MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Kamera pengawas dan aturan tertulis memang penting, tapi Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang sadar bahwa benteng terkuat perlindungan anak sejatinya dibangun dari dalam: dari jiwa para pengasuhnya.
Maka pada Jumat (10/7/2026), langkah nyata pun diambil. Sebanyak 19 musyrif dan musyrifah menjalani serangkaian tes psikologi ketat yang digelar dalam dua tahap, yakni tes tertulis dan wawancara mendalam. Bukan sekadar formalitas, ini adalah pengakuan jujur bahwa ancaman terdekat bagi anak-anak justru bisa datang dari orang-orang terdekat sekalipun.
Di balik ruang ujian yang hening, tergambar suasana serius namun penuh harap. Para pengasuh yang sehari-hari menjadi orang tua kedua bagi para santri itu kini duduk dengan tekun mengisi lembar-lembar pertanyaan yang menguak kedalaman emosi, stabilitas mental, hingga motivasi terdalam mereka dalam mengasuh. Sesi wawancara pun digelar dengan hati-hati, menggali potensi-potensi tersembunyi yang tak terdeteksi dari luar.
“Ancaman bisa datang dari siapa pun, termasuk orang terdekat seperti musyrif. Melalui tes ini, kami ingin memberikan jaminan keamanan kepada orang tua dan siswa bahwa mereka berada di lingkungan yang terlindungi,” ujar Hilyati Fadhilla, guru Bimbingan Konseling di pesantren yang juga menjadi salah satu penggagas inisiatif ini. Suaranya mantap, mencerminkan tekad kuat untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang benar-benar aman.
Mudir Pesantren Internasional Kauman, Dr. Derliana, MA, menambahkan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen besar yang tak pernah padam. “Menjaga kualitas tata kelola hingga di level internasional merupakan komitmen yang terus kami rawat. Kami percaya bahwa ilmu dan pengalaman akan semakin bernilai ketika dapat dibagikan dan menginspirasi lembaga lain untuk tumbuh bersama,” tegasnya dengan optimisme yang menular.
Pelaksanaan tes ini tak dilakukan sembarangan. Pesantren menggandeng Buk Fitri dari Lembaga Al Aly, yang memiliki kompetensi mumpuni dalam asesmen psikologis. Kolaborasi ini memastikan bahwa setiap tahap evaluasi berjalan profesional dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ini bukan kali pertama Pesantren Kauman menunjukkan kepedulian luar biasa terhadap perlindungan anak. Pada 2023, lembaga ini bahkan menerima kunjungan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk meninjau implementasi Madrasah Ramah Anak (MRA). Saat itu, KPAI menekankan pentingnya pemenuhan enam komponen MRA, mulai dari kebijakan ramah anak, tenaga pendidik terlatih, hingga proses belajar yang mendukung tumbuh kembang anak.
Komitmen itu pun terus bersemi. Deklarasi Anti-Bullying digaungkan, fasilitas ramah anak disediakan, dan kini tes psikologi bagi para musyrif menjadi mahakarya terbaru dalam memperkuat fondasi sistem perlindungan anak di internal pesantren.
Langkah berani ini membuktikan bahwa Pesantren Kauman tidak hanya mengejar keunggulan akademik dan keagamaan, tetapi juga mendahulukan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis seluruh santri sebagai prioritas utama. Sebuah teladan yang diharapkan mampu menginspirasi lembaga pendidikan pesantren lainnya di seluruh Indonesia untuk berani mengintip jiwanya sendiri—demi masa depan anak-anak yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih bahagia. (TR)






