MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ulama kharismatik dan inspiratif Ranah Minang, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, kembali menyita perhatian publik dalam kajian sirah nabawiyyah. Kali ini, Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu membedah situasi dan kondisi Arab sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Pesannya tegas: jangan pernah membayangkan masyarakat jahiliah sebagai komunitas terisolasi, primitif, dan tidak mengenal peradaban.
“Jangan dikatakan bahwa mereka adalah masyarakat yang terisolasi dari dunia luar. Bahkan kalau dibandingkan dengan kawasan kita saat ini, bisa dikatakan Makkah itu bagaikan Singapuranya Asia Tenggara,” ujar Buya Gusrizal.
Menurutnya, Makkah saat itu adalah daerah transit perdagangan yang sibuk. Impor dan ekspor berjalan, pasar-pasar hidup, dan mereka memiliki musim panjang untuk berinteraksi dengan masyarakat luar. Bahkan bulan haji—meski puncak ibadahnya hanya beberapa hari—dikenal sebagai bulan-bulan yang istimewa dan berlangsung selama tiga bulan: Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. “Al-hajju asyhurum ma’lumat. Haji itu bulan-bulan yang telah dimaklumi,” jelasnya.
Dari situ, Buya Gusrizal lantas menyinggung penetapan tarikh hijriah. Menurutnya, penanggalan Islam tidak muncul di masa Nabi, melainkan pada era Umar bin Khattab. Latarnya adalah surat Abu Musa al-Asy’ari yang mengeluh karena surat bertanggal “Syaban” tanpa tahun membuatnya bingung: Syaban tahun kapan? “Maka ditetapkanlah penanggalan. Setelah bermusyawarah, para sahabat sepakat memakai momentum hijrah, bukan tanggalnya,” paparnya. Sebab, Nabi meninggalkan Makkah pada 27 Safar, berdiam tiga malam di Gua Tsur, lalu bergerak ke Yatsrib pada 1 Rabiul Awal.
Namun, inti kajian Buya Gusrizal bukan sekadar sejarah penanggalan. Ia ingin membongkar karakter masyarakat jahiliah yang sering disalahpahami. “Jahiliah mereka itu bukan berarti tidak tahu. Mereka tahu nilai-nilai kebaikan, tetapi mengabaikannya. Mereka tahu yang benar, tapi tidak mengikuti kebenaran,” tegasnya.
Ia mengangkat kisah Abdul Muthalib saat menghadapi Abrahah. Ketika pasukan Abrahah merampas unta dan kambingnya, Abdul Muthalib justru memilih mengurus hartanya, bukan bernegosiasi soal Ka’bah. “Ammal bait falahu rabbun yahmi. Urusan Baitullah, ada Tuhannya yang menjaga. Sedangkan unta dan kambing, saya pemiliknya, saya yang bertanggung jawab,” tutur Buya mengutip jawaban Abdul Muthalib. Baginya, itu bukti bahwa sisa maklumat tauhid Nabi Ibrahim dan Ismail masih tersisa pada sebagian orang Quraisy.
Buya Gusrizal kemudian mengutip Imam Al-Hasan Al-Bashri yang menyebut ada tiga akar kejahatan: al-hirsu (kerakusan), al-hasadu (kedengkian), dan al-kibru (kesombongan). “Kalau kita teropong perilaku tokoh Quraisy yang menolak dakwah Nabi, tiga-tiganya ada,” ujarnya.
Kerakusan itu tampak ketika kaum Muslimin berhijrah. Rumah, lahan, dan harta mereka yang tertinggal di Makkah justru dirampas dan dijadikan modal dagang ke Syam. Inilah yang kemudian memicu ekspedisi mencegat kafilah Quraisy—yang berujung pada Perang Badar. Abu Sufyan sempat mengalihkan rute, tetapi Abu Jahal tetap membawa seribu pasukan maju meski kafilah sudah lolos. “Bagi Abu Jahal, yang penting menghabisi Muhammad. Kesombongan itulah yang menyeretnya ke Badar, dan di sana ia tewas,” jelas Buya.
Tidak berhenti di situ, Buya Gusrizal juga menyoroti sisi lain kejahiliahan: rusaknya nasab dan keturunan. Di masa itu, perzinaan dianggap biasa. Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan bahwa di masa jahiliah ada empat model pernikahan: satu seperti pernikahan sekarang, tiga lainnya penuh kehinaan—termasuk nikah istida, nikah bergilir sepuluh lelaki, dan nikah pelacur yang memasang bendera di pintu rumahnya. “Tiga model itu diharamkan Islam. Tinggallah nikah yang seperti sekarang,” ujarnya.
Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangga dengan kebersihan nasabnya. “Wulidu min nikah la min sifah. Saya terlahir dari pernikahan, bukan dari perzinaan,” kutip Buya. Dalam riwayat lain, Nabi menyebut, “Lam yusibni ‘ahrul jahiliah”—tidak tersentuh kehinaan jahiliah. Nasab beliau sampai Adnan disepakati ulama, dan bertemu dengan nasab ibunda Aminah binti Wahab pada Kilab.
Buya Gusrizal menegaskan, menjaga nasab adalah bagian dari hifzun nasl, salah satu dari lima kebutuhan pokok dalam syariat. Ia mengingatkan hadis Nabi: “Umat ini akan tetap berada dalam kebaikan selama tidak bertebaran anak zina di tengah mereka. Jika sudah meraja, hampir saatnya Allah meratakan azab.” Karena itu, ia mengajak umat serius menjaga pergaulan remaja, memperkuat rumah tangga, dan tidak mengabaikan anak-anak korban broken home yang mudah dijangkau narkoba, pergaulan bebas, hingga perilaku menyimpang.
Di akhir kajian, Buya Gusrizal juga mengkritik gaya beragama yang hanya sibuk dengan festival dan seremonial. Ia menyayangkan acara keagamaan seperti MTQ, maulid, atau halal bihalal yang dicampur dengan artis dangdut, organ tunggal, dan joget-joget. “Jangan cukupkan beragama dengan festival dan seremonial. Kalau syiar agama dicampur dengan hal yang tidak sesuai, itu merusak nilai yang ingin kita tanamkan,” tegasnya.
Baginya, dakwah harus benar-benar efektif dan para dai perlu berani bermuhasabah. “Kalau dakwah efektif, tingkat kemaksiatan menurun. Jangan hanya mencari alasan. Harus ada terobosan dakwah,” pungkas Buya.
Kajian ini menjadi pengingat: jahiliah bukan sekadar masa gelap tanpa peradaban, tetapi kondisi ketika manusia tahu kebenaran lalu menolaknya. Dan menjaga nasab, keluarga, serta kehormatan adalah bagian dari perjuangan besar Islam yang tidak boleh diremehkan.







