MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Sebuah kasus mencengangkan mengguncang kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat. Seorang tukang rujak yang ramah, akrab dengan kegiatan keagamaan, dan dikenal sebagai tetangga baik-baik, ternyata menyimpan rahasia bejat. Pelaku, pria berusia 50 tahun ini, tega mencabuli seorang siswi SD yang masih polos. Yang lebih mengerikan, aksi kejinya sudah berlangsung selama empat tahun lamanya—tanpa sepengetahuan orang tua korban!
Semuanya berawal dari “kebaikan” palsu. Pelaku sengaja membangun kedekatan dengan korban sejak gadis kecil itu masih berusia lima tahun. Sebagai tetangga, ia sering dititipi korban oleh orang tuanya yang bekerja hingga larut malam. “Korban percaya karena sudah kenal lama. Pelaku juga pinter, sering kasih uang Rp5 ribu sampai Rp10 ribu plus jajanan,” ungkap Kompol Nunu Suparmi, Kasat Reskrim PPA-PPO Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (19/5).
Kepercayaan itu kemudian ia manfaatkan untuk melancarkan aksi bejatnya. Mulai tahun 2022 hingga Maret 2026, pelaku mengulangi perbuatannya setidaknya empat kali di berbagai lokasi berbeda. Namun, korban yang masih anak-anak takut berbicara. Selama bertahun-tahun, rahasia itu dipendam sendirian. Orang tua korban sama sekali tak curiga.
Barulah pada 12 Mei 2026, peluit panjang berbunyi. Seorang teman korban mengetahui kejadian itu dan nekat melapor ke guru berinisial D. Sang guru pun gerak cepat. Ibu korban, S, yang baru tahu anaknya menjadi korban langsung melapor ke Polres Metro Jakarta Barat.
Seperti bom meledak, kemarahan warga pun tak terbendung. Rabu malam, 13 Mei 2026, puluhan warga menggeruduk rumah pelaku di Jalan Guji Baru, RT 05/RW 02, Duri Kepa. Mereka kesal, bahkan nyaris mengamuk saat polisi mengamankan pria paruh baya itu. Video aksi geruduk warga sontak viral di media sosial.
Ketua lingkungan setempat, Asarkat, membenarkan bahwa kasus ini awalnya diketahui dari pihak sekolah. “Sekolah sudah melakukan pendalaman, lalu menyarankan orang tua korban lapor polisi. Keluarga korban juga sudah membawa anaknya untuk visum, tapi hasilnya belum kami ketahui,” ujarnya.
Kini, tukang rujak yang dulu akrab disapa warga itu harus berurusan dengan jeruji besi. Polisi pun masih mendalami apakah ada korban lain di balik modus “kedekatan dan imbalan jajan” yang licik ini.






