MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Suasana Aula AR Sutan Mansur, Jumat (12/6/2026) sore itu, benar-benar berbeda. Bukan hening bacaan kitab, melainkan riuh tepuk tangan dan tabuhan tambua Minang yang menggelegar. Ratusan santri, asatidz, dan civitas akademika berkumpul dalam satu semangat: menyaksikan pesta seni terbesar di lingkungan Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah.
Ya, Kauman Art & Culture 2026 baru saja dimulai. Dan sejak detik pertama, semua yang hadir langsung tersedot ke dalam gelombang kreativitas tanpa batas.
Acara tahunan yang pas digelar di penghujung semester genap ini diikuti seluruh santri kelas VII, VIII, X, dan XI. Bedanya, tahun ini panitia mengusung tema visioner: “One Stage, Infinite Expression” —Satu Panggung, Ekspresi Tanpa Batas. Bukan sekadar unjuk bakat, ini juga jadi penilaian autentik pelajaran Seni Budaya. Tapi rasanya, siapa yang peduli nilai ketika semua mata berkaca-kaca karena haru?
Mula-mula, aula sunyi saat layar menampilkan film pendek karya santri. Sinematografinya waras sekali, sampai beberapa asatidz mengangguk-angguk takjub. Tapi kebisuan itu segera pecah saat grand opening dimulai. Tabuhan Tambua khas Minangkabau membahana, energik, membakar semangat. Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai santri memenuhi setiap sudut ruangan.
Setelah sambutan hangat, sang Mudir, Dr. Derliana, M.A., resmi membuka acara. Namun, ada yang berbeda dari pidatonya kali ini. Beliau tak sekadar berterima kasih. Dengan suara bergetar penuh haru, beliau berkata:
“Alhamdulillah… Hari ini kita menyaksikan mahakarya anak-anak kita. ‘One Stage, Infinite Expression’ bukan slogan. Panggung ini adalah ruang merdeka bagi kalian untuk bersyukur atas potensi terbaik dari Allah SWT.”
Dan kemudian beliau menambahkan kalimat yang membuat semua tersenyum bangga: “Apa yang kita lihat hari ini adalah bukti bahwa pesantren itu dinamis, kreatif, dan tidak membosankan!”
Puncaknya, gunting mengitari pita merah. Tandanya, pameran dan panggung seni resmi dibuka.
Dr. Derliana dan rombongan lantas menyusuri stan-stan. Satu per satu, decak kagum keluar tak tertahankan. Batik karya santri? Ada. Eco printing dengan motif dedaunan yang rapi? Ada. Lukisan estetis yang warnanya hidup? Jelas ada. Namun satu hal yang paling mencuri perhatian: kerajinan tangan dari limbah plastik. Botol bekas dan bungkus kemasan disulap jadi dompet, tas, bahkan hiasan dinding bernilai guna tinggi.
“Ini luar biasa. Santri kita tidak hanya kreatif, tapi juga peduli lingkungan,” puji Dr. Derliana sambil memegang sebuah gantungan kunci dari sedotan plastik daur ulang.
Sementara pameran ramai dikunjungi, panggung utama tak kalah seru. Satu per satu perwakilan kelas tampil. Ada monolog yang bikin penonton merinding, musikalisasi puisi yang harmonis banget, drama yang bikin ngakak sekaligus nangis, dan pembacaan puisi yang menusuk kalbu.
Tapi semuanya masih jadi ‘pemanasan’.
Sebab, kemeriahan mencapai klimaks di penghujung acara. Seorang santriwati bernama Meisya Sri Mulyani melangkah ke tengah panggung. Tanpa backsound. Tanpa efek dramatis. Hanya suaranya, gerak tubuhnya, dan puisinya.
Dan Meisya meledak.
Suaranya menggelegar. Artikulasinya tajam. Setiap bait seolah merobek ruang dan waktu. Saking dalamnya penghayatan, para santri yang semula rebahan di karpet mulai duduk tegak. Beberapa asatidz terlihat menyeka sudut mata. Begitu puisi selesai, untuk beberapa detik, aula sunyi. Lalu… BRUAK! Seluruh penonton berdiri. Standing ovation bergemuruh lama, tak mau berhenti. Meisya hanya tersenyum malu sambil membungkuk berkali-kali.
Panggung Kauman 2026 usai sudah. Tapi getirnya masih terasa. Para santri pulang ke asrama dengan dada membusung, membawa lebih dari sekadar nilai rapor. Mereka membawa bukti: bahwa santri masa kini bisa kokoh dalam iman, unggul akademik, dan punya jiwa seni yang halus. Mereka juga bisa mengolah limbah, berkarya, dan membuat orang dewasa terharu di hari Jumat sore.
Selamat liburan, para seniman pesantren. Kreasimu adalah panggung tanpa batas. Dan kamu baru saja mengguncang dunia. (TR)






