Jelang Peringati HUT Kota Pariaman ke – 20, Aktivis Kota Pariaman Diisukan Dicopot dari Jabatan Ketua DPRD

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, Pariaman — isu pergantian Ketua DPRD Kota Pariaman kian santer terdengar ke seantero publik.

 

Tak hayal perihal isu ini banyak mengundang kecaman dari tokoh-tokoh eksponen di Kota Pariaman yang sekarang menggelinding bak bola salju itu. Terlebih lagi pegiat pegiat sosial yang lama dan malang melintang, berkecimpung di dunia aktivis perempuan.

 

Pasalnya tanpa “ba bi bu”, tau-tau jabatan Ketua DPRD Kota Pariaman yang kini dijabat seorang aktivis perempuan hebat Fitri Nora, yang punya kans besar di daerah itu dan dikenal juga pernah ikut andil berjuang dalam mendirikan Kota Pariaman, menurut isu itu, harus rela didepak dari kursi jabatannya sebagai Ketua DPRD.

 

Seperti tokoh masyarakat Dewi Fitri Deswati, Ketua DPD Partai Nasdem Kota Pariaman, yang tak lain ialah tandem Fitri Nora yang dulunya pernah sama-sama berjibaku sebagai aktivis perempuan di LSM Limbubu, dalam memperjuangkan Kota Pariaman sebagai kota otonom.

 

Menurut Dewi, apabila isu itu benar, maka tindakan partai yang mengganti Ketua DPRD Kota Pariaman tanpa sebab pasti dan alasan kongkrit, bakal berdampak pada partai itu sendiri pada kontestasi 2024.

 

“Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka. Perbuatan (mengganti ketua DPRD) ini akan mengorbankan citra partai karena hanya mengisi kepentingan semata,” alas Dewi dalam suatu kesempatan, Rabu (22/6).

 

Dewi menerangkan, pergantian ketua DPRD dari sisi parpol bisa saja terjadi apabila melanggar AD/ART partai; meninggal dunia dan terbukti melakukan perbuatan amoral. “Nah, sebaiknya Fitri Nora bicara ke publik, ada apa?,” tandas Dewi.

 

Sebaliknya, ia juga menyebut jika partai harus transparan agar isu pergantian ketua DPRD ini tidak semakin liar berkembang.

 

“Kalau pun iya SK pergantian itu ada, jadinya rancu. Karena tidak mungkin Fitri Nora memberhentikan dirinya sendiri. Sebab usulan pergantian itu diusulkan dari DPC. Atau bisa saja hubungan Fitri Nora dengan partai jelek. Ini mungkin ya. Tapi kenapa dia diangkat jadi ketua partai. Apakah jabatan ini sarat bagi-bagi. Yang ini diletakkan di sini. Yang ini tak layak lalu ditarik ke sini?,” ucap Dewi menohok.

 

Lebih jauh Dewi mempertanyakan kesetaraan perempuan sebagai pimpinan. “Apakah seorang perempuan tidak punya kemampuan untuk jadi pimpinan? Memberhentikan Fitri Nora akan berdampak kepada hancurnya kepercayaan masyarakat terhadap sebuah bendera besar partai itu di Kota Pariaman,” ujar aktivis mantan Cawako Pariaman tersebut.

 

Karena menurut Dewi lagi, sosok Fitri Nora sendiri mampu mewakili dirinya menjadi ketua DPRD, menjadi seorang ibu tempat mengadu, terbuka dengan media serta ringan berdiskusi dengan masyarakat untuk mencari solusi kemajuan Kota Pariaman. “Hal itu dibuktikan dengan peraihan suara terbanyak berdasarkan data yang ada,” kunci Dewi.

Related posts