Awasi Bahan Kebutuhan Pokok, Pemko Payakumbuh Pastikan Ekonomi Pedagang Bergerak Sepanjang Ramadan 1443 H

  • Whatsapp
Aktivitas jual beli antara pedagang dan konsumen di pasar tradisional Ibuah, Kota Payakumbuh, terpantau mulai ramai sejak awal Ramadan 1443 H kemarin. (Foto: Aking/MKN)

MINANGKABAUNEWS.COM, PAYAKUMBUH – Pemerintah Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, memastikan pergerakan ekonomi khususnya pedagang bergerak mengalami peningkatan sepanjang Bulan Ramadan 1443 Hijriyah ini.

Hal tersebut menyusul sudah dicabutnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah kota/kabuapaten di Sumbar. Sehingga, pada bulan puasa tahun 2022 ini, aktivitas ekonomi di bidang perdagangan dan jasa dapat tumbuh.

Hal ini dipastikan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh, H Dahler, didampingi Kabid Israneldi ketika diwawancara wartawan di ruang kerjanya, Selasa (12/4). Dia menyebut, ketersediaan bahan kebutuhan pokok menjadi prioritas yang dipantau sepanjang bulan suci Ramadan.

Dalam hal ini, Dinas Koperasi dan UKM kota Payakumbuh melalui bidang perdagangan, dikatakan selalu terjun ke lapangan guna monitoring sejumlah komoditas kebutuhan bahan pokok. Di wilayah Kota Payakumbuh, pemantauan disasar di pasar tradisional ber-SNI, Ibuh.

“Saat ini harga komoditas kebutuhan pokok naik karena tingginya permintaan.
Kenaikan harga selama Ramadan pasti ada, lantaran tingginya permintaan konsumen, karena adanya peningkatan arus barang yang masuk ke pasar-pasar tradisional,” ujar Dahler.

Pihaknya (Tim monitoring Perdagangan-red) selalu memonitor harga-harga kebutuhan pokok setiap harinya serta meminta laporan dari setiap pasar yang ada di wilayah Kota Payakumbuh. kenaikan harga tidak hanya terjadi bulan ramadhan atau hari raya saja, terkadang hari biasa pun juga ada kenaikan lantaran permintaan tadi.

Ditambahkan Kabid Perdagangan Israneldi, besaran kenaikan harga komoditas kebutuhan barang pokok, biasanya sih yang Barang yang mudah di konsumsi cepat seperti telur, daging, ayam, bawang, minyak dan kenaikan harganya tergantung dari permintaan dari pedagangnya.

“Dinas perdagangan dalam hal kenaikan harga tidak bisa melarang kenaikan harga yang dilakukan pedagang, sebab barang yang di jual milik pedagang sendiri bukan milik pemerintah,” ungkapnya.

Kenaikan harga kebutuhan pokok itu beda-beda nilainya, ada yang naik 30 persen, lalu ada yang naik 50 persen bahkan 100 persen. Seperti bawang merah 32/kg alami kenaikan yang sebelumnya 30/kg, daging masih stabil dengan 130-140 ribu/kg, minyak goreng kemasan 2 liter mencapai harga 55 ribu.

“Adapun ayam potong masih stabil harga Rp27 ribu/kg, beras premium 12-13 ribu/kg, gula 14ribu/kg, cabe rawit turun harga 25-30 ribu/kg dan telur Rp1400/butir. Semua harga barang dipredikasi alami kenaikan, karena pedagang tahu kalau kebutuhan menjelang hari raya akan meningkat,” sebut Israneldi.

Adapun, Wit (35), salah seorang pedagang kelontong di Pasar Ibuah mengaku sejak awal Ramadan hingga seminggu pertama puasa, aktivitas jual beli di tokonya mengalami peningkatan dari biasanya. Hal tersebut, dirasakan karena ramainya pengunjung yang datang ke salah satu pasar tradisional di Ibuah.

Menurutnya, situasi ini sangat jauh berbeda dengan hari-hari biasa apalagi ketika PPKM masih berlangsung akibat Pandemi Covid-19 beberapa tahun belakangan. “Saat ini alhamdulillah, jual beli ramai. Tidak seperti hari biasa waktu PPKM, yang selalu sepi pembeli,” ungkap warga Tanjuang Pauah itu. (akg)

Related posts