MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Di sebuah aula megah Hotel Grand Aulia, Padang Panjang, tangis haru dan bangga bercampur menjadi satu. Hari itu, Senin (21/5/2026), 141 santri Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang resmi mengukir sejarah pribadi. Mereka bukan sekadar lulus, tetapi juga “menjaga Al-Qur’an di dada” dan siap mengharumkan nama almamater di mana pun kaki melangkah.
Pagi harinya, jalan menuju hotel sudah ramai oleh gemuruh marching band yang dibawakan penuh semangat oleh para santri. Iringan suara drumband menyambut para tamu undangan, seolah menjadi pertanda bahwa hari itu bukanlah perayaan biasa, melainkan pesta peradaban akhlak.
Acara dimulai khidmat. Mudir Pesantren mengucap syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang bekerja keras. Namun, di tengah sambutannya, suasana mendadak berubah hening. Sebuah kabar duka masih membekas di hati semua: Afdhalu Zikri, seorang santri terbaik, telah berpulang ke Rahmatullah. Doa pun dipanjatkan bersama, dan aula sejenak menjadi sunyi yang penuh makna.
Kemudian, giliran Bapak Suarman, Kasi Penmad yang mewakili Kepala Kemenag Padang Panjang, memberikan pesan orang tua. “Jaga akhlak, jaga sikap, dan jaga nama besar pesantren ini,” pesannya lantang tapi lembut. Tapi suasana benar-benar berubah menjadi masterpiece ketika Hendri Novigator dari PWM Sumatera Barat naik. Setiap kata taujihnya menusuk kalbu. Seluruh hadirin terdiam, terhipnotis oleh untaian nasihat yang menggetarkan.
Puncaknya tiba. Ummi Fitri dan Ustadz Balad mulai membacakan Surat Keputusan wisudawan. Dari 141 santri yang diwisuda, perhatian tertuju pada lima orang yang mencapai puncak hafalan: 30 Juz Al-Qur’an. Mereka adalah M. Aqli Sairud, Farras Kamila Tsabit, Mayanggi Sephira, Tazkiya Balqis, dan Azizi Arif. Satu per satu dipanggil, dan setiap nama disambut gemuruh tepuk tangan. Apalagi saat diumumkan bahwa masing-masing mendapat reward uang tunai Rp3.000.000—buah manis dari perjuangan panjang menghafal kalam Ilahi.
Tapi masih ada dua kejutan lain. Gelar Hafiz Terbaik jatuh kepada Firzana Hafidza. Ketepatan dan kelancaran hafalannya disebut luar biasa. Sementara di kategori hadits, Facrul Hamdi Medha dinobatkan sebagai Santri Terbaik Hafalan Hadits Mi’ah Bukhari. Dua nama yang langsung menjadi kiblat kebanggaan bagi santri lainnya.
Namun, momen paling emosional justru datang di penghujung acara. Seratus empat puluh satu santri naik ke panggung. Mereka menyanyikan lagu Ruang Baru. Suara mereka syahdu, mata mereka basah, dan sebelum lagu usai, air mata pun tumpah. Orang tua menangis di kursi. Para guru menyeka pelupuk mata. Tamu undangan tak kuasa menahan haru.
Itulah pesan terakhir dari 141 santri: perpisahan bukanlah akhir, melainkan ruang baru untuk menyebarkan akhlak mulia ke seluruh penjuru dunia. Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah sukses mencetak generasi penghafal Qur’an dan hadits yang siap bersinar. (TR)






