Dari Padang Panjang, Anak-Anak Ini Tembus 18 Universitas Dunia—Rahasianya Bukan Gedung Mewah

Oleh: Dr. Derliana, MA, Mudir Pesantren Internasional KAUMAN Muhammadiyah Padang Panjang, Sumatera Barat

Ada satu pertanyaan yang selalu menghantui saya setiap kali melihat foto-foto wisuda di luar negeri: Apa yang membuat seorang anak dari Padang Panjang bisa berdiri di kampus-kampus dunia, sementara ribuan anak lain dengan kecerdasan sama tidak pernah sampai ke sana?

Jawabannya, saya yakini, bukan soal gedung. Bukan soal jumlah siswa. Bukan pula soal tumpukan piala di lemari kaca kepala sekolah.

Jawabannya adalah jejaring.

Ketika “Unggul” Tidak Lagi Cukup

Selama puluhan tahun, kita mengukur keunggulan sekolah dengan ukuran yang itu-itu saja: bangunan megah, siswa membludak, dan prestasi nasional yang dibanggakan di papan pengumuman. Semua itu bagus. Tapi jujur saja—di era ketika seorang anak di desa bisa belajar dari profesor MIT lewat YouTube, ukuran-ukuran lama itu mulai terasa usang.

Saya merenung panjang tentang ini setelah mengikuti Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 di Depok, Jawa Barat, akhir September lalu. Di forum yang mempertemukan sekitar 520 kepala sekolah dan penggerak pendidikan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia itu, satu pesan besar menggema: berhenti merasa cukup hanya karena sudah unggul di dalam negeri.

Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., memberi kami tiga kata yang terus terngiang: luas, luwes, adaptif. Luas dalam wawasan. Luwes dalam sikap. Adaptif dalam menghadapi zaman yang berubah lebih cepat dari kemampuan kita menulis kurikulum.

Tapi ada satu kalimat beliau yang benar-benar menusuk: Kepala sekolah jangan sibuk mengurus administrasi sampai lupa keluar dan bertemu dunia.

MoU Itu Baru Kertas. Yang Penting adalah Movement of Opportunity

Saya sering ditanya, “Berapa MoU internasional yang sudah KAUMAN punya?”

Pertanyaan itu selalu membuat saya tersenyum. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya, tapi karena saya tahu pertanyaan itu tidak tepat.

MoU tanpa dampak hanyalah kertas berhias tanda tangan. Yang menentukan bukan berapa banyak dokumen kerja sama yang tersimpan di lemari, tapi berapa banyak anak yang benar-benar merasakan manfaatnya.

Jejaring global yang sejati adalah ketika seorang santri bisa berdiskusi dengan siswa di Malaysia lewat layar, ketika guru kita belajar metode baru dari pendidik di Jerman, ketika seorang anak mendapat beasiswa ke Mesir karena dosen yang mengenalnya dari sebuah proyek kolaborasi daring.

Saya menyebutnya Movement of Opportunity—gerakan peluang. Bukan arsip, tapi arus.

Bahasa: Pintu yang Sering Kita Lupakan Kuncinya

Ini bagian yang membuat saya sering gelisah.

Kita boleh bangga punya program internasional. Kita boleh mengundang tamu dari berbagai negara. Kita boleh menandatangani kerja sama dengan universitas luar negeri. Tapi kalau guru dan murid kita tidak bisa berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa asing—semua itu akan berhenti di dokumen.

Bahasa bukan pelajaran tambahan. Bahasa adalah tiket masuk ke dunia.

Di KAUMAN, kami memutuskan untuk tidak lagi memperlakukan bahasa asing sebagai mata pelajaran yang diuji lalu dilupakan. Bahasa Arab dan Inggris kami jadikan bahasa keseharian—bahasa untuk bercanda di kantin, bahasa untuk berdebat di kelas, bahasa untuk menulis surat kepada teman di negara lain.

Kauman Language Centre dan MIAH kami beri mandat penuh untuk memastikan ini bukan sekadar wacana. Kami juga membuka kelas Bahasa Jerman, Jepang, dan Mandarin sebagai jalur pilihan—karena masa depan anak-anak kita tidak hanya berwarna biru dan hijau.

Target kami sederhana tapi ambisius: bukan anak yang bisa menjawab soal bahasa, tapi anak yang bisa hidup dalam bahasa itu.

Digitalisasi: Bukan Soal Komputer, Tapi Soal Jarak

Saya ingat betul momen 17 Agustus 2026, ketika kami meluncurkan Digital Ecosystem KAUMAN. Ada yang bertanya, “Apa istimewanya? Kan sekarang semua sekolah punya komputer.”

Pertanyaan itu justru mengingatkan saya pada kesalahpahaman terbesar tentang digitalisasi.

Digitalisasi bukan tentang memiliki teknologi. Digitalisasi adalah tentang memperpendek jarak.

Dulu, menjalin kerja sama dengan universitas di Timur Tengah butuh perjalanan berhari-hari dan biaya puluhan juta. Hari ini, seorang santri di Padang Panjang bisa mengikuti kuliah tamu dari Kairo, berdiskusi dengan siswa Korea, atau mengerjakan proyek bersama teman-temannya di Australia—semuanya dalam hitungan detik.

Website berbahasa internasional, learning management system, portofolio digital, e-library, dashboard mutu—semua itu bukan pajangan. Itu jembatan.

Dan jembatan itu, insyaAllah, akan membawa anak-anak kami menyeberang ke masa depan yang dulu hanya bisa mereka impikan.

Dari 18 Universitas Dunia: Sebuah Janji yang Harus Ditepati

Saya akan jujur. Ketika kami mencatat bahwa lulusan KAUMAN telah diterima di 18 universitas luar negeri di 14 negara, ada rasa syukur yang luar biasa. Tapi juga ada rasa takut.

Takut karena angka itu bisa membuat kami berhenti. Takut karena prestasi bisa berubah menjadi kesombongan. Takut karena keberhasilan sebagian anak bisa membuat kami lupa pada anak-anak lainnya.

Internasionalisasi bukan tentang membuat sekolah terlihat internasional. Internasionalisasi adalah tentang membuat setiap anak benar-benar memiliki masa depan internasional.

Kalau hari ini baru sebagian santri yang merasakan program luar negeri, maka besok harus lebih banyak. Kalau hari ini baru satu anak yang tembus ke universitas dunia, maka tahun depan harus sepuluh. Tahun berikutnya, seratus.

Ini bukan mimpi. Ini kerja.

—

Sepuluh Langkah yang Kami Tempuh

Perjalanan KAUMAN menuju global excellence tidak berjalan sendiri. Kami membangunnya di atas sepuluh pilar:

Pertama, tata kelola modern yang profesional, terdigitalisasi, dan berbasis data—dengan SOP, indikator kinerja, dan standar layanan yang bisa dibandingkan dengan institusi global.

Kedua, SDM berdaya saing internasional. Guru kami didorong untuk terus belajar—bukan hanya mengajar. Sertifikasi, riset, publikasi, dan pengalaman berkolaborasi dengan pendidik dari negara lain menjadi bagian dari budaya kerja.

Ketiga, prestasi global. Santri kami harus berani masuk ke kompetisi internasional—bukan hanya tahfiz dan sains, tapi juga robotik, seni, olahraga, dan inovasi.

Keempat, ekosistem bahasa yang hidup. Target kami terukur: TOEFL, IELTS, TOAFL, SAT—sesuai jalur yang dipilih setiap anak.

Kelima, digitalisasi dan smart education yang menyentuh seluruh lini—dari administrasi hingga komunikasi dengan orang tua.

Keenam, Global Student Pathway. Setiap santri dipetakan sejak awal: siapa yang diarahkan ke Timur Tengah, siapa ke Eropa, siapa ke Asia, siapa ke universitas dalam negeri unggulan. Bahasa, akademik, portofolio, dan pendampingan disiapkan sesuai peta itu.

Ketujuh, kemitraan internasional yang produktif—bukan sekadar banyak MoU, tapi hadirnya student exchange, guest teacher, joint project, riset kolaboratif, hingga jalur penerimaan universitas.

Kedelapan, budaya mutu yang berkelanjutan. Semua program masuk ke dalam sistem perencanaan, monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut. Perubahan tidak boleh bergantung pada satu figur.

Kesembilan, branding dan visibilitas internasional. Prestasi kami komunikasikan secara profesional—melalui website, publikasi bilingual, konferensi, dan jejaring pendidikan.

Kesepuluh, identitas Islam dan Kemuhammadiyahan yang semakin kuat. Menjadi global tidak berarti kehilangan jati diri. Justru santri harus hadir ke dunia dengan Al-Qur’an, Sunnah, adab, kepemimpinan, dan nilai Islam Berkemajuan sebagai fondasi.

Growth Mindset: Obat agar Tidak Cepat Puas

Di Rakornas itu, Prof. Djohan Yoga berbicara tentang Leading with Growth Mindset. Ada empat karakter yang beliau tekankan: integrity, humility, accountability, courage.

Saya pulang dengan satu kesadaran: bahaya terbesar sekolah unggul bukanlah kegagalan, melainkan kesuksesan yang membuatnya berhenti belajar.

Ketika satu anak diterima di luar negeri, tanyakan: bagaimana sepuluh anak berikutnya? Ketika satu MoU berhasil dibuat, tanyakan: program konkret apa yang lahir darinya? Ketika predikat “Sekolah Unggul Muhammadiyah Pratama” diraih, tanyakan: apa langkah berikutnya?

Karena sekolah unggul tidak boleh cepat puas. Sekolah unggul adalah sekolah yang selalu merasa belum selesai.

Dari Padang Panjang Menuju Dunia

Rakornas kali ini memberi saya pengalaman istimewa. Selain mengikuti rangkaian kegiatan sebagai peserta, saya mendapat kepercayaan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk berbagi best practice dalam sesi “Strategi Penguatan Mutu Pembelajaran melalui Program Internasional” pada 29 September 2026.

Saya bercerita tentang perjalanan KAUMAN—tentang bagaimana sebuah pesantren dari Padang Panjang berikhtiar membuka akses dunia bagi santrinya. Tentang program di Malaysia, Daurah Bahasa Arab di Makkah–Madinah–Qatar, English Camp Malaysia–Thailand, student exchange, dan kehadiran guest teachers dari berbagai negara.

Tapi saya juga bercerita tentang pekerjaan rumah yang masih panjang. Tentang target yang belum tercapai. Tentang anak-anak yang belum merasakan kesempatan itu.

Predikat Sekolah Unggul Muhammadiyah Pratama yang kini diperoleh tingkat Madrasah Aliyah (MA) KM bukanlah garis akhir. Itu adalah titik berangkat.

—

Penutup: Menghubungkan Anak-Anak dengan Masa Depan Mereka

Pada akhirnya, saya ingin mengembalikan semuanya pada satu pertanyaan sederhana: Untuk apa semua ini?

Jawabannya bukan untuk prestise sekolah. Bukan untuk papan nama. Bukan untuk laporan tahunan.

Semua ini untuk seorang anak yang duduk di bangku kelas, yang mungkin belum tahu bahwa ada dunia luas di luar sana—dunia yang bisa ia jelajahi jika kita membukakan pintunya.

Jejaring global pada hakikatnya bukan tentang menghubungkan sekolah dengan sekolah. Jejaring global adalah tentang menghubungkan anak-anak kita dengan masa depan mereka.

Dan bagi KAUMAN, transformasi itu harus terus bergerak—tanpa henti, tanpa cepat puas:

Dari Padang Panjang menuju dunia.
Dari sekolah unggul menuju global excellence. Wallahu a’lam bish-shawab.

Pos terkait