Buya Gusrizal Gazahar Buka Tabir Hikmah di Balik “Musuh dalam Selimut”: Ini Kunci Agar Tak Terjebak

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Kajian tafsir di Surau Buya Gusrizal Gazahar, Sabtu (18/7), mengupas tuntas tentang hakikat musuh, pentingnya kewaspadaan, dan bagaimana memaknai pertolongan Allah dalam kehidupan.

Ulama kharismatik Ranah Minang yang kini menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag., membuka tabir hikmah di balik dinamika kehidupan dalam Kajian Tafsir rutin di Surau Buya Gusrizal Gazahar, Bukittinggi, Minggu (19/7). Dalam tausiyahnya, Buya Gusrizal mengajak jamaah untuk menyelami makna ayat tentang musuh dan pertolongan Allah, mengingatkan bahwa kehidupan tak lepas dari suka dan duka, serta pentingnya memilih teman yang membawa kebaikan.

“Ridha Semua Orang” adalah Tujuan yang Tak Akan Terjangkau

Mengawali kajian, Buya Gusrizal menegaskan bahwa kehidupan dunia sudah menjadi sunatullah untuk dipenuhi perbedaan. Sikap dan perilaku manusia pun beragam, sehingga suka dan benci adalah dua hal yang tak terpisahkan . Karena itu, beliau mengingatkan sebuah ungkapan makruf: Ridha seluruh orang adalah tujuan yang tidak akan tercapai.

“Karena itu kita harus siap mental berhadapan dengan kesukaan dan ketidaksukaan. Namun yang penting adalah alasan di baliknya. Jika kebencian datang karena kita di jalan yang hak, itulah ujian untuk istiqomah. Jika karena kebatilan, itulah dorongan untuk bertaubat,” jelas Buya dengan tegas.

Musuh Tak Selalu Tampak: Waspada “Musuh dalam Selimut”

Lebih lanjut, Buya Gusrizal menjelaskan bahwa musuh dalam kehidupan nyata ada dua macam. Pertama, mereka yang berterang-terangan menunjukkan permusuhan. Kedua, mereka yang tampak bersahabat namun menyembunyikan kebencian . “Jangan sampai kita paranoid, tapi kewaspadaan harus selalu ada,” pesannya.

Beliau mengingatkan agar kita tidak mudah melabuhkan kepercayaan dan tidak pula mudah memunculkan permusuhan. Kearifan dalam memilih teman menjadi kunci. “Seorang mukmin menjalin kedekatan dengan ukuran nilai, bukan hanya perasaan. Pertemanan yang menggoyang iman adalah fitnah,” tegasnya, merujuk pada surat Al-Anfal ayat 28 tentang harta dan anak yang bisa menjadi fitnah .

Tiga Kunci Meraih Pertolongan Allah

Mengupas lanjutan ayat, Buya Gusrizal menyoroti makna “Wa kafa billahi waliya wa kafa billahi nasira” (cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong). Beliau menjelaskan bahwa wilayah (kekuasaan) Allah tidak terbatas, berbeda dengan kekuasaan makhluk yang penuh batasan .

Namun, untuk mendapatkan pertolongan-Nya, ada tiga tuntunan yang harus dipegang teguh:

1. Keyakinan yang Kuat: Yakin bahwa pertolongan (nasr) hanya dari Allah. Kemenangan (fath) akan dekat jika keyakinan ini tertanam.
2. Perkokoh Keimanan: Pertolongan Allah diberikan kepada orang-orang beriman. Maka, perbaiki dan kokohkan iman.
3. Jalin Persatuan: Pertolongan Allah juga datang melalui orang-orang beriman yang bersatu. “Kokohkan kebersamaan,” seru Buya, mengingatkan pentingnya persatuan umat, seperti yang sedang digalakkan menjelang konferensi umat Islam Indonesia.

Ibadah di Tengah Tantangan Zaman

Di akhir kajian, Buya mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam permusuhan yang menghabiskan energi. Beliau menyoroti fenomena mudahnya masyarakat diadu domba dan teralihkan perhatiannya oleh isu-isu kecil. “Terlalu mudah dialihkan perhatiannya,” ujarnya.

Beliau juga menyinggung pentingnya pemimpin yang adil, berilmu, dan memiliki fisik serta psikis yang kuat untuk memikul amanah, merujuk pada kisah kepemimpinan Thalut dalam Al-Qur’an .

Buya Gusrizal Gazahar, yang dikenal dengan program “Babaliak Basurau” (kembali ke surau), konsisten mengajak umat untuk kembali ke akar dan menjadikan nilai-nilai syariat sebagai pedoman . Kajian rutin ini menjadi salah satu bukti nyata dedikasinya dalam membimbing umat.

Kajian ditutup dengan doa dan renungan bersama, berharap umat mampu menjadi pribadi yang bijak dalam menyikapi perbedaan dan kokoh dalam meraih pertolongan Allah.

Related posts