MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Dalam sebuah kajian fiqh yang digelar belum lama ini, ulama kharismatik asal Ranah Minang yang juga menjabat Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, menyampaikan sebuah tausiah mendalam tentang akar segala kejahatan manusia. Mengutip rumusan Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah yang dinukilkan dalam kitab Bahjatul Majalis wa Unsul Mujalis karya Al-Imam Ibnu Abdil Bar, Buya Gusrizal menyebut ada tiga pangkal keburukan yang menjadi muara dari segala perilaku buruk manusia: al-hirsu (rakus), al-hasadu (dengki), dan al-kibru (sombong).
“Beliau mengatakan, usulus syarri tsalasah — asal dari kejahatan itu ada tiga,” ujar Buya Gusrizal membuka kajiannya di hadapan jemaah. Ia menekankan bahwa ketiga hal ini bukan hanya teori, melainkan bisa hinggap kepada siapa saja, kecuali para nabi dan rasul yang terjaga dari dosa. “Tidak ada yang maksum dari ini melainkan nabi dan rasul,” tegasnya.
Buya Gusrizal kemudian mengupas satu per satu ketiga akar kejahatan tersebut. Yang pertama, al-kibru atau kesombongan. Ia menjelaskan bahwa iblis adalah makhluk pertama yang durhaka kepada Allah, dan penyebabnya adalah kesombongan. Dalilnya adalah firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 12, ketika iblis ditanya mengapa enggan sujud kepada Adam. “Iblis menjawab dengan sombong, ana khairum minhu — saya lebih baik darinya. Aku diciptakan dari api, sedangkan dia dari tanah,” tutur Buya.
Menurut Buya, jawaban iblis itu menunjukkan dua kriteria kesombongan yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu batharul haq (menolak kebenaran) dan ghamtun nas (merendahkan orang lain). “Iblis tahu bahwa yang memerintahkan adalah Khaliknya, tapi tetap dibantahnya. Itu batharul haq. Lalu ia memandang rendah Adam, itu ghamtun nas,” jelasnya.
Buya juga mengingatkan hadis Nabi bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi. “Sikap sombong bukanlah sikap penduduk surga. Allah berfirman, fahbith minha — turunlah engkau dari surga, tidak ada kepantasannya engkau bersikap takabur di dalamnya,” paparnya.
Namun, Buya meluruskan pemahaman keliru di masyarakat yang menganggap penampilan rapi atau bagus sebagai bentuk kesombongan. Ia mengutip hadis, innallaha jamilun yuhibbul jamal — sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. “Jadi jangan dikatakan orang berpakaian bagus itu sombong. Selama tidak melampaui batas batharul haq dan ghamtun nas, ia terhindar dari takabur,” terangnya.
Akar kedua adalah al-hasadu atau dengki. Buya Gusrizal mengaitkan hal ini dengan kisah pembunuhan pertama di muka bumi, yakni Qabil yang membunuh Habil. Menurut Al-Hasan Al-Bashri, penyebabnya adalah kedengkian. “Ia tidak rela saudaranya mendapatkan kelebihan, dan ingin nikmat itu hilang dari orang lain. Itulah hasad,” ujarnya.
Buya menyebut bahwa hasad adalah penyakit berbahaya yang bisa melahirkan fitnah, berita hoaks, hingga permusuhan. “Merasa gelisah ketika melihat orang lain mendapatkan keberuntungan, merasa apa yang diperoleh orang lain semestinya untuk dirinya. Dia lupa bahwa Allah tidak pernah salah dalam membagi rezeki,” tambahnya.
Akar ketiga adalah al-hirsu atau rakus. Buya menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki syahwat, dan itu adalah fitrah. Islam tidak mengajarkan membunuh syahwat, melainkan tahdzib — mendidik dan mengontrolnya. “Tidak ada kerahiban dalam Islam. Syahwat itu diciptakan Allah untuk kemaslahatan manusia, tapi harus dikendalikan dengan syariat,” tegasnya.
Ia mengutip hadis Nabi bahwa seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, ia akan mencari lembah ketiga. “Itulah gambaran kerakusan yang tidak ada habisnya. Karena itu, halal dan haram dijaga agar syahwat tidak mengendalikan manusia,” ujarnya.
Buya juga mengingatkan bahaya memperturutkan pandangan mata. “Kalau engkau biarkan matamu menjadi kendali, engkau akan dibuat letih oleh apa yang engkau lihat. Semua yang indah ingin kau raih, padahal tidak semua bisa terjangkau. Akibatnya bukan kebahagiaan, tapi kegelisahan,” pesannya.
Dalam sesi tanya jawab, seorang jemaah bertanya tentang sikap iri terhadap keilmuan orang lain dan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Buya Gusrizal menjawab bahwa dalam syariat, ada dua hal yang dibolehkan untuk diiri, yaitu orang yang diberikan harta lalu menggunakannya di jalan yang benar, dan orang yang diberikan al-hikmah (ilmu dan pemahaman) lalu mengajarkannya kepada orang lain. “Jadi tidak ada alasan untuk berhenti belajar. Batas menuntut ilmu tidak ada dalam Islam,” tegasnya.
Terkait AI, Buya mengingatkan bahwa teknologi itu memiliki dua sisi, tergantung penggunanya. “AI itu bukan ilmunya, tapi datanya. Ia bisa benar dan bisa salah. Banyak ayat atau hadis yang salah tulis dalam hasil AI jika tidak ditimbang dengan ilmu. Karena itu, pergunakan AI dengan wawasan keilmuan yang memadai,” pesannya.
Buya menutup kajian dengan mengingatkan bahwa apa pun yang diperoleh manusia, baik ilmu maupun teknologi, tetap harus ditimbang dengan timbangan syariat. “Manusia itu mahallul khata wan nisyan — tempat salah dan lupa. Karena itu, kembalilah kepada pedoman Al-Qur’an dan sunah,” pungkasnya.







