MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Pusat Perkaderan Ulama Muhammadiyah (PPUM) Sumatera Barat resmi meluncurkan Program I’Dad Al-Muballighin di aula Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Sabtu (18/7/2026). Program ini menjadi gebrakan baru dalam mencetak kader ulama masa depan yang tidak hanya fasih berceramah, tetapi juga kokoh dalam keilmuan dan siap menjawab tantangan zaman.
Di tengah derasnya arus informasi dan kompleksnya problematika umat, kebutuhan akan da’i yang berkompeten semakin mendesak. Program I’Dad Al-Muballighin hadir sebagai jawaban strategis. I’dad berarti persiapan, sementara Al-Muballighin adalah para penyampai dakwah. Program ini adalah wadah pembinaan intensif bagi calon muballigh dan muballighah agar menjadi da’i yang berilmu, berakhlak, dan berdampak nyata di masyarakat.
“Program ini menambah keunggulan pendidikan pengkaderan ulama Muhammadiyah. Para lulusan nantinya akan dikenal dengan spesialisasi ulama Muhammadiyah,” ujar Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Ki Jal Atri Tanjung.
Empat Kompetensi Wajib Kader Ulama Masa Depan
Direktur PPUM, Aya Syofya Miza, menegaskan bahwa ulama Muhammadiyah ke depan harus menguasai empat kompetensi kunci:
Pertama, menguasai minimal satu cabang ilmu agama Islam dengan baik. Kedua, memiliki tingkat kesalehan tertentu dalam kehidupan individu. Ketiga, terlibat aktif dalam masyarakat—karena ulama lahir dari masyarakat, mengabdi untuk masyarakat, dan menjadi pemimpin mereka. Keempat, menguasai ilmu alat: bahasa Arab sebagai sumber rujukan utama dan bahasa Inggris untuk menghadapi globalisasi. Bahkan, ulama Muhammadiyah juga dituntut menguasai ilmu falak atau hisab.
Materi Pembinaan yang Komprehensif
Peserta program akan dibekali dengan empat pilar utama pembinaan:
· Taqwin Imaniyah: Tahsin, Tahfizh, Akidah, dan Ibadah
· Taqwin Fikriyah: Tafsir, Hadits, Fiqih Muamalah, dan Dakwah Kontemporer
· Taqwin Harokiyah: Public Speaking, Dakwah Digital, Manajemen Masjid, dan Dakwah Kultural
· Wawasan Ke-Muhammadiyahan: Ideologi, Khittah, dan Amal Usaha Muhammadiyah.
Program ini dirancang khusus selama dua tahun dengan jadwal belajar setiap hari Sabtu, mulai semester satu hingga Desember. PPUM juga membuka peluang bagi peserta berusia di bawah 25 tahun untuk mendapatkan rekomendasi kuliah ke Timur Tengah setelah menyelesaikan program.
“Banyak dai di kalangan kita yang belum memiliki kemampuan berbahasa Arab. Ini menjadi perhatian serius dalam program ini,” ungkap Sekretaris PPUM, Angga Fernando.
Pendaftaran masih dibuka hingga Agustus mendatang, terbuka bagi pemuda, mahasiswa, guru, ustadz muda, dan seluruh warga Muhammadiyah di 19 kabupaten/kota se-Sumatera Barat. Program ini juga menyambut perantau Minang yang ingin pulang dan mengabdi melalui dakwah di kampung halaman.
Ki Jal Atri Tanjung berharap para mahasiswa pengkaderan ini terus berkiprah mewarisi semangat dakwah amar makruf nahi mungkar, menjadi corong tabligh bagi hasil putusan Majelis Tarjih, serta mampu menjadi panutan dan teladan di tengah masyaraka.
“Dengan Program I’Dad Al-Muballighin, kita ingin melahirkan da’i yang tidak hanya fasih berceramah, tetapi juga kokoh dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, paham wawasan ke-Muhammadiyahan dan kebangsaan, serta mampu menjawab persoalan umat kekinian,” tegasnya.
Pusat Perkaderan Ulama Muhammadiyah Masjid Taqwa Sumbar memiliki tiga tugas utama: mengader calon ulama penerus persyarikatan, membina keilmuan dan ruh dakwah para kader, serta menyebarkan kader ke masjid, sekolah, kampus, dan masyarakat di seluruh Sumatera Barat.
Visi kader yang diharapkan adalah yang berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai manhaj Muhammadiyah, intelektual dan moderat sebagai benteng dari hoaks, radikalisme, dan liberalisme, serta membumi di Minangkabau dengan mengamalkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
“Karena menyiapkan satu muballigh hari ini, berarti menyelamatkan satu kampung di masa depan.”
Tangguh di Rantau, Kokoh di Kampuang, Cerah dengan Dakwah.






