MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ribuan pasang mata tampak basah di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat, Rabu pagi (27/5). Bukan karena duka, melainkan karena tersentak oleh kebenaran yang jarang diucapkan di atas mimbar. Usai salat Idul Adha, Rektor Universitas Madani (UMAD), Prof. Dr. M. Wil Jandra, M.Ag, berdiri dengan tenang, lalu memulai khutbahnya dengan sebuah pengakuan yang membuat semua jemaah terdiam.
“Manusia hanyalah makhluk kecil di hadapan Allah. Bumi yang kita pijak ini tidak lebih dari setitik debu jika dibandingkan dengan luasnya langit,” ujarnya perlahan. “Itulah makna Allahu Akbar. Karena itu, mari kita minta ampun dari seluruh dosa. Karena tidak ada satu pun dari kita yang suci.”
Dari renungan tentang kebesaran Tuhan, beliau beralih ke kabar gembira yang membuat wajah-wajah mulai berseri. “Allah akan mempermudah urusan orang yang rajin bersedekah. Jangan takut miskin karena memberi. Rezeki yang paling sempurna bukanlah harta, melainkan ridha Allah. Dan tahukah Anda?” beliau tersenyum. “Anak yang saleh juga adalah rezeki. Bahkan rezeki terindah yang tidak bisa dinilai dengan uang.”
Jemaah mengangguk-angguk. Seorang ibu di barisan depan terlihat menyeka air mata.
Namun khutbah itu belum selesai. Prof. Wil kemudian membuka lembaran sejarah yang paling fenomenal dalam peradaban manusia: kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Dengan suara yang naik turun mengikuti alur cerita, beliau menggambarkan bagaimana seorang ayah diperintahkan menyembelih putra yang sangat dicintainya.
“Ismail kecil berkata, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’ Bayangkan, seorang anak seusia itu sudah sehebat itu imannya,” tutur Rektor UMA dengan mata berkaca-kaca.
Ratusan jemaah tak kuasa menahan haru. Tangis terdengar dari berbagai sudut masjid. “Dan Allah menggantinya dengan domba. Itulah asal-usul qurban. Bukan daging dan darah yang Allah minta, melainkan ketakwaan dan kerelaan berkorban,” tambahnya.
Lalu, di tengah suasana yang sudah sangat haru, tiba-tiba nada suara Prof. Wil berubah menjadi lebih serius. Sorot matanya tajam menembus barisan jemaah.
“Saya tidak bisa menutup mata,” ucapnya lirih tapi tegas. “Di tengah semarak ibadah dan takbir, saya terpaksa mengatakan ini karena cinta. Tingginya angka LGBT di Sumatera Barat adalah darurat moral. Ini bukan untuk menebar kebencian, tapi ini fakta yang harus kita hadapi sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai masyarakat.”
Beliau tidak menyebut angka, tapi getaran suaranya cukup membuat seluruh masjid membisu. Seorang bapak di barisan belakang menunduk dalam-dalam.
“Jangan sibuk dengan qurban kambing, lalu lupa berqurban dengan waktu dan perhatian untuk anak-anak kita. Anak saleh adalah rezeki termahal. Mari selamatkan generasi sebelum semuanya terlambat,” pesannya.
Ribuan jemaah terdiam. Banyak yang mengusap dada, lalu menggenggam erat tangan putra-putri mereka. Dalam hening itu, tersirat tekad: bahwa ibadah tak cukup hanya dengan sembelihan, tapi dengan menjaga fitrah keturunan dari segala bentuk penyimpangan.
Khutbah pun ditutup dengan doa yang panjang. Setelah salam, takbir kembali menggema—kali ini lebih keras, lebih dalam, seperti tekad baru yang lahir dari kesadaran yang terlambat tapi tak pernah sia-sia.
“Jadikan Idul Adha ini titik balik. Bukan hanya menyembelih hewan, tapi menyembelih ego, menyembelih kelalaian, dan menyembelih sifat cuek terhadap moral generasi penerus,” pungkas Prof. Wil Jandra usai turun dari mimbar.
Jemaah pulang dengan hati yang basah, penuh renungan, dan sebuah pertanyaan yang menggantung di benak masing-masing: Sudahkah aku cukup berqurban untuk anak dan keluargaku?






