Inilah Penjelasan terkait Wanita Haid Masuk Masjid

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG — Haid merupakan pengalaman bilogis bagi setiap wanita. Kedatangannya setiap bulan menuntut muslimah untuk sejenak rehat dari proses-proses ibadah dan perbuatan-perbuatan tertentu. Mereka tidak bisa beribadah shalat, puasa, dan lain sebagainya.

Kendati demikian, ada beberapa perbuatan yang menyangkut persoalan ibadah yang selalu menjadi perbincangan karena kurangnya pemahaman wanita mengenai persoalan haid dan ibadah. Di antara persoalan yang hampir selalu menguat diperbincangkan ialah mengenai boleh atau tidaknya wanita haid masuk masjid baik untuk keperluan pengajian atau yang lain, serta boleh atau tidaknya wanita haid membaca Al-Qur’an.

Read More

Apalagi di bulan suci Ramadan, setiap muslim ingin berlomba-lomba dalam memperbanyak ibadah dan kegiatan positif mereka. Pengajian di masjid serta tadarus rutin merupakan sebagian ibadah favorit di bulan Ramadan. Namun wanita haid terkadang masih bingung tentang kebolehan masuk masjid maupun membaca al-Qur’an.

Hukum Wanita Haid Masuk Masjid
Hukum wanita masuk masjid pada hakikatnya terdapat perbedaan pendapat. Empat mazhab ternama sebagai rujukan fikih, diantaranya Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali mengindikasikan sepakat bahwa wanita haid dilarang masuk masjid.

Dalil kuat dari pelarangan wanita masuk masjid tersebut ialah QS. An-Nisa ayat 43 yang berarti,

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.”

Selain itu, mereka juga berdasar pada hadis-hadis Nabi, di antaranya yaitu hadis riwayat Imam Abu Dawud No. 232 yang berarti, “Tidak halal masjid bagi perempuan haid dan orang yang junub.”

Kendati demikian, meskipun melarang wanita haid masuk masjid, terdapat juga syarat-syarat sebagai pengecualian yang mengiringinya.

Sementara itu, Al-Muzani salah seorang murid imam Syafi’i berpendapat berbeda, yakni membolehkan wanita masuk masjid dengan dalih sebagaimana wanita yang tidak beriman boleh-boleh saja memasukinya.

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid
Muhammadiyah memandang persoalan ini melalui majelis Tarjih dan Tajdid sebagai hal yang wajar dalam permasalahan khilaf fikih dan memilih pendapat membolehkan wanita haid masuk masjid dengan beberapa dalil, di antaranya hadis berikut,

“Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: Ambilkan sajadah untukku di masjid! Aisyah mengatakan: Saya sedang haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu” (HR. Muslim).

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad Saw hanya menerangkan haid tidak di tangan Aisyiah, sehingga selama tidak mengotori masjid (dari darah haid), maka diperbolehkan wanita untuk berada di dalam masjid.

Meskipun Muhammadiyah membolehkan wanita haid memasuki masjid, namun terdapat syarat yaitu ada hajat tertentu; termasuk di dalamnya mendengarkan pengajian, dan tidak sampai mengotori masjid (dari darah haid).

Dari penjelasan tersebut, maka Rahmania di momen bulan Ramadan hendaknya tak usah ragu untuk ikut pengajian maupun mondar-mandir guna mengurus agenda-agenda masjid yang biasanya padat selama menjaga dua syarat tersebut

Related posts