MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Momen sakral pengukuhan 150 pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat periode 2026-2031 di Aula Gubernuran, Rabu (2/9/2026), berlangsung penuh makna di tengah dinamika yang mewarnai proses organisasi.
Pengukuhan ini juga dihadiri dan didukung oleh unsur Forkopimda, termasuk perwakilan Kapolda Sumbar, Pangdam, Kanwil Kemenag, dan Kejati . Gubernur Sumbar turut diapresiasi atas fasilitas yang diberikan hingga prosesi pengukuhan ini selesai.
Pengukuhan yang dipimpin langsung Sekjen MUI Pusat, Amirsyah Tambunan, berlangsung megah dengan pembacaan SK oleh Wakil Sekretaris MUI Pusat, Dr. Ikhsan Tanjung, sedangkan SK komisi-komisi dibacakan Hendri Novigator.
Meski iringi doa dari para tokoh penting, ada yang tidak ingin momen ini dilewatkan begitu saja. Puluhan massa yang menamakan diri Aliansi Nahdliyin Muda Bersatu menggelar aksi protes di depan Kantor Gubernur Sumbar. Aksi ini mendapat pengawalan dari Polda Sumbar dan Polresta Padang.
Namun, di tengah riuh itu, Ketua Umum MUI Sumbar yang baru, Buya Dr. Zulkarnaini, M.Ag menegaskan komitmennya sebagai “Khadimul Ummah” (pelayan umat) dengan satu kalimat tegas: “Dari dulu saya tidak ingin jabatan, ini murni panggilan dan keinginan umat.”
“Ini Panggilan Umat Bukan Ambisi Jabatan,” kata Buya Zulkarnaini.
Di tengah acara, pesan mendalam dari ulama kharismatik Buya Gusrizal kembali bergaung. Ia mengingatkan visi besar MUI Sumbar: “Membawa ‘Izzah, Menyandang Khidmah.” Izzah berarti wibawa keulamaan, sedangkan Khidmah adalah pelayanan kepada umat. Seorang ulama tak hanya disegani karena ilmunya, tetapi diukur dari kehadirannya di tengah problematika rakyat.
Buya Gusrizal menegaskan bahwa MUI adalah “tenda besar” yang harus menjadi rumah bagi semua ormas Islam, memberikan solusi nyata atas persoalan ekonomi dan sosial umat.
Apapun itu seorang ulama memiliki ke lapangan dada dan terus istiqomah dalam melayani ummat.
Buya Zulkarnaini, yang terpilih secara aklamasi pada Musda ke-XI (12 Juli 2026), mengusung semangat “Ulama Bersatu, Umat Kuat”.
“Keberadaan MUI harus dirasakan langsung oleh umat. Bukan hanya melalui ceramah, tetapi solusi nyata,” tegasnya.
Buya Zulkarnaini berpesan kepada seluruh pengurus baru untuk “tidak berjalan sendiri” dan terus membangun komunikasi dengan pemerintah dan lembaga keagamaan demi kemaslahatan bersama.







