MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Suasana Idul Adha di Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang tahun ini terasa begitu istimewa. Bukan sekadar ritual tahunan, seluruh santri, guru, hingga warga sekitar larut dalam gelombang kebersamaan yang jarang terlihat. Puncaknya? Lembaga melalui Kantor Layanan (KL) Lazismu Pontren Kauman Muhammadiyah secara serempak menghadirkan 4 ekor sapi dan 2 ekor kambing untuk dikurbankan, Kamis (28/5).
Sejak pukul 09.00 WIB, lapangan pesantren berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Di hadapan puluhan santri yang duduk melingkar dengan mata berbinar, Ustadz Zulikfli tampil bukan hanya memberi teori. Dengan sabar dan terampil, beliau mempraktikkan langsung tata cara penyembelihan hewan kurban sesuai syariat—mulai dari membaca niat, adab menyembelih, hingga memastikan hewan dalam kondisi sehat. Para santri pun tak hanya menonton, tetapi menyimak setiap detail seolah itu adalah pelajaran paling berharga yang tak akan mereka dapatkan dari papan tulis.
Begitu proses penyembelihan selesai, semangat gotong royong langsung menyala. Guru dan santri bahu-membahu mengolah daging. Pisau beradu dengan tulang, senyum merekah di sela-sela kepenatan, dan tawa kecil pecah saat ada yang kesusahan memotong bagian tertentu. Di momen inilah pesantren benar-benar menjelma jadi keluarga besar.
Sang Mudir, Dr. Derliana, M.A., tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan suara lirih namun penuh haru, ia berkata, “Alhamdulillah, semua lancar. Ini bukan soal sapi atau kambing, tapi tentang menanamkan keikhlasan, kepedulian, dan ukhuwah. Semoga semangat berkurban tak berhenti di hari raya, tapi menjadi nadi pengabdian kita setiap hari.”
Tak ketinggalan, Ketua KL Lazismu Pontren Kauman, Ustadz Insan Adha Hasibuan, memastikan bahwa berkah kurban tahun ini merata hingga ke pelosok sekitar pesantren. “Empat sapi dan dua kambing kami distribusikan untuk santri, guru, staf, dan warga. Semua dapat jatah, semua merasakan keadilan Idul Adha,” tegasnya.
Puncak acara ditutup dengan pemandangan paling hangat: makan siang bersama di lapangan utama pesantren. Nasi dan olahan daging kurban tersaji sederhana, tapi suasananya luar biasa. Semua duduk bersila, guru dan santri saling menyuap, gelak tawa bersahutan. Setelah perut kenyang, panitia melanjutkan misi mulia—menyalurkan dagaing ke rumah-rumah warga sekitar.
Dari Padang Panjang, pesantren ini kembali membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya di dalam kelas, tapi juga di lapangan kurban, di dapur gotong royong, dan di meja makan bersama. (TR)






