini tak akan berhenti di tahun ini. “Kegiatan ini akan menjadi kalender rutin tahunan pemuda Muhammadiyah. Panti asuhan yang dikunjungi tidak hanya panti asuhan Muhammadiyah. Dari enam yang kita datangi hari ini, hanya dua yang berasal dari ormas Muhammadiyah, selebihnya dari ormas lain. Itu bentuk komitmen kami untuk menebar manfaat tanpa sekat.”
Dengan semangat inklusif itu, sore di Lubuk Alung pun ditutup dengan tawa anak-anak panti dan hangatnya kebersamaan. Sebuah pengingat: kepedulian tak perlu menunggu momen besar—cukup mulai dari panti terdekat, dari hati yang paling tulus.






