BUYA GUSRIZAL GAZAHAR BONGKAR 3 LOKASI MAKHLUK LUPA DARATAN! Di Sini Manusia Tak Peduli Ayah & Ibu Sendiri!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Ramadan telah tiba. Bulan yang dinanti-nanti umat Islam ini sering disebut sebagai madrasah, tempat orang-orang beriman kembali belajar, membersihkan diri, dan mempererat tali silaturahmi. Namun di balik gemerlapnya keberkahan bulan penuh ampunan, tersimpan sebuah pengingat yang sangat keras tentang realitas akhirat yang sering kita lupakan.

Dalam sebuah tausiah Ramadan yang menggetarkan jiwa di sebuah masjid, Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, melukiskan tiga kondisi dahsyat yang kelak akan dialami setiap manusia. Kondisi di mana solidaritas keluarga, pertemanan, bahkan cinta kasih orang terdekat, luluh lantak menjadi keegoan individu.

Read More

“أَمَّا فِي سَلَاثَةِ مَوَاطِن فَلَا يَذْكُرُ أَحَدٌ أَحَدًا,” ujar Buya Gusrizal membuka penggalan ceramahnya yang sontak membuat jamaah terdiam. Artinya, “Ada di tiga tempat, tidak seorang pun akan ingat dengan siapa pun.”

Lokasi Pertama: Timbangan Tak Terampuni

“Yang pertama, حِينَ تُوضَعُ الْمَوَازِينُ,” jelas Buya dengan suara berat. “Ketika ditegakkan timbangan untuk menimbang amal saleh seseorang.”

Di Padang Mahsyar yang maha luas, seluruh mata hanya tertuju pada satu hal: timbangan amal. Buya Gusrizal menegaskan bahwa siapa pun, baik ayah, ibu, anak, atau saudara kandung, tak akan peduli dengan orang di sekitarnya.

“حَتَّى يَعْلَمَ أَيَذْقُلُ مِيزَانُهُ بِالْحَسَنَاتِ أَمْ يَخِفُّ,” lanjut Buya.

Setiap jiwa terhipnotis oleh nasibnya sendiri. Apakah amal kebaikanku cukup berat untuk mengalahkan timbangan kemaksiatanku? Atau justru timbanganku ringan, pertanda kebangkrutan? Di saat itulah, tegas Buya, tak ada waktu untuk menoleh ke kanan atau ke kiri.

Lokasi Kedua: Kitab yang Berterbangan

Tempat kedua tak kalah mencekam. “وَحِينَ تَطَايَرَ الْقُطُبُ,” kata Buya Gusrizal. “Ketika kitab-kitab catatan amal berterbangan.”

Buya menggambarkan betapa mencekamnya saat lembaran-lembaran catatan seumur hidup berhamburan di udara. Setiap orang sibuk menangkap kitabnya masing-masing.

“هَا أُمُكْرَأُ كِتَابِيَة,” Buya menirukan seruan yang akan terdengar saat itu. “Ini dia, bacalah kitabmu sendiri!”

Ketegangan mencapai puncak saat manusia menunggu dari arah mana kitab itu akan jatuh. “أَتَّى يَعْلَمَ أَيْنَ يُوضَعُ. يَمِينًا أَمْ شِمَالًا أَمْ وَرَاءَ ظَهْرِهِ,” terang Buya.

Di kanankah, pertanda catatan baik dan keberuntungan? Ataukah dari arah kiri atau bahkan dari belakang punggung, yang menandakan kebinasaan? Menurut Buya Gusrizal, pada saat itu, siapapun yang kau cintai tak akan bisa memberitahumu nasib kitabmu. Semua sibuk dengan kitabnya masing-masing.

Lokasi Ketiga: Jembatan di Atas Neraka

Puncak dari segalanya adalah saat جِسْرُ, jembatan, dibentangkan.

“وَحِينَ يُنْصَبُ الْجِسْرُ وَالسِّرَى فَوْقَ ظَهْرِ جَهَنَّم,” ungkap Buya dengan suara yang dalam dan penuh penghayatan. “Ketika jembatan dan jalan terbentang di atas punggung neraka Jahannam.”

Jembatan Shiratal Mustaqim, setipis rambut dan setajam pedang, menghampar di atas kobaran api neraka. Semua makhluk diperintahkan untuk melintas. Tujuan hanya satu: sampai di seberang, yaitu surga.

“حَتَّى يَجُوزَ,” tegas Buya. “Sampai dia bisa melewatinya.”

Di atas jembatan itu, setiap langkah adalah perjuangan mati-matian. Guncangan angin, gelapnya suasana, dan panasnya api dari bawah membuat setiap insan hanya fokus pada pijakan kakinya sendiri. Buya mengingatkan, tak ada waktu untuk menarik tangan orang lain. Tak ada ruang untuk mengingatkan. Semua tenggelam dalam upaya menyelamatkan diri.

Pesan Ramadan Buya Gusrizal: Saatnya Saling Mengingat Sebelum Terlambat

Buya Gusrizal kemudian menarik benang merah dari ketiga gambaran dahsyat itu ke hadirat bulan Ramadan.

“Ramadan telah tiba. Saatnya kita jadikan Ramadan ini madrasah, pesantren kilat. Saatnya kita kembali, ” pesannya dengan nada menggetarkan jiwa.

“Lihat orang-orang di sekitar kita dan diri kita sendiri. Selagi kita masih bisa mengingat mereka. Selagi kita masih bisa memperingatkan mereka. Sebelum tiba tiga tempat itu. ”

Maka, tegas Buya, bangkitlah wahai kaum muslimin. Berilah nasihat kepada keluarga. Bulan Ramadan adalah bulan untuk saling mengingatkan. Jika ada yang lalai, ingatkan. Jika ada yang lupa, tegur.

Buya lalu mengingatkan teladan junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Ketika Ramadan tiba, beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah. Begitu pula Malaikat Jibril yang turun setiap malam untuk bertadarus Al-Quran kepada Nabi. Tujuannya jelas: mengokohkan dan mengingatkan.

“Selama masa mengingatkan masih ada, jangan kita lalaikan. Karena akan tiba tiga waktu dan keadaan nanti, kita tidak lagi punya kesempatan untuk memperingatkan. Bahkan mengingat saja kita sudah tidak mampu, ” pungkas Buya Gusrizal.

Ramadan adalah anugerah. Gunakan waktu yang tersisa ini untuk merengkuh keluarga, membimbing anak, dan mengingatkan saudara. Karena di Padang Mahsyar nanti, tangis dan teriakan minta tolong tak akan lagi berarti. Semua sibuk dengan dirinya sendiri.

Related posts