Bukan Sekadar Mimpi! Direktur Pascasarjana UM Sumbar Ungkap Kode Rahasia Agar Doa Tak Pernah Tertolak di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Di bulan penuh ampunan ini, setiap lantunan doa diyakini memiliki kekuatan luar biasa. Namun, masih banyak di antara kita yang mungkin bertanya-tanya, sudahkah kita berdoa dengan cara yang benar? Seberapa dekatkah kita dengan Sang Pencipta sehingga doa-doa itu diijabah?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar itulah yang coba dijawab secara gamblang oleh Dr. Mursal, M.Ag, Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, dalam tausiah Ramadhan hari ke-12 yang berlangsung di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Sabtu (28/2/2026) malam .

Dengan suara khasnya yang teduh namun penuh semangat, Dr. Mursal mengajak seluruh jamaah yang memadati masjid untuk merenungkan sebuah ayat yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 186. Ayat ini, menurutnya, adalah jawaban langsung dari Allah atas kegelisahan manusia tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuhannya.

“Lihatlah keistimewaan ayat ini,” ujar Dr. Mursal mengawali kajiannya. “Biasanya, jika ada sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang sesuatu, maka Allah akan berfirman, ‘Katakanlah wahai Muhammad…’. Tetapi dalam ayat ini, ketika mereka bertanya tentang Allah, Allah langsung menjawab tanpa perantara. Ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya yang berdoa .”

Dr. Mursal kemudian membacakan ayat tersebut dengan lantunan merdu yang membuat suasana masjid semakin khusyuk:

Arab: وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Latin: Wa idzā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘watad-dā‘i idzā da‘āni falyastajībū lī walyu’minū bī la‘allahum yarsyudūn

Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186) .

Di hadapan jamaah yang terdiam khidmat, Direktur Pascasarjana UM Sumbar itu lantas mengupas tuntas “kode rahasia” di balik ayat tersebut. Ia menjelaskan, ada beberapa pesan kunci yang harus dipahami agar doa tidak sekadar menjadi hafalan, tetapi juga menjadi kekuatan yang menggetarkan langit.

1. Allah Lebih Dekat dari Urat Leher

Pertama, kata Dr. Mursal, Allah menegaskan posisi-Nya yang Maha Dekat. “Jangan pernah merasa doa kita tidak didengar. Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Namun, kedekatan ini bukan soal jarak, karena Allah tidak bertempat, melainkan kedekatan dalam ilmu dan ijasabah (pengabulan). Allah Maha Mendengar, tidak memerlukan pengeras suara. Cukup dengan bisikan hati yang tulus, Allah sudah mengetahui dan mendengarnya ,” terangnya, mengutip tafsir dari ulama klasik seperti Abu Hayyan.

2. Syarat Mutlak Agar Doa Diijabah

Kedua, ia menyoroti bagian akhir ayat yang sering luput dari perhatian, yaitu “falyastajībū lī” (hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku). Menurutnya, ini adalah syarat mutlak agar doa diijabah.

“Banyak orang yang hanya fokus pada ‘ujību’ (Aku kabulkan), tapi lupa pada ‘falyastajībū lī’ (maka penuhilah perintah-Ku). Ini adalah kontrak spiritual. Jika kita ingin Allah memenuhi permintaan kita, maka kita harus terlebih dahulu memenuhi perintah-Nya. Perintah-Nya itu apa? Shalat, puasa, zakat, jujur, amanah, dan menjauhi larangan-Nya. Jangan sampai kita rajin berdoa, tapi lalai menjalankan perintah-Nya ,” pesan Dr. Mursal yang disambut anggukan setuju dari para jamaah.

3. Makna Doa yang Sesungguhnya

Lebih jauh lagi, Dr. Mursal menjelaskan dua makna doa yang terkandung dalam ayat tersebut. Pertama, doa sebagai permohonan ( tholab ). Kedua, doa sebagai ibadah. Beliau mengutip hadis Nabi yang terkenal, “Doa adalah ibadah.”

“Ketika kita berdoa meminta harta, kesehatan, atau jodoh, itu adalah permohonan. Tetapi ketika kita berdoa dengan penuh kesadaran, merendahkan diri di hadapan Allah, itu adalah ibadah. Bahkan jika apa yang kita minta belum juga terwujud, nilai ibadah dari doa kita tetap ada di sisi Allah. Bisa jadi Allah tidak memberi apa yang kita minta, tapi Dia berikan yang lebih baik, atau Dia jauhkan kita dari bahaya yang tidak kita sadari ,” paparnya menukil penjelasan Syekh Nawawi Al-Bantani.

Menutup tausiahnya, Dr. Mursal mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan sisa-sisa Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Ia mengingatkan kembali sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa kita tidak berdoa kepada Dzat yang tuli atau jauh.

“Wahai jamaah sekalian, lirihkanlah suara kalian, karena kita berdoa kepada Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia yang kita panggil lebih dekat kepada kita daripada leher kendaraan kita . Maka, perbanyaklah istighfar, perbanyaklah doa, dan buktikan dengan amal saleh,” tutupnya.

Tausiah yang dikemas dengan bahasa ringan namun mendalam itu pun membuat jamaah yang hadir merasa mendapat pencerahan baru. Mereka tidak lagi sekadar membaca doa, tetapi mulai memahami dan menghayati kedekatan agung dengan Sang Khaliq di malam-malam suci Ramadhan ini.

Related posts