Buya Gusrizal Bongkar 5 Bentuk Dusta atas Nama Allah: Waspada, Satu Kebohongan Bisa Menyesatkan Umat!

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Mengapa seseorang berani berdusta atas nama Allah? Mengapa ada orang yang mengaku membawa ajaran agama, tetapi justru menyampaikan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan Allah? Dan mengapa umat terkadang mudah percaya kepada seseorang hanya karena penampilannya terlihat saleh dan tutur katanya terdengar meyakinkan?
Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu menjadi bagian penting dalam kajian Al-Qur’an yang disampaikan ulama kharismatik Ranah Minang, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, yang kini menjabat Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat.
Dalam kajian Tafsir, belum lama ini, Buya Gusrizal mengajak jemaah menyelami kandungan Surah An-Nisa ayat 50. Ayat tersebut bukan sekadar menceritakan perilaku manusia pada masa lampau, melainkan juga menghadirkan peringatan yang tetap relevan untuk membaca berbagai persoalan kehidupan hari ini.
Allah SWT berfirman:
اُنْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ وَكَفٰى بِهٖٓ اِثْمًا مُّبِيْنًا
Unẓur kaifa yaftarūna ‘alallāhil-każib, wa kafā bihī iṡmam mubīnā.
Artinya: “Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata.” (QS. An-Nisa: 50).
Bagi Buya Gusrizal, ada satu kata dalam ayat tersebut yang perlu mendapatkan perhatian serius, yakni kaifa, yang berarti bagaimana.
Allah tidak sekadar memerintahkan manusia memperhatikan siapa yang melakukan kebohongan, tetapi juga bagaimana kebohongan itu dibangun, dibungkus, dan kemudian dipercaya oleh orang lain.
Di sinilah, menurut Buya Gusrizal, letak pentingnya membaca Al-Qur’an dengan pemahaman yang mendalam.
Jangan Hanya Melihat Pelakunya, Pelajari Pola Perbuatannya
Buya Gusrizal mengingatkan bahwa pelaku kejahatan pada masa lalu mungkin sudah meninggal dunia. Namun, pola perilaku mereka dapat kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, dengan pelaku dan situasi yang tidak sama.
Abu Jahal, misalnya, telah lama berlalu. Akan tetapi, karakter yang menentang kebenaran, memanipulasi keadaan, dan berusaha menyesatkan manusia dapat ditemukan kembali dalam perjalanan sejarah.
Karena itu, umat Islam tidak cukup hanya membaca kisah masa lalu. Mereka harus mampu mengambil pelajaran agar tidak terperosok ke dalam kesalahan serupa.
“Perhatikan kaifa, bagaimana mereka melakukan kebohongan. Pelakunya boleh berbeda, zamannya boleh berubah, tetapi pola perbuatannya bisa berulang,” demikian inti pesan Buya Gusrizal dalam kajian tersebut.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat agar umat tidak mudah terpesona oleh penampilan, gelar, popularitas, ataupun retorika seseorang.
Seseorang bisa saja berbicara dengan bahasa agama, mengutip ayat Al-Qur’an, bahkan tampil seolah-olah paling memahami persoalan keislaman. Namun, semua itu tetap perlu diperiksa berdasarkan ilmu dan dalil yang benar.
Sebab, penampilan yang meyakinkan tidak selalu menjadi jaminan bahwa apa yang disampaikan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Apa Bedanya Dusta Biasa dengan Berdusta atas Nama Allah?
Dalam kajian itu, Buya Gusrizal juga menjelaskan perbedaan antara al-kadzib dan al-iftira.
Secara umum, al-kadzib berarti menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sementara itu, al-iftira mengandung unsur mengada-adakan atau merekayasa kebohongan, kemudian menisbatkannya kepada pihak lain.
Ketika kebohongan tersebut dinisbatkan kepada Allah, persoalannya menjadi sangat serius. Sebab, seseorang bukan hanya menyampaikan informasi yang keliru, melainkan juga seolah-olah mengatasnamakan Allah untuk membenarkan sesuatu yang tidak memiliki dasar.
Dalam perkara agama, tindakan seperti ini dapat muncul ketika seseorang menetapkan sesuatu sebagai halal atau haram tanpa landasan yang dapat dipertanggungjawabkan, mengklaim suatu ritual sebagai bagian dari syariat tanpa dalil yang memadai, atau menyampaikan keyakinan tertentu seolah-olah merupakan ketetapan Allah.
Padahal, persoalan akidah dan syariat tidak boleh dibangun hanya berdasarkan dugaan, kebiasaan, kepentingan pribadi, ataupun keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
Al-Qur’an memberikan peringatan tegas dalam Surah An-Nahl ayat 116 agar manusia tidak sembarangan menyatakan sesuatu sebagai halal atau haram dengan mengatasnamakan Allah.
Bagi Buya Gusrizal, pesan tersebut sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki pengaruh dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Fatwa bukanlah ruang untuk memaksakan pendapat pribadi. Ia harus lahir melalui proses keilmuan, penelitian dalil, dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apabila seseorang belum memiliki pengetahuan yang cukup, sikap yang lebih bertanggung jawab adalah belajar dan bertanya kepada ahlinya, bukan memaksakan kesimpulan.

Dalam pemaparannya, Buya Gusrizal menguraikan sejumlah bentuk penyimpangan yang berkaitan dengan kebohongan atas nama Allah.
Pertama, membuat kebohongan dalam perkara akidah.
Ini terjadi ketika seseorang menisbatkan kepada Allah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran tauhid. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Mahasuci dari segala bentuk sekutu dan tidak memiliki anak.
Ajaran tauhid harus dijaga dari berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan petunjuk wahyu.
Kedua, mengada-adakan ketentuan halal dan haram.
Persoalan halal dan haram merupakan perkara agama yang tidak boleh ditetapkan semata-mata berdasarkan selera atau kepentingan manusia.
Karena itu, siapa pun yang berbicara mengenai hukum agama harus memahami dasar dan metode pengambilan hukumnya.
Ketiga, membuat klaim kenabian atau menerima wahyu setelah berakhirnya kenabian.
Dalam akidah Islam, Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi. Karena itu, klaim kenabian baru setelah beliau merupakan persoalan mendasar yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Umat perlu memiliki pengetahuan yang memadai agar tidak mudah terpengaruh oleh klaim keagamaan yang tidak memiliki landasan dalam akidah Islam.
Keempat, memutarbalikkan atau menyimpangkan makna wahyu.
Buya Gusrizal mengingatkan bahwa ayat Al-Qur’an tidak boleh dipelintir untuk membenarkan kepentingan tertentu.
Ayat yang disampaikan secara tidak utuh, dipisahkan dari konteksnya, atau ditafsirkan tanpa perangkat keilmuan yang memadai berpotensi melahirkan pemahaman yang menyesatkan.
Apalagi jika penafsiran tersebut digunakan demi memperoleh keuntungan materi, kedudukan, atau pujian manusia.
Kelima, berbicara tentang Allah tanpa ilmu.
Inilah salah satu persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang terkadang menyampaikan pendapat pribadi, tetapi mengemasnya seolah-olah merupakan ketetapan Allah.
Padahal, antara wahyu, penafsiran ulama, dan pendapat pribadi terdapat perbedaan yang harus dijelaskan secara jujur.
Menghormati agama berarti menghormati pula batas-batas ilmu ketika berbicara atas nama agama.
Jangan Mudah Percaya pada Praktik yang Mengatasnamakan Syariat
Buya Gusrizal juga mengingatkan jemaah agar bersikap kritis terhadap praktik pengobatan atau ritual tertentu yang diklaim sebagai bagian dari syariat, tetapi tidak memiliki dasar yang jelas.
Menurutnya, umat perlu membedakan antara ikhtiar yang memiliki hubungan sebab-akibat yang dapat dijelaskan dan praktik yang menuntut keyakinan terhadap hal gaib tanpa landasan agama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penggunaan bahan alami, misalnya, dapat dikaji berdasarkan kandungan dan manfaatnya. Namun, apabila suatu benda diyakini memiliki kekuatan gaib tertentu atau dianggap sebagai sarana khusus untuk mendatangkan kesembuhan tanpa dasar yang jelas, keyakinan tersebut perlu diperiksa secara serius.
Jangan sampai keinginan memperoleh kesembuhan justru membuat seseorang mengikuti praktik yang bertentangan dengan prinsip tauhid.
Demikian pula terhadap benda-benda yang diberi klaim memiliki kekuatan khusus, termasuk tulisan atau benda yang dikaitkan dengan ayat Al-Qur’an.
Umat Islam harus kembali kepada tuntunan yang benar, tidak mudah terpengaruh oleh cerita yang sensasional, dan tidak menyerahkan keyakinannya kepada pihak yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat.
Bagi Buya Gusrizal, pengetahuan agama yang benar merupakan benteng penting agar umat tidak mudah diperdaya.
Mengapa Orang Berani Berdusta atas Nama Allah?
Pertanyaan berikutnya yang dibahas Buya Gusrizal adalah mengenai faktor yang membuat seseorang berani melakukan kebohongan.
Salah satunya ialah lemahnya kesadaran iman dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Ketika seseorang tidak lagi merasa bahwa setiap perkataan dan perbuatannya akan dipertanggungjawabkan, batas antara kebenaran dan kepentingan pribadi menjadi semakin mudah diterobos.
Faktor lainnya adalah keinginan memperoleh keuntungan duniawi, baik berupa harta, jabatan, maupun pujian manusia.
Dalam keadaan seperti itu, agama berisiko dijadikan alat untuk mencapai tujuan pribadi. Ayat dikutip bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membenarkan keinginan yang sudah ada sebelumnya.
Ada pula orang yang terjebak dalam kebohongan karena tidak memahami akibat dari kebohongan itu sendiri.
Satu kebohongan biasanya menuntut kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan pertama. Lama-kelamaan, seseorang membangun cerita yang semakin rumit dan harus terus-menerus menjaganya agar tidak terbongkar.
Sebagai gambaran sederhana, seseorang yang berbohong mengenai alasan ketidakhadirannya dalam suatu kegiatan mungkin harus kembali berbohong ketika ditanya lebih jauh. Ia lalu menciptakan alasan tambahan, menyebut kejadian yang tidak pernah berlangsung, hingga akhirnya terjebak dalam rangkaian kebohongannya sendiri.
Kebohongan yang semula dianggap sebagai jalan keluar justru berubah menjadi sumber kegelisahan.
Karena itulah, kejujuran bukan hanya persoalan moral, melainkan juga jalan untuk menjaga ketenangan hidup dan kepercayaan orang lain.

Bacaan Lainnya

Buya Gusrizal kemudian mengingatkan bahwa kebohongan atas nama Allah tidak berhenti pada kesalahan individu. Dampaknya dapat menjalar kepada masyarakat dan kehidupan beragama secara luas.
Pertama, melahirkan kezaliman.
Orang yang menyampaikan kebohongan atas nama Allah dapat menyesatkan dirinya sendiri sekaligus membuat orang lain mengikuti kesalahan yang sama.
Mereka yang mempercayai informasi keliru tersebut berpotensi mengambil keputusan berdasarkan pemahaman agama yang salah.
Karena itu, kebohongan dalam urusan agama bukanlah perkara sepele. Ada hak orang lain yang dapat dirugikan oleh satu pernyataan yang tidak benar.
Kedua, menghalangi keberuntungan dan keberhasilan yang hakiki.
Allah SWT memperingatkan dalam Surah An-Nahl ayat 116 bahwa orang-orang yang mengada-adakan kebohongan atas nama-Nya tidak akan memperoleh keberuntungan.
Peringatan ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak semestinya diukur hanya berdasarkan kekayaan, jabatan, atau popularitas.
Keberhasilan yang sesungguhnya harus tetap berpijak pada kebenaran dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Ketiga, mendatangkan ancaman pertanggungjawaban di akhirat.
Dalam Surah Az-Zumar ayat 60, Allah menggambarkan keadaan orang-orang yang berdusta atas nama-Nya pada hari kiamat.
Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa kebohongan yang mungkin berhasil ditutupi di dunia tidak akan menghilangkan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Keempat, menyesatkan manusia dan merusak kehidupan beragama.
Ketika kebohongan disampaikan berulang kali dengan menggunakan simbol dan bahasa agama, masyarakat dapat kehilangan kemampuan membedakan antara ajaran yang benar dan klaim yang tidak berdasar.
Akibatnya, kesalahan tidak hanya diwariskan dari satu orang kepada orang lain, tetapi juga berpotensi membentuk kebiasaan dan pemahaman yang keliru di tengah masyarakat.
Dari Kebohongan Agama hingga Kerusakan Lingkungan
Dalam kajian tersebut, Buya Gusrizal juga menghubungkan pentingnya kejujuran dengan persoalan sosial yang dirasakan masyarakat, termasuk kerusakan lingkungan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat luas sering kali harus menanggung akibat dari keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
Ketika hutan dan lahan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada kawasan yang terdampak langsung. Asap dapat mengganggu aktivitas warga, memperburuk kualitas udara, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Di sisi lain, persoalan tanggung jawab tidak boleh diselesaikan hanya dengan saling melempar kesalahan.
Penyebab kebakaran harus ditelusuri melalui penyelidikan yang benar. Apabila ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian, penanganannya harus dilakukan sesuai hukum dan berdasarkan bukti.
Begitu pula dengan kebijakan perizinan dan pengawasan. Semuanya perlu dievaluasi secara terbuka agar kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan tidak dikalahkan oleh kepentingan segelintir pihak.
Pesan yang dapat ditarik dari penjelasan Buya Gusrizal adalah bahwa kebohongan dan pengaburan tanggung jawab dapat memperbesar kerusakan. Sebaliknya, kejujuran, pengetahuan, dan keberanian mengungkap fakta merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki keadaan.
Enam Langkah agar Tidak Mudah Terperdaya
Setelah menjelaskan berbagai bentuk dan akibat kebohongan, Buya Gusrizal mengajak jemaah membangun sikap yang lebih berhati-hati dalam menerima informasi dan memahami ajaran agama.
Ada beberapa prinsip yang ditekankannya.
Pertama, memperkuat ilmu.
Ilmu bukan sekadar bekal untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga pelindung agar seseorang mampu mengenali bahaya dan membedakan kebenaran dari kebohongan.
Orang yang memiliki pengetahuan akan lebih berhati-hati ketika menghadapi klaim yang meragukan.
Kedua, membiasakan tabayun dan ketelitian.
Informasi tidak seharusnya diterima begitu saja hanya karena disampaikan oleh orang yang terkenal atau dianggap memiliki kemampuan tertentu.
Perlu ada pemeriksaan terhadap sumber, bukti, konteks, serta dasar yang digunakan untuk mendukung suatu pernyataan.
Ketiga, tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa.
Penetapan hukum agama memerlukan kompetensi dan metodologi yang tepat.
Orang yang belum memiliki keahlian sebaiknya tidak memaksakan diri untuk menetapkan halal dan haram. Bertanya kepada orang yang berilmu jauh lebih bertanggung jawab daripada berbicara tanpa dasar.
Keempat, membedakan wahyu dan hasil ijtihad manusia.
Tidak semua pendapat seseorang otomatis menjadi ajaran Allah atau Sunnah Rasulullah SAW.
Wahyu memiliki kedudukan tersendiri, sedangkan penafsiran dan ijtihad manusia merupakan hasil pemahaman yang perlu ditelaah berdasarkan kaidah keilmuan.
Pembedaan ini penting agar umat tidak menganggap setiap pendapat yang dibungkus dengan istilah agama sebagai kebenaran mutlak.
Kelima, berani mengatakan tidak tahu.
Bagi Buya Gusrizal, keberanian mengakui keterbatasan pengetahuan merupakan bagian penting dari sikap ilmiah dan kerendahan hati.
Ia mengingatkan jemaah pada jawaban Nabi Isa AS ketika Allah bertanya kepadanya dalam Surah Al-Ma’idah ayat 116.
Nabi Isa AS menyucikan Allah dari segala kekurangan dan menegaskan bahwa dirinya tidak berhak mengatakan sesuatu yang bukan haknya.
Sikap tersebut mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh berbicara sembarangan, terlebih jika perkataannya berpotensi dinisbatkan kepada Allah.
Mengatakan “saya tidak tahu” bukanlah aib. Justru dari pengakuan itulah seseorang dapat memulai proses belajar, mencari dalil, dan memperoleh pengetahuan yang benar.
Keenam, memperkuat muraqabah dan takwa kepada Allah.
Muraqabah berarti kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi segala sesuatu.
Kesadaran ini seharusnya membuat manusia berhati-hati dalam berbicara, mengambil keputusan, serta menyampaikan informasi kepada orang lain.
Seseorang mungkin mampu menyembunyikan kebohongannya dari manusia, tetapi tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.
Jika kesadaran ini tertanam kuat, seseorang akan lebih berhati-hati agar tidak menggunakan nama Allah untuk membenarkan sesuatu yang tidak benar.
Jangan Merasa Paling Suci, Jangan Pula Berbicara Tanpa Ilmu
Selain mengingatkan bahaya berdusta atas nama Allah, Buya Gusrizal juga mengajak umat untuk tidak mudah menganggap diri sendiri paling suci.
Pesan ini berkaitan erat dengan Surah An-Nisa ayat 49, yang mengecam orang-orang yang menganggap dirinya bersih dan suci.
Allah berfirman bahwa Dialah yang menyucikan siapa yang dikehendaki-Nya.
Manusia tetap berkewajiban memperbaiki diri, melaksanakan ibadah sesuai tuntunan, menjaga keikhlasan, serta menjauhi dosa. Namun, manusia tidak seharusnya memastikan dirinya pasti suci atau seluruh amalnya pasti diterima Allah.
Sikap yang benar adalah berusaha memenuhi syarat dan ketentuan ibadah, meluruskan niat, mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, kemudian berharap kepada Allah agar amal tersebut diterima.
Sikap ini menumbuhkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut kepada Allah.
Seseorang tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya, tetapi juga tidak boleh merasa aman dari pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Di sinilah kerendahan hati menjadi penting. Semakin seseorang memahami agama, semestinya semakin besar pula kehati-hatiannya dalam menilai diri sendiri maupun berbicara mengenai Allah.
Pada akhirnya, pesan utama kajian Buya Gusrizal mengajak umat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang hidup, bukan sekadar bacaan yang dilafalkan tanpa perenungan.
Surah An-Nisa ayat 50 mengingatkan bahwa kebohongan atas nama Allah merupakan dosa nyata. Karena itu, umat perlu belajar mengenali pola kebohongan, memeriksa dasar setiap klaim keagamaan, dan tidak mudah terpengaruh oleh penampilan yang meyakinkan.
Ilmu harus diperkuat, tabayun harus dibiasakan, fatwa harus dikeluarkan dengan tanggung jawab, dan kejujuran harus dijaga.
Sebab, menjaga agama bukan hanya tentang membela ajaran Islam ketika diserang. Menjaga agama juga berarti tidak membiarkan nama Allah digunakan untuk membenarkan sesuatu yang tidak pernah Dia tetapkan.
Jangan sampai kita begitu bersemangat berbicara atas nama Allah, tetapi lupa memastikan apakah yang kita sampaikan benar-benar memiliki dasar dalam ajaran-Nya.
Jika diperlukan, naskah ini juga bisa dikembangkan menjadi serial berita kajian Buya Gusrizal dengan fokus terpisah pada lima bentuk dusta atas nama Allah, enam langkah menangkal penyesatan agama, atau pesan tentang pentingnya keberanian mengatakan “tidak tahu”.

Pos terkait