Buya Gusrizal Gazahar Blak-blakan: “Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja, Harus Jujur”

Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana ruangan terasa hening ketika Buya Dr Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat yang juga seorang ulama kharismatik asal Ranah Minang, memulai paparannya dengan kalimat yang menghentak.

“Pada siang ini mendekat menjelang sore, kita berbicara satu persoalan yang aktual. Ini bukan masalah yang akan terjadi, tetapi adalah masalah yang sedang kita hadapi,” ujarnya dalam sebuah majelis pengkajian di Padang belum lama ini.

Tanpa tedeng aling-aling, Buya yang akrab disapa Buya Datuak itu mengajak seluruh elemen masyarakat Minangkabau untuk mengakui satu kenyataan pahit: Ranah Minang sedang sakit.

“Kalau ndak ada kesadaran nak guno bertamu, kadang-kadang kan ada orang nak namuanyo menyabun dan sebenarnya awak aman. Kalau serupa itu, kita bersikap aneh. Sama ajo orang sakik kalau tibonyo ka dokter, nak jujurnyo mengaku sakit. Rumah sakit bukak, badan ndak lamak kaki bangkak, paling tanya dokter: ‘Ngapo kemari?’ Itu sejawabnyo,” sindir Buya dengan gaya khas Minangnya.

Beliau menekankan bahwa kelemahan masyarakat saat ini adalah ketidakjujuran dalam mengakui masalah. Padahal, jelas Buya, dari data yang ada, Sumatera Barat saat ini berada di posisi yang memprihatinkan.

“Data LGBT itu tanda tak baik-baik saja. Kemudian data perceraian rumah tangga. Sumatera Barat termasuk 10 besar urusan cerai. Kemudian kemaksiatan lain: narkoba, perjudian, sampai rampok. Seluruh data-data itu kalau dikumpulkan, kemudian dibaca, kemudian dicoba disimpulkan, menunjukkan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja,” paparnya tegas.

Buya mengupas tuntas akar persoalan yang membuat berbagai kemaksiatan bermunculan. Menurutnya, nilai-nilai luhur yang dulu menjadi kebanggaan dan modal sosial masyarakat Minang, kini runtuh satu per satu.

“Adat Minang itu sebenarnya esensinya adalah nilai. Tapi kini, maaf, kebanyakan awak mencaliak adat Minang kini adalah ulik-ulik. Pesta-pesta. Adat bergeser dari nilai menjadi seremonial, festival. Itu nan ado,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Ia memberi contoh bagaimana pemahaman adat telah bergeser hingga menyulitkan proses pernikahan.

“Di siko laki-laki minta uang balanjo, di sinan laki-laki mintak pitih. Payah unjun-barunjun, etongnyo kadang sampai gagal pernikahan. Padahal kalau merujuk kepada adat dan syarak, adat itu nama buah mati—nilai. Bukan seremonial yang mempersulit,” jelasnya.

Dengan gaya khas seorang ulama Minangkabau, Buya mengingatkan bahwa tanggung jawab menangkal kemaksiatan bukan hanya terletak pada pemerintah atau ulama saja. Niniak mamak sebagai pemangku adat, bundo kandung, alim ulama, semuanya memiliki peran yang harus dijalankan.

“Saya khawatir jawabannya, kalau jujur, indah pulo. Niniak mamak, bundo kandung, alim ulama—harus jujur mengaku bahwa kita belum menjalankan peran maksimal,” tuturnya.

Beliau menyoroti bagaimana para pemangku adat kini lebih sibuk dengan urusan seremonial dan gelar, sementara peran mengayomi kemenakan terabaikan.

“Kalau dulu mamak badagang taba, kini mamak meminta ke kemenakan. Wibawanyo lai hilang. Ninik mamak kini sibuk memperkuat posisi dirinya, bukan memperkuat kaumnya,” sindirnya.

Di akhir paparannya, Buya menegaskan bahwa benteng pertama yang harus kokoh adalah rumah tangga. Sebab madrasatul ula, pendidikan pertama bagi anak-anak, ada di sana.

“Karakter anak adalah tanggung jawab ibu, bapak. Bukan tanggung jawab sekolah. Nabi mengatakan, setiap anak lahir di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” tegasnya.

Beliau menambahkan, “Kalau bahasa adat, dari kaum awak mulai menangkal. Tidak ada menangkal kemaksiatan di Minangkabau dimulai dari hal lain. Harus dimulai dari kaum, dari rumah tangga.”

Meskipun kritiknya tajam dan datanya telanjang, Buya tetap optimis. Menurutnya, majelis-majelis ilmu seperti ini tetap penting untuk membangkitkan kesadaran dan menyusun langkah-langkah perbaikan.

“Ada gunanya majelis iko. Tapi majelis ko ndak menyelesaikan. Ada konsep yang disusun, kemudian ada eksekusi di lapangan, dan perlu evaluasi. Karena itu, sekarang kita berbicara dalam tataran konsep menghadapi kemaksiatan,” tutup Buya dengan penuh harap.

“Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiruu maa bi’anfusihim.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dengan semangat perubahan itulah, Buya mengajak seluruh elemen Ranah Minang untuk bangkit, jujur pada diri sendiri, dan bersama-sama membenahi negeri.

Pos terkait