MINANGKABAUNEWS.com, KUALA LUMPUR — Hari ini menjadi momen penting bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Musyawarah Daerah (Musda) XI yang digadang-gadang akan menjadi tonggak baru bagi organisasi ulama terbesar di Ranah Minang, sebuah pesan mendalam justru hadir dari sosok yang tak asing lagi bagi kader MUI Sumbar.
Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, ulama kharismatik sekaligus mantan Ketua Umum MUI Sumbar, menyampaikan permohonan maaf dan izin karena tidak dapat hadir langsung dalam musyda kali ini. Namun, ketidakhadirannya justru menjadi pengingat akan esensi perjuangan keulamaan.
“Saya mohon maaf dan izin tidak bisa menghadirinya, namun tetap berharap agar nilai-nilai keulamaan Ranah Minang tetap berkelanjutan,” ujar Buya dalam pernyataannya.
Lebih dari sekadar ucapan, pria yang lahir 13 Agustus 1973 ini menitipkan pesan yang menggugah. Baginya, MUI Sumbar membutuhkan sosok-sosok yang istiqamah dalam berkhidmat—yang tetap teguh melayani umat walau harus berhadapan dengan pahit getirnya perjuangan.
Izzah dan Khidmah: Dua Sisi Mata Uang Keulamaan
Pesan Buya Gusrizal itu nyaris sempurna tergambar dalam semboyan yang selama ini menjadi visi MUI Sumbar: “Membawa ‘Izzah, Menyandang Khidmah”.
“Izzah” berarti wibawa keulamaan, sementara “Khidmah” adalah pelayanan kepada umat. Dua kata yang saling mengikat—seorang ulama tak sekadar disegani karena ilmunya, tetapi juga diukur dari kehadirannya di tengah problematika rakyat.
Konsep ini bahkan telah dijabarkan secara gamblang oleh Buya Gusrizal dalam berbagai kesempatan. “MUI berkomitmen menghadirkan ulama basurau dan tahu problematika serta hadir di tengah-tengah umat,” tegasnya dalam sebuah pernyataan.
Bagi Buya, kehadiran ulama harus benar-benar dirasakan umat—bukan hanya melalui ceramah, tetapi juga solusi nyata bagi persoalan ekonomi dan sosial kemasyarakatan.
Sepenggal Perjalanan Sang Ulama
Buya Dr. Gusrizal Gazahar, yang juga menjabat sebagai ketua bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, dikenal sebagai sosok ulama yang tegas, konsisten, jujur, cerdas, dan responsibel dalam kepemimpinannya.
Ia adalah mantan dosen yang telah malang melintang dalam perjuangan dakwah. Kepemimpinannya di MUI Sumbar diwarnai dengan komitmen kuat terhadap nilai-nilai keislaman yang moderat namun tak kompromi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan syariat.
Di tengah berbagai dinamika, termasuk hujatan dan tantangan yang pernah menerpanya, Buya Gusrizal tetap teguh. “Cara-cara ‘teror’ seperti itu, tak akan membuat saya surut dalam menjalankan ‘misi ulama Minangkabau’,” ujarnya suatu ketika.
Ranah Minang Butuh Ulama yang Istiqamah
Musda XI MUI Sumbar kali ini menjadi ajang kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan. Sebelumnya, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk audiensi dengan Polda Sumbar untuk memperkuat sinergi ulama dan aparat penegak hukum.
Di tengah proses itu, pesan Buya Gusrizal menjadi pengingat: bahwa estafet kepemimpinan di MUI Sumbar bukan sekadar pergantian jabatan, tetapi amanah besar untuk menjaga nilai-nilai keulamaan Ranah Minang.
“Semoga Allah swt menguatkan kita semua,” begitu biasanya Buya menutup pesan-pesannya.
Dan di hari bersejarah ini, doa itu kiranya menyertai setiap langkah MUI Sumbar—agar tetap membawa izzah dan menyandang khidmah, di jalan perjuangan yang tak pernah usai.






