MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Deru tambua Minangkabau menggema di halaman Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Bukan sekadar tamu biasa, 25 peserta Rihlah Ilmiyah dan Alamiyah dari Pertubuhan Persaudaraan Ummah Kemaman, Terengganu, Malaysia, disambut meriah bagaikan saudara lama yang baru kembali ke kampung halaman.
Mereka datang bukan untuk sekadar berwisata. Ada misi besar di balik langkah kaki yang menapaki tanah Minang ini: menelusuri jejak sang ulama legendaris, Buya Hamka.
Suasana pagi itu langsung berubah semarak saat para santri menggelar atraksi Tapak Suciābela diri khas Muhammadiyah yang memukau tamu dari negeri jiran. Gerakan demi gerakan yang sarat disiplin dan ketangkasan disambut tepuk tangan meriah, seolah menjadi bahasa persaudaraan yang tak perlu kata-kata.
Namun, puncak haru justru terjadi di Aula Hamka. Di ruangan yang menyimpan ratusan kisah perjuangan itu, Ustaz Surya Bunawan dengan penuh penghayatan mengisahkan perjalanan hidup Buya Hamka. Dari masa kecil hingga menjadi ulama yang disegani, dari pena yang melahirkan karya sastra abadi hingga perjuangannya menegakkan dakwah di tengah badai zaman. Ruangan itu mendadak hening. Beberapa peserta terlihat menyeka sudut mata.
“Bukan hanya ilmu yang kami cari, tetapi keteladanan,” ujar Ustadz Nik Muhammad Nasri bin Nik Malik, ketua rombongan, dengan suara bergetar. Ia mengaku tak menyangka bisa “bertemu” Buya Hamka secara batin di tempat ini.
Dr. Derliana, M.A., Mudir Pesantren, tersenyum bangga. Ia menyebut kunjungan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bukti bahwa pemikiran Buya Hamka tetap hidup dan menjadi magnet bagi pencari ilmu dari berbagai penjuru.
Rombongan pun diajak menyusuri Museum Buya Hamka. Di sanalah mereka berhenti paling lama di sebuah ruang sederhana yang disebut “Kamar Suduik”. Kamar kecil yang menjadi saksi bisu bagaimana Buya Hamka merenung, menulis, dan melahirkan gagasan-gagasan besar yang mengubah peradaban.
“Di ruang sekecil ini, lahir pemikiran sebesar samudra,” ucap salah satu peserta sambil mengabadikan momen.
Sebelum berpisah, pertukaran cinderamata menjadi simbol eratnya tali silaturahmi antara dua lembaga pendidikan Islam di Indonesia dan Malaysia. Lagu “Minangkabau Tanah Nan Den Cinto” dan “Ayam Den Lapeh” yang dibawakan para santri menjadi penutup manis, seolah berkata: di mana pun bumi dipijak, di situ langit persaudaraan dijunjung.
Kunjungan yang hanya berlangsung sehari ini meninggalkan kesan mendalam. Bukan sekadar rihlah ilmiyah, tetapi perjalanan spiritual yang menyadarkan semua: bahwa Buya Hamka bukan milik Indonesia semata. Beliau adalah milik umat, milik dunia.
Dan Pesantren Kauman? Kini namanya semakin berkibar. Bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai “rumah” bagi siapa pun yang rindu pada jejak keilmuan dan keteladanan seorang Buya Hamka.






