MINANANGKABAUNEWS.com, PADANG — Setelah perjuangan panjang menjalankan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci, jemaah haji Kloter 2 Embarkasi Padang akhirnya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kamis (4/6/2026) malam. Namun, kepulangan mereka harus melewati ujian ekstra berupa penundaan penerbangan selama 4 jam 29 menit.
Pesawat Garuda Indonesia tipe B-777 dengan nomor penerbangan GA 3802 semula dijadwalkan tiba pukul 23.10 WIB. Namun, baru benar-benar mendarat pada Jumat dini hari pukul 03.19 WIB. Meski lelah, para jemaah tetap tampak khidmat dan bersyukur karena akhirnya bisa kembali ke kampung halaman.
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Padang melaporkan, jemaah kloter kedua itu langsung diterbangkan ke Provinsi Bengkulu pada pukul 04.10 WIB dini hari. Total jemaah kloter ini sebanyak 393 orang, terdiri atas 171 pria dan 222 wanita. Dari jumlah itu, 120 orang di antaranya merupakan jemaah lansia berusia di atas 65 tahun.
Menariknya, dalam kloter ini terdapat jemaah termuda bernama Muhammad Ariz Rizqilah, usia 22 tahun asal Kota Bengkulu, serta jemaah tertua Paimin Tumiyem Kertotaruno, 81 tahun asal Kabupaten Kepahiang.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat, Dr. H. M Rifki, menyampaikan laporan secara resmi. Ia mengungkapkan, secara keseluruhan jemaah Embarkasi Padang tahun 1447 H/2026 M berjumlah 5.374 orang, terdiri dari 3.989 jemaah asal Sumatera Barat dan 1.354 jemaah asal Bengkulu.
Namun, kabar duka juga menyelimuti. Hingga 4 Juni 2026, tercatat 7 jemaah Embarkasi Padang yang wafat di Tanah Suci. Dua orang di antaranya berasal dari Provinsi Bengkulu, dan lima lainnya dari Sumatera Barat. Mereka telah dimakamkan di Baqi dan Syaraya.
Saat ini, masih ada 4.591 jemaah dan petugas haji Embarkasi Padang yang belum pulang, dengan rincian 1.850 pria dan 2.741 wanita.
“Kami ucapkan terima kasih atas doa dan dukungan semua pihak. Semoga jemaah yang masih di Tanah Suci diberikan kesehatan dan segera bertemu keluarga,” tutup Dr. H. M. Rifki, M.Ag dalam laporannya.






