Adat atau Syarak? Buya Gusrizal Buka Suara Soal Wacana Sumatera Barat Istimewa

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Di tengah hangatnya wacana pengubahan nama Sumatera Barat menjadi Daerah Istimewa Minangkabau, seorang ulama kharismatik Ranah Minang justru melontarkan pertanyaan fundamental yang menghentak. Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mempertanyakan arah perjuangan itu: kembali ke adat atau kembali ke syarak?

Pertanyaan kritis ini disampaikan Buya Gusrizal saat memberikan materi seminar bersama paguyuban Dai Rantau Minang (DARAM) di Jakarta, belum lama ini. Di hadapan para tokoh dan alim ulama, Buya yang juga dikenal sebagai ulama kharismatik Ranah Minang itu mengingatkan bahwa falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) kerap hanya dipahami sebagai simbol dan seremoni, bukan nilai hakiki.

“Kalau kita bicara ABS-SBK, sebenarnya kita tidak paham ini. Kalau tidak paham, apa yang akan diimplementasikan?” ujar Buya Gusrizal dengan nada tegas.

Buya Gusrizal mengawali paparannya dengan mengingatkan pentingnya keseimbangan antara “raso” dan “pareso” —dua alat yang tidak boleh berjalan sendiri dalam diri orang Minang. “Raso dibawa naik, Pareso dibawa turun. Raso mainan kalbu, pareso mainan nalar. Apabila keduanya berjalan sendiri, berbahaya,” katanya.

Ia mengkritisi kecenderungan masyarakat yang hanya terdorong oleh emosional tanpa pertimbangan matang. “Kalau ondong ka ondong dadak karena didorong emosional, sementara orang maju awak maju pulo, itu berisiko. Memperbaiki sesuatu yang terlanjur kadang lebih lama daripada membentuknya dari awal.”

Dalam kajiannya, Buya Gusrizal menyoroti pergeseran makna adat di tengah masyarakat. Menurutnya, esensi adat Minangkabau adalah nilai—nilai kebersamaan, kepedulian, dan kehidupan. Namun hari ini, adat telah bergeser menjadi ceremonial dan festival belaka.

“Orang Minang hilang dari nilai. Kini orang Minang kalau melihat yang baru langsung diluluah (ditelan), kalau belum paham langsung dimuntahkan,” kritiknya.

Ia mengambil contoh tentang Bundo Kanduang yang diumpamakan dalam mamangan adat sebagai “badi bak padi siranik jintan”—padi tua yang kalau terpijak mati, tetapi aluah tertarung patah. Nilai itu kini hilang, tergantikan oleh gemerlap acara seremonial.

“Seolah-olah kalau awaklah babaju serupa iko, kalau awaklah menjalankan acara iko, awaklah beradat. Menurut ambo itu belum beradat namanya,” tegasnya.

Buya Gusrizal menjelaskan bahwa falsafah ABS-SBK adalah produk umat Islam yang ditulis dalam huruf Arab Melayu. Meski tidak ada bukti tertulis yang memastikan kapan ia lahir, Buya menganalogikannya dengan hadis masyhur—yang pada awalnya tidak populer, tetapi kemudian berkembang dan diterima oleh banyak orang.

Namun yang menarik, Buya justru mengingatkan bahwa “alam takambang jadi guru” lebih dahulu ada sebelum ABS-SBK. Kearifan awal orang Minang adalah memahami keharmonisan alam dan menjadikannya nilai sosial. Ketika syarak masuk, terjadilah perpaduan.

“Adaik bapaneh syarak balinduang, syarak mangato adat mamakai,” kutipnya.

Syarat Mutlak: Kembali ke Syarak, Bukan ke Adat

Di bagian akhir kajiannya, Buya Gusrizal menyampaikan pernyataan yang menjadi tulang punggung pesannya. Ia mengaku bukan tidak mendukung wacana Sumatera Barat Istimewa. Namun, ia mempertanyakan arah perjuangannya.

“Kita mau kembali ke adat atau kembali ke syarak? Itu yang perlu diperjelas dahulu, ” tegasnya.

Menurutnya, jika wacana itu berarti kembali ke adat, maka seluruh orang Minang yang memperjuangkannya justru melanggar Sumpah Sati Bukit Marapalam. Namun jika tujuannya benar-benar kembali ke syarak sebagaimana falsafah “syarak mangato adat mamakai”, maka ia akan berada di barisan terdepan untuk memperjuangkannya.

“Kalau kita betul-betul ingin menjadikan istimewa kembali ke syarak mengato mamakai, baru saya akan berada bagian dalam itu dan akan berada terdepan dalam memperjuangkannya,” pungkasnya.

Buya Gusrizal Gazahar dikenal sebagai ulama yang konsisten mengajak umat kembali ke akar dan menjadikan nilai-nilai syariat sebagai pedoman. Melalui program “Buya Baliak Basurau” dan kajian-kajian rutin beliau di Surau Buya Gusrizal, Buya terus membimbing umat untuk memahami agama secara utuh.
Buat jadi infografis kekinian, estetik dengan baground, font, warna kekinian gaya media mainstream

Acara seminar DARAM ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk keistimewaan Sumatera Barat harus dilandasi pemahaman yang tepat, bukan sekadar euforia dan emosi sesaat.

Related posts